Pagi
berkabut tipis, namun kehangatan surya tetap terasa. Sinarnya yang dengan susah
payah menembus uap-uap embun, menerpa sebuah kotak jingga di halaman rumah Andi.
Pada lubang tipis kotak itu terselip lipatan kertas dengan garis merah-biru
yang berjejer di sisi-sisinya.
Andi yang
baru saja membuat susu di dapur, melirik ke halaman depan lewat dinding kaca
ruang makan mereka yang lebar. Melirik kotak surat yang setiap bulannya selalu
dinanti-nantikannya terisi, terlebih pada bulan Desember ini.
Susu yang
masih dipegangnya langsung ditinggalkannya di meja makan, ia berlari keluar dengan senyum lebar penuh
kebahagiaan. Ayahnya pun dilewati begitu saja. Namun ayahnya sudah maklum
dengan peristiwa yang selalu terjadi sebulan sekali ini. Kotak surat itu kini terisi lagi. Andi selalu tak sabar untuk
membaca surat dari mamanya.
Tak berapa
lama, Andi kembali ke meja makan dengan amplop yang masih utuh.
“Dari mama,
yah!” Serunya dengan
wajah sumringah.
Ayahnya
tersenyum, “Ayo cepat baca, pasti dia juga mau bilang sayang ke ayah.” Kini senyumnya tampak nakal, menggoda anak
satu-satunya yang kini sudah 18 tahun.
“Ih, ayah
ganjen. Tapi pasti lah mama sayang sama ayah,” jawab Andi sambil menyobek dan
menarik isi surat itu.
Lipatan
surat itu mulai dibukanya.
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.,
Anakku yang tampan, apa kabar nih? Mama harap
kamu baik, dan selalu menyebar kebaikan.
Terus, cowokku tercinta masih setia, kan?
Tolong awasin dia ya, nak. Laporkan saja ke mama kalau ada gelagat
mencurigakan.
“Huu,
paling dia yang main mata sama bule di sana!” timpal ayah bercanda. Andi
tersenyum.
“Aku
teruskan ya, yah?”
Keadaan mama di sini juga baik, nak. Sangat
baik malah. Sekarang mama ada di New Zealand. Masya Allah, pemandangannya indah
sekali, kebesaran Tuhan semakin jelas di sini. Itu mama ada mengambil beberapa
foto, biar kamu juga bisa merasakannya.
Sekolah kamu bagaimana, nak? Masih rajin kan?
Anak mama harus selalu semangat. Tapi semangatnya jangan karena cewek ya…
“Tuh… ingat
pesan mama.” Lagi-lagi pria tua namun ‘muda’ itu
mengoceh.
“Iya, iya,
tenang saja yah.”
Tentang tanggal 22 Desember itu, mama minta
maaf ya sayang. Kali ini mama lagi-lagi tidak bisa menghadirinya.
Doakan saja tahun depan bisa. Tetap semangat
anak ku! Jangan lupa kirimi mama mu ini doa ibu-bapak.
Sayang & rindu kalian…
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.
“Sabar ya,
nak.” Pria dewasa itu menepuk bahu
jagoannya, wajahnya menunjukkan rasa simpatik.
Andi
menghela nafas. Keceriaan yang tadi sempat terlihat, kini menguap entah kemana.
Lagi-lagi tahun ini dia
harus menegarkan hatinya. Sudah dua tahun terakhir ini mamanya tidak datang ke
acara perayaan peringatan hari ibu di SMA-nya. Tahun depan belum tentu Andi
masih di SMA ini.
Sebenarnya Andi
sangat mengharapkan mamanya datang pada acara tahun ini. Selain dia ingin
merayakannya bersama mama, dia sangat ingin bertemu dengan mamanya.
Dia belum
pernah melihat mamanya, bahkan mendengar suaranya pun belum. Kata ayah, Andi sudah
ditinggal mamanya sejak dia berumur satu tahun. Mamanya berkelana ke
negara-negara di dunia untuk mencari inspirasi puisinya. Namun tanpa alasan
jelas, dia tidak pernah pulang-pulang lagi. Meski setiap bulan suratnya selalu
datang.
Ketika Andi
bersekolah dasar hingga SMP, mamanya mengirim SMS untuk berkomunikasi. Tetapi
selalu tidak ada jawaban apabila ditelpon oleh Andi. Beliau terkadang juga
mengirim MMS untuk menunjukkan pemandangan atau arsitektur di negara yang
sedang dikunjunginya, namun pada foto-fotonya tidak terdapat wajahnya.
Namun saat Andi
duduk di kelas VIII, mamanya tidak menggunakan handphone lagi, dia hanya
mengirim surat.
Andi
kemudian merapikan surat itu kembali. Dia sempatkan untuk melihat foto-foto
kiriman mamanya. Sama seperti biasanya, hanya pemandangan. Tanpa ada potret
mamanya.
Tanpa
gairah, susu dingin itu ditenggaknya. Ayahnya memperhatikan anak malang itu dengan
penuh keprihatinan.
-----------------------------------o0o--------------------------------------
“Hai, Di! Dua
minggu lagi nih. Mama mertuaku entar datang gak?” Goda Wiwid yang juga baru mencapai gerbang
sekolah.
“Lagi-lagi
gak bisa, Wid.” Senyum Andi tipis, berusaha
menyembunyikan kekecewaan itu.
“Sabar ya, Di.
Suatu saat mama kamu pasti datang kok. Tidak ada orang tua –apa lagi mama– yang
melupakan anaknya begitu saja. Anak yang selama sembilan bulan dia rawat dalam rahimnya yang begitu
tipis,” kata teman baiknya dengan penuh keseriusan.
Andi hanya mengangguk
sedikit.
“O ya, Di.
Kenapa kamu tidak tanya, kapan beliau bisa pulang?” Tiba-tiba Wiwid mengusulkan sesuatu yang sudah
lama tidak dilakukan Andi.
Andi
langsung bersemangat, api itu terlihat di wajahnya.
“Kebetulan,
aku belum membalas surat mamaku pagi ini. Sehabis sekolah, kita sama-sama
menulis surat untuk mamaku ya. Sama ayahku juga di rumah!”
Wiwid
tersenyum senang, akhirnya pagi ini dia bisa mencerahkan hati seorang sahabat,
secerah mentari hari ini.
----------------------------------o0o------------------------------------
Dengan
kencang Andi berlari menuju rumahnya, Wiwid tertinggal beberapa meter di
belakangnya. Di teras yang terbuat dari kayu Ulin itu, Andi duduk untuk melepas
sepatunya. Wiwid datang dengan nafas yang terengah.
“Assalamualaikum,”
bersamaan dengan terbukanya pintu rumah, suara itu terucap dari ayahnya Andi.
“Waalaikum
salam, om,” jawab Wiwid dengan masih terengah-engah. Ayahnya Andi tersenyum
pada tamunya.
“Ayo yah,
kita balas surat mama. Kita tanya, kapan mama bisa pulang.”
“Oo, jadi
karena itu ya kamu seperti kesetanan. Ayah kira ada apa tadi?” responnya,
dengan senyum kembali menghias wajahnya.
“Ayo ambil pulpen dan kertasmu. Biar ayah siapkan amplopnya. Nanti kita
sama-sama pergi ke kantor pos, kali ini kita pakai surat kilat.”
“Yang
benar, yah? Mantap!” seru Andi. Wajahnya seperti orang yang baru dapat uang dari reality show.
Andi mulai
mengeluarkan pulpen dan kertas. Bersama Wiwid, mereka duduk bersila di teras
Ulin seluas 2x7 meter itu, memulai suratnya dengan salam. Sedangkan ayahnya
masuk ke rumah untuk mengambil amplop.
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.,
Alhamdulillah kabar kami di sini baik ma.
Tentang ayah, sepertinya dia mulai main sama perempuan lain ma
“Beneran
begitu ya, Di?” tanya Wiwid terkejut.
“Tidak juga
sih, tapi biar mama pulang, Wid…” senyumnya terlihat licik kali ini.
“Eh, tidak
boleh begitu, bagaimanapun kuatnya keinginan kamu untuk bertemu mama, kamu tidak
boleh berbohong. Sama mama sendiri lagi. Ya?” tegurnya dengan sopan.
“Bohong
apanya, Wid?” ayah tiba-tiba sudah ada di samping mereka dengan amplop panjang
di tangannya. Dia kemudian melirik ke tulisan Andi.
“Eh,
apa-apaan tuh? Huu… ngaco kamu, ayo coret!” kata ayah seraya memukul bahu Andi
dengan pelan, wajahnya tersenyum santai.
“Hehe… ya
sudah kita ganti kertas saja.”
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.,
Alhamdulillah kabar kami baik ma. Tentang ayah,
dia setia banget ma, malah setiap berpapasan dengan wanita tidak lupa untuk
ghadul bashar. (usulan
ayah)
Sekolah ku alhamdulillah lancar, semangat terus
membara, soalnya ada seseorang dengan inisial W, ma. Dia sangat mengganggu
pikiran ku untuk terus berprestasi. Kalau mama mau tegur dia, datang saja
langsung ke sini ma. (hasil
diskusi Andi, Wiwid, dan ayah)
Tentang acara tahunan di sekolah kami, ya sudah
lah kalau memang mama masih sibuk. Tapi mama kapan pulang? (tulisan Andi)
Di luar sana pasti karya mama laku ya. Tapi kok
aku gak pernah lihat buku puisi dengan nama Vidha Pertiwi? Atau setidaknya
tuliskan salah satu karya mama pada surat mama yang berikutnya. (tulisan Andi juga)
Untuk doanya, selalu setiap habis shalat ma.
Insya Allah istiqamah. Dan tolong, pulang lah, ma…
Aku percaya kalau mama kangen dan sayang kami,
karenanya pulang lah.
Miss u ma,
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.
--------------------------------o0o-------------------------------
“Di,
siapkan hatimu untuk menerima kabar baik,” kata ayah dengan senyum lebar ketika
mereka makan siang di restoran.
Senyum Andi
pun melebar, dia sudah tau ayahnya mau mengatakan tentang apa.
“Tadi mama
nelpon, katanya tanggal 26 Januari dia datang.”
“Yang
benar, yah? Mana nomer telponnya? Ayo kita telpon lagi,” seru Andi membuka
telapak tangannya, meminta ponsel ayahnya.
“Mama
nelpon lewat wartel,” jawab ayahnya.
Andi
kembali kecewa.
“Ayolah,
tinggal satu bulan lagi kok,” kata bapak itu menghibur anaknya.
Andi
kembali tersenyum. Bagaimanapun, ini sesuatu yang sangat membahagiakan baginya.
Dia pun makan dengan penuh nafsu siang ini.
---------------------------------o0o----------------------------------
“Kok kita
malah disuruh menunggu di sini sih, Di? Bukannya di bandara, malah di taman,”
Wiwid heran dengan peraturan yang dibuat ayahnya Andi.
Sebenarnya
Wiwid tidak dijinkan
ikut, tapi karena dia bersikeras, ayah mengizinkannya. Meskipun ketika mama datang,
Wiwid harus menjaga jarak minimal sepuluh meter. Kecuali setelah keluarga ‘merindu’ itu sudah selesai
berbicara.
“Aku tidak
peduli, yang penting hari ini penantian ku berakhir,” senyum kebahagiaan itu
tak pernah hilang dari Andi semenjak pagi tadi.
Sebuah
mobil sedan biru-putih dengan siluet burung biru, singgah di salah satu sisi Ruang
Terbuka Hijau itu. Seorang laki-laki dan perempuan turun dari pintu samping
yang berlainan.
Andi dan
Wiwid kemudian berdiri, hendak menghampiri dua orang itu. Dari kejauhan, ayahnya Andi tersenyum pada
Wiwid. Teringat akan sesuatu, Wiwid menahan langkahnya, sedangkan Andi tetap
menyongsong pasangan itu.
Dari
kejauhan Wiwid menyaksikan peristiwa mengharukan ini. Anak itu langsung sungkem
pada wanita itu. Ada yang aneh, taksi itu langsung pergi. Tidak ada tas besar
yang diturunkannya. Namun Wiwid lebih tertarik pada drama ini.
Ada
pembicaraan panjang dan serius terjadi di sana, antara ayahnya Andi dan Andi,
tidak dengan orang yang mereka nanti-nanti itu. Dia hanya tersenyum anggun
seraya merangkul Andi yang fokus terhadap apa yang dikatakan ayahnya. Secara
berangsur, kecerahan wajah Andi menipis, hingga akhirnya butir bening menetes
dari sudut matanya.
Mereka
kemudian berjalan menuju Wiwid. Tampak sebuah keluarga utuh, ayah, ibu, dan
anak yang diapit di tengah. Kebahagiaan terlihat di sana, apabila sosok di
tengah ditiadakan. Atau setidaknya ada senyum pada anak itu.
“Ayo kita
ke rumah.” Ajak ayahnya Andi dengan ramah pada
Wiwid.
Perempuan
itu dan Andi tersenyum pada Wiwid. Wiwid menatap heran sekaligus prihatin pada
Andi. Namun sekarang dia terlalu takut untuk bertanya.
Dengan
senyum yang teramat tipis –bahkan hampir bisa dikatakan bukan sebuah senyuman–
Andi berkata pada Wiwid, “Mulai hari ini aku tidak lagi menerima surat dari
mamaku.”
------------------------------o0o------------------------------
Setelah taksi itu pergi, terjadi pembicaraan serius antara
Andi dan ayahnya. Sedangkan perempuan yang dinanti-nantikan Andi itu sama
sekali tidak terlibat dalam pembicaraan, dia hanya tersenyum tipis sembari
merangkul Andi.
“Andi,” ucap Ayah dengan agak ragu. Dia menahan kalimatnya
sejenak, “sebelumnya ayah minta maaf, telah membohongi kamu selama ini.”
“Maksud ayah?” Andi mulai memahami apa yang sebenarnya
terjadi, namun dia tidak mau menebak. Andi melirik pada perempuan yang sedang
merangkulnya.
“SMS-SMS, foto, surat, kabar dari mama, semuanya bohong.
Semuanya adalah buatan ayah. Mama tidak pernah berhubungan dengan kita. Dia
tidak pernah mengirim SMS maupun surat,” Ayah menjelaskan dengan menatap mata
Andi.
Mata Andi mulai berkaca, setengah tidak terima atas
perlakuan ayah terhadap hatinya.
“Kenapa, yah?” Suara Andi bergetar.
“Sebenarnya mama sudah meninggal tujuh belas tahun yang
lalu. Ayah sangat mencintai mama kamu. Ayah takut kamu akan meminta ayah
mencari mama baru untuk kamu. Karena itulah ayah membuat seolah-olah mama masih
ada...”
Andi menarik nafas besar. Berusaha menerima kenyataan.
“Namun berkat tante Via, pemikiran ayah terbuka. Ayah tidak
mau lagi membohongi kamu. Dan sekarang, kamu akan punya mama yang baru,” ucap
ayah sambil melirik pada perempuan yang masih merangkul Andi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar