Rabu, 19 November 2014

Ada Apa Dengan Kumbang

Remaja kampung Tilap sering berkumpul di pinggir jalan raya sambil mengobrol. Ada yang berniat menunggu azan magrib, namun ada juga yang hanya sekedar bercengkrama. Izzy dan Ucup juga ikut berkumpul di sana, dua sekawan yang selalu bertentangan.

“Ah, sial! Hang lagi nih hape!” gerutu Izzy yang sedang duduk di atas motornya. Dia memukul-mukul hapenya, berharap bisa kembali normal.


“Kamu ini, sedikit-sedikit ngomel, sedikit-sedikit ngomel. Cengeng banget sih! Di-restart juga pasti bakal bagus lagi,” sambil memaki, Ucup memberi saran.

“Nah, itu dia. Ribet harus restart lagi!”

“Lantas? Tuh liat,” Ucup menunjuk bocah pemulung. “Mending kamu kayak dia aja, gak punya hape, gak ribet. Kamu ini kapan sih bersukurnya? Shalat juga hari jumat aja, parah...”

Izzy mengambil kacang kulit cap Bunny-bunny dari tas kecilnya, sambil membuka bungkus kacang dia berkata, “Hah? Sukur? Kalo aku dapat mobil, baru aku bersukur! Haha...”

“Huu, dasar!” Ucup memukul pelan bahu Izzy, lalu mengambil beberapa kacang, “Eh, apa nih, Zy?”

“Sini, sini liat,” Izzy mengambil kertas yang ikut terambil oleh Ucup dari bungkus kacang kulitnya. Izzy membaca tulisan yang tertera di sana, “Selamat Anda mendapatkan satu unit mobil Beneran...”

“Alhamdulillah... akhirnya temenku salat juga...” Ucup mengusap wajahnya sendiri dengan kedua tangan.

“Apaan? Inikan emang keberuntunganku.”

“Ah, curang kamu, Zy!” protes Ucup.

“Biar aja, wek!”

-o0o-

“Apakah untuk bersukur kamu perlu sebuah alasan yang sangat besar terlebih dahulu? Perhatikanlah kumbang pohon!!”

“Hah!? Apa itu tadi?” pekik Izzy yang tiba-tiba terbangun dari tidur dan mimpi buruknya. Terbangun oleh kalimat aneh yang terdengar sangat berwibawa.

“Eh, ini kok...?” Izzy yang dalam posisi telentang, tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Sampai terengah bahkan keringat membasahi tubuhnya, dia tetap tidak bisa bangun. Izzy mulai terisak, “Ini apa sih?”
Izzy mencoba menafsirkan kalimat terakhir yang dia dengar dalam mimpinya. Merasa masih belum dapat titik terang, Izzy teringat dengan Ucup.

“Ucup. Aku harus menghubungi Ucup.”
Hape yang tergeletak di meja samping tempat tidur berusaha untuk Izzy raih. PLUK! Hape itu terjatuh.

“MAMAAA!!”

“Izzy, kenapa sih teriak-teriak?” mama membuka pintu kamar Izzy.

“AAAAA!” ibu dan anak itu saling menjerit.

“Mama kenapa jadi kumbang pohon begitu?” pekik Izzy.

“Kamu itu kumbang, kenapa tidur dalam posisi telentang!?” pekik mama Izzy.

“Ha?” Izzy melongo.

“Ha!” Izzy kemudian terbangun. Benar-benar terbangun.

-o0o-

“Haha! Jadi kamu mimpi, kalau kamu bermimpi? Kemudian kamu kira itu bukan bagian dari mimpi? Idiot!! Haha...” Ucup puas menertawakan Izzy.

“Ah, nyesel aku cerita sama kamu,” muka Izzy merah padam. “Ternyata gitu ya, Cup. Kalau kita mau memikirkan, sebenarnya sangat banyak alasan untuk mensukuri hidup. Bahkan sesuatu yang sangat sederhana seperti telentang pun nikmatnya begitu besar. Kasihan kumbang.”

“Nah makanya, salat itu salah satu cara kita untuk bersukur,” ucap Ucup memanfaatkan momen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar