Jumat, 17 Oktober 2014

Karet Dan Pilkada

“Ngapain kamu nonton begituan? Sok pengusaha saja! Mending kasih makan ayam sana,” tegur Pak Raka pada Adul, anaknya yang sedang sibuk menonton berita pasar saham.

“Reporternya seksi, Bah. Hehe...” Jawab Adul mencandai Abahnya. Dia berdiri, beranjak menuju kandang ayam. Kebetulan sudah iklan.

Di meja makan, Pak Raka duduk dengan buku tulis lusuhnya. Dia menekan-nekan jidatnya sambil fokus ke beberapa coretan di buku tulis.

“Kenapa, Bah?” tanya Adul.

“Harga karet turun lagi. Turunnya sampai setengah lagi!” Mama menyahut sambil menyuguhi Abah teh hangat.

“Lagi!?” Pekik Adul.

“Lagi...” Mama menegaskan.

“Tadi selagi saya menonton pasar saham, harga karet tetap kok, Ma. Dalam seminggu ini gak bergerak...”

“Udah kasih makan ayam saja sana!!” Teriak Pak Raka pada anaknya. Adul langsung ke halaman belakang.

-o0o-

Beberapa bulan yang lalu...


“Hallo, assalamu alaikum.” Suara di seberang telepon.

“Iya, dengan saya sendiri. Ini siapa ya?” Jawab sisi telepon yang satunya.

“Lho, saya belum tanya mau berbicara dengan siapa, kok sudah ‘dengan saya sendiri’ duluan?”

“Lha ini kan HP pribadi saya, pak.”

“Oh, iya ya. Baiklah, ehm... ehm... Saya, Drs. H. M. Ucup, MM...”

“O-Em-Je!! Sampean calon kepala daerah itu ya!?” potong Cecep Suhendar, lawan bicara Pak Ucup di telepon.

“Santai aja dong, pak.”

“Oke, ada perlu apa nih, pak? Ada yang bisa saya bantu?

“Jadi gini...”

“Oke, siap. Bisa kami atur. Satu Em cukup kan, Pak? Sisanya tarik saja dari pengusaha karet yang lain. Timbal baliknya pada perusahaan kami seperti biasa kan, Pak?”

“Nha... sudah pinter. Sip. Tolong ya, Cep. Salam cinta dari pencinta buruh penyadap karet, Ucup Tampan Celalu Telcenyum Muach-muach...” Tutup calon kepala daerah itu, setelah sukses negosiasinya dengan Cecep sang pengusaha karet.

Setelah negosiasi itu, Cecep memanggil cleaning service-nya untuk minta bersihkan pesawat teleponnya dengan enam kali basuhan air tanah plus satu kali air bersih di akhir. Takut terjadi apa-apa setelah salam ganjen dari Ucup.

Setelah pesawat telepon itu bersih dan kering, Cecep menelpon rekan bisnisnya yang lain.

“Hal-lo?”

“Hai...”

“Hai-hai halo?”

“Halo-halo hai...”

“Oke, cukup basa-basinya, Jang.” Jajang, pengusaha karet lain yang pertama kali dihubungi Cecep.

“Tadi elo ada ditelepon sama Ucup Ganjen gak?”

“Iya. Gue gak nyangka, ternyata sikapnya dari SMP gak berubah, shit!!

“Ya udah, mau gimana lagi. Makanya tadi teleponku langsung kucuci. Terus, elo udah tau kan selanjutnya apa?”

“Sip... anak buah gue udah gue briefing!”

“Mantap! Aku mau memantau temen-temen yang lain dulu.”

-o0o-

“Lho, kok cuma segini, bro?” protes Dio, seorang pengumpul karet.

“Sekarang sekilonya lima ribu, bro.” Jawab pembeli dari pihak industri karet.

“Apa!”

“Apa!?” sahut pengumpul karet lain yang berada di belakang Dio.

“Di perusahaan sebelah juga gitu, bro.”

Dio dan teman-temannya yang lain pun pulang dengan kabar buruk kepada semua petani karet. Termasuk pak Raka, Abahnya Adul.

“Ya mau gimana lagi. Semua juga membelinya dengan harga segitu. Daripada gak dapat sama sekali,” ucap Pak Raka.

-o0o-

Di pos kamling, Adul nongkrong bersama teman-temannya.

“Kamu kenapa, Dul? Kok mukanya abstrak banget?” Tanya Reza.

“Harga jual karet turun drastis!”

“Ho-oh!” Sahut yang lainnya, yang sebagian juga berprofesi sebagai penyadap karet.

“Padahal kulihat di berita pasar saham, harga karet normal.” Tambah Adul.

“Masa?” Sahut yang lain lagi berbarengan.

“Kok bisa gitu ya?” kini Reza ikut pusing. Dia memang tidak bisa tenang kalau temannya dalam masalah.

“Tunggu, kata kamu tadi harga karet di pasar saham normal, tapi penjualan di sini turun. Coba kita cek di internet...” usul Reza. Kini hape kecil Reza dikerubuti setidaknya oleh enam orang pria besar.

“Tuh kan!” Adul berdiri, menunjuk layar hape Reza.

“Tuh kan!” Tunjuk teman-temannya yang lain juga.

“Artinya apa ini, Za?” tanya Adul.

“Gak tau juga. Tapi menurut kamu gimana, aku membeli pada kamu murah, lalu aku jual ke luar mahal?”

“Tapi itu gak mungkin, ini akan merusak harga pasar, dan pasti akan muncul masalah antar pengusaha karet itu!”

Reza kemudian menyahut pernyataan Adul hanya dengan menunjuk layar hapenya. Adul terdiam dan tertegun.

“Oke, begini saja. Aku akan usahakan cari link pasar internasional untuk penjualan karet ini. Kalau aku berhasil, aku bisa membeli karet-karet kalian dengan harga yang layak.”

“Beneran kamu, Za?” Adul histeris senang.

“Beneran kamu, Za?” seru yang lainnya juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar