Sabtu, 13 September 2014

Mama?

Pagi berkabut tipis, namun kehangatan surya tetap terasa. Sinarnya yang dengan susah payah menembus uap-uap embun, menerpa sebuah kotak jingga di halaman rumah Andi. Pada lubang tipis kotak itu terselip lipatan kertas dengan garis merah-biru yang berjejer di sisi-sisinya.

Andi yang baru saja membuat susu di dapur, melirik ke halaman depan lewat dinding kaca ruang makan mereka yang lebar. Melirik kotak surat yang setiap bulannya selalu dinanti-nantikannya terisi, terlebih pada bulan Desember ini.

Susu yang masih dipegangnya langsung ditinggalkannya di meja makan, ia berlari keluar dengan senyum lebar penuh kebahagiaan. Ayahnya pun dilewati begitu saja. Namun ayahnya sudah maklum dengan peristiwa yang selalu terjadi sebulan sekali ini. Kotak surat itu kini terisi lagi. Andi selalu tak sabar untuk membaca surat dari mamanya.


Tak berapa lama, Andi kembali ke meja makan dengan amplop yang masih utuh.

“Dari mama, yah!” Serunya dengan wajah sumringah.

Ayahnya tersenyum, “Ayo cepat baca, pasti dia juga mau bilang sayang ke ayah.Kini senyumnya tampak nakal, menggoda anak satu-satunya yang kini sudah 18 tahun.

“Ih, ayah ganjen. Tapi pasti lah mama sayang sama ayah,” jawab Andi sambil menyobek dan menarik isi surat itu.

Lipatan surat itu mulai dibukanya.

Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.,
Anakku yang tampan, apa kabar nih? Mama harap kamu baik, dan selalu menyebar kebaikan.
Terus, cowokku tercinta masih setia, kan? Tolong awasin dia ya, nak. Laporkan saja ke mama kalau ada gelagat mencurigakan.

“Huu, paling dia yang main mata sama bule di sana!” timpal ayah bercanda. Andi tersenyum.

“Aku teruskan ya, yah?”

Keadaan mama di sini juga baik, nak. Sangat baik malah. Sekarang mama ada di New Zealand. Masya Allah, pemandangannya indah sekali, kebesaran Tuhan semakin jelas di sini. Itu mama ada mengambil beberapa foto, biar kamu juga bisa merasakannya.
Sekolah kamu bagaimana, nak? Masih rajin kan? Anak mama harus selalu semangat. Tapi semangatnya jangan karena cewek ya…

“Tuh… ingat pesan mama.Lagi-lagi pria tua namun ‘muda’ itu mengoceh.

“Iya, iya, tenang saja yah.”

Tentang tanggal 22 Desember itu, mama minta maaf ya sayang. Kali ini mama lagi-lagi tidak bisa menghadirinya.
Doakan saja tahun depan bisa. Tetap semangat anak ku! Jangan lupa kirimi mama mu ini doa ibu-bapak.
Sayang & rindu kalian…
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.

“Sabar ya, nak.Pria dewasa itu menepuk bahu jagoannya, wajahnya menunjukkan rasa simpatik.
Andi menghela nafas. Keceriaan yang tadi sempat terlihat, kini menguap entah kemana. Lagi-lagi tahun ini dia harus menegarkan hatinya. Sudah dua tahun terakhir ini mamanya tidak datang ke acara perayaan peringatan hari ibu di SMA-nya. Tahun depan belum tentu Andi masih di SMA ini.

Sebenarnya Andi sangat mengharapkan mamanya datang pada acara tahun ini. Selain dia ingin merayakannya bersama mama, dia sangat ingin bertemu dengan mamanya.

Dia belum pernah melihat mamanya, bahkan mendengar suaranya pun belum. Kata ayah, Andi sudah ditinggal mamanya sejak dia berumur satu tahun. Mamanya berkelana ke negara-negara di dunia untuk mencari inspirasi puisinya. Namun tanpa alasan jelas, dia tidak pernah pulang-pulang lagi. Meski setiap bulan suratnya selalu datang.

Ketika Andi bersekolah dasar hingga SMP, mamanya mengirim SMS untuk berkomunikasi. Tetapi selalu tidak ada jawaban apabila ditelpon oleh Andi. Beliau terkadang juga mengirim MMS untuk menunjukkan pemandangan atau arsitektur di negara yang sedang dikunjunginya, namun pada foto-fotonya tidak terdapat wajahnya.

Namun saat Andi duduk di kelas VIII, mamanya tidak menggunakan handphone lagi, dia hanya mengirim surat.

Andi kemudian merapikan surat itu kembali. Dia sempatkan untuk melihat foto-foto kiriman mamanya. Sama seperti biasanya, hanya pemandangan. Tanpa ada potret mamanya.

Tanpa gairah, susu dingin itu ditenggaknya. Ayahnya memperhatikan anak malang itu dengan penuh keprihatinan.

-----------------------------------o0o--------------------------------------

“Hai, Di! Dua minggu lagi nih. Mama mertuaku entar datang gak?” Goda Wiwid yang juga baru mencapai gerbang sekolah.

“Lagi-lagi gak bisa, Wid.Senyum Andi tipis, berusaha menyembunyikan kekecewaan itu.

“Sabar ya, Di. Suatu saat mama kamu pasti datang kok. Tidak ada orang tua –apa lagi mama– yang melupakan anaknya begitu saja. Anak yang selama sembilan bulan dia rawat dalam rahimnya yang begitu tipis,” kata teman baiknya dengan penuh keseriusan.

Andi hanya mengangguk sedikit.

“O ya, Di. Kenapa kamu tidak tanya, kapan beliau bisa pulang?” Tiba-tiba Wiwid mengusulkan sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan Andi.

Andi langsung bersemangat, api itu terlihat di wajahnya.

“Kebetulan, aku belum membalas surat mamaku pagi ini. Sehabis sekolah, kita sama-sama menulis surat untuk mamaku ya. Sama ayahku juga di rumah!”

Wiwid tersenyum senang, akhirnya pagi ini dia bisa mencerahkan hati seorang sahabat, secerah mentari hari ini.

----------------------------------o0o------------------------------------

Dengan kencang Andi berlari menuju rumahnya, Wiwid tertinggal beberapa meter di belakangnya. Di teras yang terbuat dari kayu Ulin itu, Andi duduk untuk melepas sepatunya. Wiwid datang dengan nafas yang terengah.

“Assalamualaikum,” bersamaan dengan terbukanya pintu rumah, suara itu terucap dari ayahnya Andi.

“Waalaikum salam, om,” jawab Wiwid dengan masih terengah-engah. Ayahnya Andi tersenyum pada tamunya.

“Ayo yah, kita balas surat mama. Kita tanya, kapan mama bisa pulang.”

“Oo, jadi karena itu ya kamu seperti kesetanan. Ayah kira ada apa tadi?” responnya, dengan senyum kembali menghias  wajahnya. “Ayo ambil pulpen dan kertasmu. Biar ayah siapkan amplopnya. Nanti kita sama-sama pergi ke kantor pos, kali ini kita pakai surat kilat.”

“Yang benar, yah? Mantap!” seru Andi. Wajahnya seperti  orang yang baru dapat uang dari reality show.
Andi mulai mengeluarkan pulpen dan kertas. Bersama Wiwid, mereka duduk bersila di teras Ulin seluas 2x7 meter itu, memulai suratnya dengan salam. Sedangkan ayahnya masuk ke rumah untuk mengambil amplop.

Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.,
Alhamdulillah kabar kami di sini baik ma. Tentang ayah, sepertinya dia mulai main sama perempuan lain ma

“Beneran begitu ya, Di?” tanya Wiwid terkejut.

“Tidak juga sih, tapi biar mama pulang, Wid…” senyumnya terlihat licik kali ini.

“Eh, tidak boleh begitu, bagaimanapun kuatnya keinginan kamu untuk bertemu mama, kamu tidak boleh berbohong. Sama mama sendiri lagi. Ya?” tegurnya dengan sopan.

“Bohong apanya, Wid?” ayah tiba-tiba sudah ada di samping mereka dengan amplop panjang di tangannya. Dia kemudian melirik ke tulisan Andi.

“Eh, apa-apaan tuh? Huu… ngaco kamu, ayo coret!” kata ayah seraya memukul bahu Andi dengan pelan, wajahnya tersenyum santai.

“Hehe… ya sudah kita ganti kertas saja.”

Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.,
Alhamdulillah kabar kami baik ma. Tentang ayah, dia setia banget ma, malah setiap berpapasan dengan wanita tidak lupa untuk ghadul bashar. (usulan ayah)
Sekolah ku alhamdulillah lancar, semangat terus membara, soalnya ada seseorang dengan inisial W, ma. Dia sangat mengganggu pikiran ku untuk terus berprestasi. Kalau mama mau tegur dia, datang saja langsung ke sini ma. (hasil diskusi Andi, Wiwid, dan ayah)
Tentang acara tahunan di sekolah kami, ya sudah lah kalau memang mama masih sibuk. Tapi mama kapan pulang? (tulisan Andi)
Di luar sana pasti karya mama laku ya. Tapi kok aku gak pernah lihat buku puisi dengan nama Vidha Pertiwi? Atau setidaknya tuliskan salah satu karya mama pada surat mama yang berikutnya. (tulisan Andi juga)
Untuk doanya, selalu setiap habis shalat ma. Insya Allah istiqamah. Dan tolong, pulang lah, ma
Aku percaya kalau mama kangen dan sayang kami, karenanya pulang lah.
Miss u ma,
Assalamualaikum Wr. Wb. Wm. Wr.

--------------------------------o0o-------------------------------

“Di, siapkan hatimu untuk menerima kabar baik,” kata ayah dengan senyum lebar ketika mereka makan siang di restoran.

Senyum Andi pun melebar, dia sudah tau ayahnya mau mengatakan tentang apa.

“Tadi mama nelpon, katanya tanggal 26 Januari dia datang.”

“Yang benar, yah? Mana nomer telponnya? Ayo kita telpon lagi,” seru Andi membuka telapak tangannya, meminta ponsel ayahnya.

“Mama nelpon lewat wartel,” jawab ayahnya.
Andi kembali kecewa.

“Ayolah, tinggal satu bulan lagi kok,” kata bapak itu menghibur anaknya.
Andi kembali tersenyum. Bagaimanapun, ini sesuatu yang sangat membahagiakan baginya. Dia pun makan dengan penuh nafsu siang ini.

---------------------------------o0o----------------------------------

“Kok kita malah disuruh menunggu di sini sih, Di? Bukannya di bandara, malah di taman,” Wiwid heran dengan peraturan yang dibuat ayahnya Andi.

Sebenarnya Wiwid tidak dijinkan ikut, tapi karena dia bersikeras, ayah mengizinkannya. Meskipun ketika mama datang, Wiwid harus menjaga jarak minimal sepuluh meter. Kecuali setelah keluarga ‘merindu’ itu sudah selesai berbicara.

“Aku tidak peduli, yang penting hari ini penantian ku berakhir,” senyum kebahagiaan itu tak pernah hilang dari Andi semenjak pagi tadi.

Sebuah mobil sedan biru-putih dengan siluet burung biru, singgah di salah satu sisi Ruang Terbuka Hijau itu. Seorang laki-laki dan perempuan turun dari pintu samping yang berlainan.

Andi dan Wiwid kemudian berdiri, hendak menghampiri dua orang itu. Dari kejauhan, ayahnya Andi tersenyum pada Wiwid. Teringat akan sesuatu, Wiwid menahan langkahnya, sedangkan Andi tetap menyongsong pasangan itu.

Dari kejauhan Wiwid menyaksikan peristiwa mengharukan ini. Anak itu langsung sungkem pada wanita itu. Ada yang aneh, taksi itu langsung pergi. Tidak ada tas besar yang diturunkannya. Namun Wiwid lebih tertarik pada drama ini.

Ada pembicaraan panjang dan serius terjadi di sana, antara ayahnya Andi dan Andi, tidak dengan orang yang mereka nanti-nanti itu. Dia hanya tersenyum anggun seraya merangkul Andi yang fokus terhadap apa yang dikatakan ayahnya. Secara berangsur, kecerahan wajah Andi menipis, hingga akhirnya butir bening menetes dari sudut matanya.

Mereka kemudian berjalan menuju Wiwid. Tampak sebuah keluarga utuh, ayah, ibu, dan anak yang diapit di tengah. Kebahagiaan terlihat di sana, apabila sosok di tengah ditiadakan. Atau setidaknya ada senyum pada anak itu.

“Ayo kita ke rumah.Ajak ayahnya Andi dengan ramah pada Wiwid.

Perempuan itu dan Andi tersenyum pada Wiwid. Wiwid menatap heran sekaligus prihatin pada Andi. Namun sekarang dia terlalu takut untuk bertanya.

Dengan senyum yang teramat tipis –bahkan hampir bisa dikatakan bukan sebuah senyuman– Andi berkata pada Wiwid, “Mulai hari ini aku tidak lagi menerima surat dari mamaku.”

------------------------------o0o------------------------------

Setelah taksi itu pergi, terjadi pembicaraan serius antara Andi dan ayahnya. Sedangkan perempuan yang dinanti-nantikan Andi itu sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan, dia hanya tersenyum tipis sembari merangkul Andi.

“Andi,” ucap Ayah dengan agak ragu. Dia menahan kalimatnya sejenak, “sebelumnya ayah minta maaf, telah membohongi kamu selama ini.”

“Maksud ayah?” Andi mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi, namun dia tidak mau menebak. Andi melirik pada perempuan yang sedang merangkulnya.

“SMS-SMS, foto, surat, kabar dari mama, semuanya bohong. Semuanya adalah buatan ayah. Mama tidak pernah berhubungan dengan kita. Dia tidak pernah mengirim SMS maupun surat,” Ayah menjelaskan dengan menatap mata Andi.

Mata Andi mulai berkaca, setengah tidak terima atas perlakuan ayah terhadap hatinya.

“Kenapa, yah?” Suara Andi bergetar.

“Sebenarnya mama sudah meninggal tujuh belas tahun yang lalu. Ayah sangat mencintai mama kamu. Ayah takut kamu akan meminta ayah mencari mama baru untuk kamu. Karena itulah ayah membuat seolah-olah mama masih ada...”

Andi menarik nafas besar. Berusaha menerima kenyataan.


“Namun berkat tante Via, pemikiran ayah terbuka. Ayah tidak mau lagi membohongi kamu. Dan sekarang, kamu akan punya mama yang baru,” ucap ayah sambil melirik pada perempuan yang masih merangkul Andi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar