Idang-Itay merupakan istilah untuk dua komunitas yang
terdapat di Tanah Kebaikan. Idang adalah istilah untuk dunia para laki-laki,
sedangkan Itay adalah istilah untuk dunia para perempuan. Meskipun mereka
dipisah dengan dua nama dunia yang berbeda, mereka hidup berdampingan.
Bertetangga, bahkan berada dalam sekolah atau kantor yang sama.
Tentunya nama itu bukan hanya sekedar identitas belaka.
Apabila orang Idang bersentuhan fisik dengan orang Itay, mereka akan terpental.
Bahkan jika tidak dapat terpental –karena terikat misalnya– mereka akan
meledak. Namun jika orang Idang dan Itay terikat sebuah janji suci, mereka
bukan Idang-Itay lagi. Mereka dikatakan Berhalal, dan hukum sentuh fisik itu
tidak berlaku lagi. Mereka yang mempunyai hubungan sedarah atau sepersusuan
tidak boleh melakukan janji suci, karena mereka sudah termasuk Berhalal.
Bangun merupakan Idang yang baru masuk SMA. Dia sangat rajin
dan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap hal-hal yang ada di
sekitarnya. Hanya saja dia kurang bahagia karena kedua orang tuanya yang sering
jahat kepadanya. Bahkan sering kali dia disebut anak pungutan oleh kedua orang
tuanya. Karena itulah Bangun sepulang sekolah sering duduk-duduk di tebing di
belakang sekolahnya. Memandangi keindahan Tanah Kebaikan dari atas.
Hari ini pun demikian, dia memarkirkan sepedanya di sisi
aman tebing, lalu dia menjuntaikan kakinya. Angin sepoi-sepoi mengibarkan
sedikit seragamnya. Suara bising anak-anak kelas satu ang baru keluar dari
kelas menarik perhatiaannya, mata Bangun tidak sengaja menangka sosok seorang
Itay yang begitu menyejukkan dipandang.
“Hayo! Jatuh baru tau rasa! Hahaha...” Anto mengagetkannya.
Tidak seperti biasanya kini dia ditemani seseorang di tebing.
“Ah, sialan kamu! Kalau aku jatuh beneran gimana?” pukul
Bangun pelan ke kakinya Anto. Bangun masih memperhatikan seorang Itay yang baru
keluar dari kelasnya tadi.
“Ohoho... jadi temanku mulai memperhatikan seorang Itay
nih?” goda Anto yang menyadari keadaan temannya. Bangun hanya tersenyum.
“Yah... asal kamu tidak lepas endali saja. Banyak lho teman-teman kita yang
lepas kendali ketika mereka sudah mulai mendekati Itay. Aku khawatirnya kamu
bakal terlontar ke kabel listrik, matang tuh badan!”
“Iya, iya. Doakan saja aku bisa mengendalikan diriku.”
Mereka kemudian menikmati indahnya pemandangan Tanah
Kebaikan dari tebing belakang sekolah hingga sore. Malamnya, wajah Itay yang
tadi dilihat oleh Bangun terus membayang di benak Bangun. Hal itu membuat dia
sulit untuk tidur. Setelah Bangun membasuh mukanya lalu berdoa lagi, barulah
dia bisa tidur.
Keesokan paginya, Bangun berangkat lebih awal dari hari
biasanya. Tanpa sebab dan alasan yang jelas hal itu terjadi, Bangun sendiri pun
jika tidak memahaminya. Di tengah perjalanan, sepeda yang lain melaju
menyalipnya. Bangun kaget, terlebih ketika melihat wajah orang itu. Ternyata
dia adalah Itay yang kemarin. Bangun langsung menyusulnya.
“Hai. Saya Bangun. Kamu siapa?” sapa Bangun sambil
meyesuaikan kecepatan sepedanya.
“Eh? Saya Puisi. Kamu kakak kelas saya ya?” tanya balik
Puisi setelah melihat emblem di bahu Bangun. Puisi juga berusaha menjaga
kesamaan kecepatan sepeda mereka.
“Hehe... iya. Kamu anak baru?”
“Iya, kak,” jawab Puisi dengan pandangan tetap awas ke
jalanan.
“Pantes saya baru liat.”
Mereka akhirnya tiba di sekolah, memarkir di tempat yang
sama. Tetapi mereka berjalan ke arah yang berbeda.
“Sampai nanti Puisi!” kata Bangun.
“Sampai nanti Bangun,” balas Puisi.
-o0o-
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan.
Begitu pula dengan Bangun dan Anto. Hari ini mereka memutuskan untuk duduk
bersama lagi di tebing. Anto ketagihan untuk menikmati sensasi nyaman dan
indahnya Tanah Kebaikan dari tebing.
“Ayo, Ngun! Hari ini kita sampai senja kan? Aku sudah bawa
kamera nih!” seru Anto dengan penuh semangat.
“Eh, serius jadi sampai senja? Wah aku belum kasih tahu
orang tuaku,” Bangun tampak berpikir. Kemudian dia mencegat temannya yang
melintas di sampingnya. “Eh, Budi, tolong sampaikan ke rumahku ya, kalau hari
ini aku pulang agak telat. Makasih Budi.”
Sesampainya di tebing, Anto membuka makanan ringan yang
sudah dia siapkan untuk menanti matahari terbenam. Mereka sudah siap untuk
membuka pembicaraan. Namun sebuah isak tangis menahan mereka. Setelah mencari
sumber suara, ternyata itu datang dari pohon di belakang mereka.
“Puisi?” panggil Bangun. Bangun menghampirinya, Puisi
menghentikan tangisnya. “Kamu kenapa? Kalau kamu mau cerita kami siap
mendengarkan.”
Puisi turun, lalu dia bergabung dengan Bangun dan Anto.
Tentunya mereka tetap menjaga aturan yang ada. Ternyata dia punya masalah
dengan beberapa Itay nakal yang ada di kelasnya. Puisi dibully.
Semenjak hari itu, Bangun dan Puisi lebih sering
bercengkerama. Bersama Anto mereka sering duduk di tebing. Sampai sebuah rasa
muncul di antara mereka. Sempat beberapa kali Puisi ingin memegang tangan
Bangun. Namun Bangun selalu mengingatkannya.
“Puisi, kita masih sebagai Idang-Itay, kita tidak bisa
melakukan ini...”
Rasa yang muncul dari keakraban dan kebaikan selalu saja
menarik hati untuk ingin saling memiliki. Bangun pun juga merasakan hal yang
sama. Dia sangat ingin menghilangkan status Idang-Itay di antara mereka. Hingga
mereka bisa menyalurkan perasaan mereka melalui pelukan dan gandengan tangan.
Mereka sama-sama menyimpan harapan ingin membuat janji suci di hati
masing-masing.
Hal ini sangat membuat Anto prihatin, dia khawatir
teman-temannya tidak tahan dengan perasaan itu hingga terjadi kontak
Idang-Itay. Kalau pun mereka bersentuhan, semoga saja tidak sampai meninggal,
harap Anto.
-o0o-
“Bangun! Puisi!” seru Anto tiba-tiba menghampiri Bangun yang
sedang menyendiri di tebing. “Puisi tergantung di atap sekolah, dia mau jatuh!
Ayo!”
“Kamu kenapa panggil aku, kenapa tidak mencari Itay yang
lain saja?” protes Bangun sambil berlari menuju tempat kejadian.
Puisi masih berpegangan di tepi atap. Bangun dan Anto
kebingungan, tidak ada seorang pun di sekolah jam segini, itulah sebabnya Anto
hanya bisa memanggil Bangun.
“Bangun...” lirih Puisi.
Bangun semakin panik. Dia mencoba mencari-cari benda yang
bisa digunakan untuk menolong Puisi. Namun Bangun tidak menemukan apapun.
“Bangun!!” teriak Puisi.
Tangannya terlepas satu, jika sudah begitu tidak lama lagi
tangan satunya pasti terlepas juga, Bangun menyadari betul hal itu. Bangun
langsung berlari menuju Puisi, pegangan tangan Puisi terakhir terlepas. Bangun
sempat meraihnya, Bangun menggenggamnya dengan erat. Anto menghampirinya, dan
dia tidak melihat apapun terjadi pada mereka. Bahkan sehembus asap pun tidak
terlihat dari sentuhan Bangun di tangan Puisi. Anto pun juga memberanikan
dirinya untuk meraih tangan Puisi yang satunya.
“Jangan!” teriak Bangun.
Anto menurutinya, dia memandang heran pada Bangun. Tidak lama kemudian, Puisi berhasil naik. Melihat Puisi selamat, Anto tersenyum senang, namun dia malah melihat rona sedih pada Bangun dan Puisi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar