Rabu, 05 November 2014

Idang-Itay

Idang-Itay merupakan istilah untuk dua komunitas yang terdapat di Tanah Kebaikan. Idang adalah istilah untuk dunia para laki-laki, sedangkan Itay adalah istilah untuk dunia para perempuan. Meskipun mereka dipisah dengan dua nama dunia yang berbeda, mereka hidup berdampingan. Bertetangga, bahkan berada dalam sekolah atau kantor yang sama.


Tentunya nama itu bukan hanya sekedar identitas belaka. Apabila orang Idang bersentuhan fisik dengan orang Itay, mereka akan terpental. Bahkan jika tidak dapat terpental –karena terikat misalnya– mereka akan meledak. Namun jika orang Idang dan Itay terikat sebuah janji suci, mereka bukan Idang-Itay lagi. Mereka dikatakan Berhalal, dan hukum sentuh fisik itu tidak berlaku lagi. Mereka yang mempunyai hubungan sedarah atau sepersusuan tidak boleh melakukan janji suci, karena mereka sudah termasuk Berhalal.

Bangun merupakan Idang yang baru masuk SMA. Dia sangat rajin dan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Hanya saja dia kurang bahagia karena kedua orang tuanya yang sering jahat kepadanya. Bahkan sering kali dia disebut anak pungutan oleh kedua orang tuanya. Karena itulah Bangun sepulang sekolah sering duduk-duduk di tebing di belakang sekolahnya. Memandangi keindahan Tanah Kebaikan dari atas.

Hari ini pun demikian, dia memarkirkan sepedanya di sisi aman tebing, lalu dia menjuntaikan kakinya. Angin sepoi-sepoi mengibarkan sedikit seragamnya. Suara bising anak-anak kelas satu ang baru keluar dari kelas menarik perhatiaannya, mata Bangun tidak sengaja menangka sosok seorang Itay yang begitu menyejukkan dipandang.

“Hayo! Jatuh baru tau rasa! Hahaha...” Anto mengagetkannya. Tidak seperti biasanya kini dia ditemani seseorang di tebing.

“Ah, sialan kamu! Kalau aku jatuh beneran gimana?” pukul Bangun pelan ke kakinya Anto. Bangun masih memperhatikan seorang Itay yang baru keluar dari kelasnya tadi.

“Ohoho... jadi temanku mulai memperhatikan seorang Itay nih?” goda Anto yang menyadari keadaan temannya. Bangun hanya tersenyum. “Yah... asal kamu tidak lepas endali saja. Banyak lho teman-teman kita yang lepas kendali ketika mereka sudah mulai mendekati Itay. Aku khawatirnya kamu bakal terlontar ke kabel listrik, matang tuh badan!”

“Iya, iya. Doakan saja aku bisa mengendalikan diriku.”

Mereka kemudian menikmati indahnya pemandangan Tanah Kebaikan dari tebing belakang sekolah hingga sore. Malamnya, wajah Itay yang tadi dilihat oleh Bangun terus membayang di benak Bangun. Hal itu membuat dia sulit untuk tidur. Setelah Bangun membasuh mukanya lalu berdoa lagi, barulah dia bisa tidur.
Keesokan paginya, Bangun berangkat lebih awal dari hari biasanya. Tanpa sebab dan alasan yang jelas hal itu terjadi, Bangun sendiri pun jika tidak memahaminya. Di tengah perjalanan, sepeda yang lain melaju menyalipnya. Bangun kaget, terlebih ketika melihat wajah orang itu. Ternyata dia adalah Itay yang kemarin. Bangun langsung menyusulnya.

“Hai. Saya Bangun. Kamu siapa?” sapa Bangun sambil meyesuaikan kecepatan sepedanya.

“Eh? Saya Puisi. Kamu kakak kelas saya ya?” tanya balik Puisi setelah melihat emblem di bahu Bangun. Puisi juga berusaha menjaga kesamaan kecepatan sepeda mereka.

“Hehe... iya. Kamu anak baru?”

“Iya, kak,” jawab Puisi dengan pandangan tetap awas ke jalanan.

“Pantes saya baru liat.”

Mereka akhirnya tiba di sekolah, memarkir di tempat yang sama. Tetapi mereka berjalan ke arah yang berbeda.

“Sampai nanti Puisi!” kata Bangun.

“Sampai nanti Bangun,” balas Puisi.

-o0o-

Bel tanda pulang sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan. Begitu pula dengan Bangun dan Anto. Hari ini mereka memutuskan untuk duduk bersama lagi di tebing. Anto ketagihan untuk menikmati sensasi nyaman dan indahnya Tanah Kebaikan dari tebing.

“Ayo, Ngun! Hari ini kita sampai senja kan? Aku sudah bawa kamera nih!” seru Anto dengan penuh semangat.

“Eh, serius jadi sampai senja? Wah aku belum kasih tahu orang tuaku,” Bangun tampak berpikir. Kemudian dia mencegat temannya yang melintas di sampingnya. “Eh, Budi, tolong sampaikan ke rumahku ya, kalau hari ini aku pulang agak telat. Makasih Budi.”

Sesampainya di tebing, Anto membuka makanan ringan yang sudah dia siapkan untuk menanti matahari terbenam. Mereka sudah siap untuk membuka pembicaraan. Namun sebuah isak tangis menahan mereka. Setelah mencari sumber suara, ternyata itu datang dari pohon di belakang mereka.

“Puisi?” panggil Bangun. Bangun menghampirinya, Puisi menghentikan tangisnya. “Kamu kenapa? Kalau kamu mau cerita kami siap mendengarkan.”

Puisi turun, lalu dia bergabung dengan Bangun dan Anto. Tentunya mereka tetap menjaga aturan yang ada. Ternyata dia punya masalah dengan beberapa Itay nakal yang ada di kelasnya. Puisi dibully.
Semenjak hari itu, Bangun dan Puisi lebih sering bercengkerama. Bersama Anto mereka sering duduk di tebing. Sampai sebuah rasa muncul di antara mereka. Sempat beberapa kali Puisi ingin memegang tangan Bangun. Namun Bangun selalu mengingatkannya.

“Puisi, kita masih sebagai Idang-Itay, kita tidak bisa melakukan ini...”

Rasa yang muncul dari keakraban dan kebaikan selalu saja menarik hati untuk ingin saling memiliki. Bangun pun juga merasakan hal yang sama. Dia sangat ingin menghilangkan status Idang-Itay di antara mereka. Hingga mereka bisa menyalurkan perasaan mereka melalui pelukan dan gandengan tangan. Mereka sama-sama menyimpan harapan ingin membuat janji suci di hati masing-masing.

Hal ini sangat membuat Anto prihatin, dia khawatir teman-temannya tidak tahan dengan perasaan itu hingga terjadi kontak Idang-Itay. Kalau pun mereka bersentuhan, semoga saja tidak sampai meninggal, harap Anto.

-o0o-

“Bangun! Puisi!” seru Anto tiba-tiba menghampiri Bangun yang sedang menyendiri di tebing. “Puisi tergantung di atap sekolah, dia mau jatuh! Ayo!”

“Kamu kenapa panggil aku, kenapa tidak mencari Itay yang lain saja?” protes Bangun sambil berlari menuju tempat kejadian.

Puisi masih berpegangan di tepi atap. Bangun dan Anto kebingungan, tidak ada seorang pun di sekolah jam segini, itulah sebabnya Anto hanya bisa memanggil Bangun.

“Bangun...” lirih Puisi.

Bangun semakin panik. Dia mencoba mencari-cari benda yang bisa digunakan untuk menolong Puisi. Namun Bangun tidak menemukan apapun.

“Bangun!!” teriak Puisi.

Tangannya terlepas satu, jika sudah begitu tidak lama lagi tangan satunya pasti terlepas juga, Bangun menyadari betul hal itu. Bangun langsung berlari menuju Puisi, pegangan tangan Puisi terakhir terlepas. Bangun sempat meraihnya, Bangun menggenggamnya dengan erat. Anto menghampirinya, dan dia tidak melihat apapun terjadi pada mereka. Bahkan sehembus asap pun tidak terlihat dari sentuhan Bangun di tangan Puisi. Anto pun juga memberanikan dirinya untuk meraih tangan Puisi yang satunya.

“Jangan!” teriak Bangun.

Anto menurutinya, dia memandang heran pada Bangun. Tidak lama kemudian, Puisi berhasil naik. Melihat Puisi selamat, Anto tersenyum senang, namun dia malah melihat rona sedih pada Bangun dan Puisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar