“Saif, hari ini kamu ke asrama?” Tanya Pak Kasino melalui
telpon. Beliau adalah pembina di asrama Gagak.
“Iya, pak. Ada apa ya?” Jawab Saif.
“Kamu bisa bawakan pisang keju? Beli yang dekat jembatan
itu. Nanti duitnya bapak ganti.”
“Ooo, Cuma itu? Bisa pak. Gampang.”
Kurang lebih dua jam, Saif tiba di asrama.
“Assalamu alaikum,” ucap Saif sambil masuk ke asrama.
“Wa alaikum salam. Alhamdulillah akhirnya ni anak muncul
juga,” sahut Pak Kasino, “Mana pisang keju bapak?”
Plak... Saif menepuk jidatnya sendiri.
“Oops!! Maaf, lupa, Pak. Ya sudah, saya balik lagi.” Saif
memutar badannya, tapi Pak Kasino langsung mencegatnya.
“Gak usah, nanti saja. Ini kamu minum dulu.” Pak Kasino
menyuguhi Saif segelas minuman. Saif menerimanya, dia duduk lalu menenggaknya.
“Lho? Lho? Kok saya pusing, pak? Ini ruangan kenapa goyang?”
Tanya Saif panik.
“Tidak papa, itu normal.” Pak Kasino menyahut dengan senyum
licik.
“Lho, kok baju bapak tiba-tiba berubah?” Tanya Saif lagi.
Dia heran melihat baju Pak Kasino yang kini sudah berbeda dari saat pertama dia
masuk.
“Kamu tuh yang pingsan lama banget!”
“Eh? Saya pingsan?” Saif semakin bingung, dia melirik jam
tangannya. “Wah, satu jam ya?”
“Liat tanggalnya,” kata Pak Kasino.
“Apa!? Jadi saya di sini sudah dua hari!?” Pekik Saif.
Pak Kasino kemudian engajak Saif keluar asrama. Mereka
berhenti di halaman depan. Pak Kasino melihat kiri-kanannya, seolah menunggu
seseorang.
“Bapak nyari siapa?” tanya Saif.
“Nah, itu mereka datang.” Tunjuk Pak Kasino kepada tiga
orang yang muncul dari gerbang.
Saif tiba-tiba kaget melihat kantung besar yang tersangkut
dan melayang di punggung ketiga pemuda itu. Persis seperti balon udara. Tapi
yang ini agak sedikit menjijikkan, karena tidak kencang seperti balon udara.
“Itu apa, pak?” tanya Saif.
“Oh, jadi kamu melihatnya?” Pak Kasino menanggapi demikian.
Saif memasang muka bingung kuadrat. “Berarti ramuan yang kamu minum dua hari
yang lalu bekerja dengan baik.”
“Maksud bapak?”
“Yang kamu lihat itu adalah Kantung Poin Kebaikan. Setiap
kamu melakukan kebakan, itu akan terisi. Bapak juga punya.” Pak Kasino kemudian
menyentuh punggungnya sendiri, tiba-tba sebuah kantung besar juga melayang dari
punggungnya. “Tapi tidak semua orang lho bisa melihat kantung ini.”
“Terus?” Pak Kasino tidak menjawab.
“Oke anak-anak.” Tiga pemuda sudah berada di hadapan Pak
Kasino. “Bapak mau minta tolong kalian, besok pagi tolong bawakan tumbuhan
kaktus ke sini. Bisa?”
“Bisa, pak!” Jawab pemuda satu.
“Pasti, pak!” Jawab pemuda kedua.
“Insya Allah saya termasuk orang yang mampu.” Jawab pemuda
ketiga. Lalu Saif melihat ada pergerakan di kantung punyanya si pemuda ketiga.
Isinya bertambah.
“Baiklah, silakan kalian pulang.” Kata Pak Kasino, ketiga
pemuda itu pun beranjak pergi.
“Pak, kenapa kantung pemuda ketiga terisi ketika dia
menjawab, sedangkan yang lainnya tidak. Padahal mereka menyanggupinya?” Tanya
Saif.
“Bedanya apa di antara tiga pemuda itu?” Pak Kasino balik
bertanya. Saif berpikir, kemudian dia menggut-manggut.
Keesokan harinya, mereka berlima berkumpul lagi di halaman
yang sama.
“Mana barangnya?” Pinta Pak Kasino.
“Maaf, pak, saya kemarin bantuin papa di rumah. Pas sudah
selesai, ternyata toko bunganya sudah tutup. Saya benar-benar minta maaf, pak,”
kata pemuda pertama. Dia tertunduk.
“Naah, ini punya saya, pak.” Pemuda kedua menyerahkan
kaktusnya. Kaktusnya sudah mulai mengering, namun masih hidup. Saif melihat
kantung dari pemuda kedua bertambah.
“Oke, makasih ya,” ucap Pak Kasino sambil tersenyum. “Kamu?”
“Ini dari saya.” Pemuda ketiga menyerahkan kaktusnya. Kaktusnya
masih segar. Saif melihat lagi kantung dari pemuda ketiga itu juga bertambah.
“Oke, silakan kalian pulang. Makasih ya.” Pak Kasino
mengantar mereka dengan senyum. “Nah, If, apa yang kamu dapatkan dari kejadian
tadi?”
“Kalimat Insya Allah membuat poin kebaikan banyak didapat.”
“Haha... boleh lah. Oke, jadi gini. Pemuda pertama langsung
mengiyakan. Merasa dirinya mampu, karena ini sangat mudah. Maka dia dengan
Pe-De-nya langsung bilang yes.
Seperti kamu kemarin, hehe. Nyatanya, hari ini dia tidak membawa apa-apa.
Kemudian pemuda kedua sama, dia sangat yakin, sehingga
langsung bilang ‘pasti’. Memang benar dia menunaikannya, tapi lihat yang
didapatnya, dia hanya mendapat nilai kebaikan ketika dia sudah menunaikannya.
Kaktus yang dia bawa pun jelek.
Sedangkan pemuda ketiga, dengan mengucapkan Insya Allah dia
sudah mendapat poin kebaikan. Jadi seandainya pun dia gagal memenuhi permintaan
bapak, dia tetap dapat poin. Tapi Allah memang membuatnya mampu menunaikannya,
sehingga dia mendapat bonus lagi setelah menunaikannya. Kaktus yang dia bawa
pun bagus.
Jadi, sebenarnya kalimat Insya Allah itu bukanlah kalimat
yang digunakan karena kita ragu atau belum pasti bisa. Tapi itu merupakan
kalimat penghambaan kita. Kita mampu karena Dia yang berkehendak, sekalipun kita
menilai pekerjaannya sangat enteng, tanpa kehendak-Nya kita ‘takkan mampu
melakukannya. Maka, jika kita akan melakukan sesuatu, katakanlah Insya Allah.
Karena bukan kita yang mampu, tapi Allah.”
“Drrttt... drrrttt... drrttt...” hape Saif bergetar di samping
tempat tidurnya. Saif heran. Sebab baru saja dia berada di halaman asrama, kok
tiba-tiba ada di tempat tidur? Saif tidak menghiraukan herannya, dia langsung
mengangkat telpon.
“Assalamu alaikum. Ooh pak Kasino. Ada apa ya, pak?”
“Saif, hari ini kamu ke asrama?” Jawab beliau dari seberang.
“Iya, pak. Ada apa ya?” Jawab Saif.
“Kamu bisa bawakan pisang keju? Beli yang dekat jembatan
itu. Nanti duitnya bapak ganti.”
“Ooo, Cuma itu? Bisa pak. Gampang.” Saif terhenti sejenak. “Insya Allah...”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar