Lagi-lagi, malam ini ibu bangun telat. Beliau tergesa-gesa
menyiapkan makan sahur kami, aku dan adikku. Aku yang baru bangun, tentunya
tidak tinggal diam melihat ibu bekerja sendirian, meskipun aku sebenarnya juga
masih sangat capek. Semalaman, sehabis tarawih aku dan ibu membuat kue lapis.
Setiap Ramadhan, kue lapis kami selalu laris di pasar Ramadhan.
-o0o-
Setiap sore, pasar Ramadhan ini dikunjungi banyak orang.
Pasar ini merupakan jalan umum yang disulap menjadi pasar dengan beberapa tenda
yang didirikan di pinggir-pinggir jalannya. Di sinilah kami, aku, adik, dan
ibuku.
“Satu bungkus ya, bu!”
“Iya, bu, tunggu sebentar ya...” jawab ibuku sambil sibuk
membungkus pesanan yang lain, “Lia, kamu tolong bungkusin ya.”
Tanpa menyahutnya, aku langsung menghampiri ibu yang baru
memesan tadi.
“Kuenya yang mana, tante?”
“Yang itu saja,” tunjuknya pada salah satu kue yang tinggal
seperdelapan loyang itu. Aku langsung membungkusnya.
Sukurlah hari ini adikku tidak terlalu rewel, jadi aku dan
ibu bisa fokus ke pelanggan. Ditambah lagi, kali ini jualan kami lebih cepat
habisnya dari hari sebelumnya.
Kami pun pulang, dan baru kali ini kami buka puasa di rumah.
Biasanya selalu di pasar Ramadhan. Setelah berbuka dan shalat magrib, aku
menemani adikku menonton televisi. Hingga tidak terasa waktu shalat isya tiba.
“Bu, sudah isya. Kita ke masjid, yuk,” aku
menggoyang-goyangkan badannya yang sedang berbaring di kamar.
“Hari ini kamu sendirian aja ya, sayang. Mama sedang tidak
enak badan nih,” kata beliau dengan muka yang meringis.
“Oh, baiklah, bu. Ibu istirahat saja. Biar besok kita tidak
usah berjualan dulu,” aku menyarankan, “Sidik...! Tolong temani ibu di sini.”
Aku pun berangkat sendirian dengan meninggalkan ibu bersama
Sidik, adikku. Kuharap ibu baik-baik saja. Namun suatu hal mengejutkanku ketika
aku pulang tarawih. Aku menemukan ibu sedang sibuk membuat kue lapis di dapur.
“Eh, sudah pulang? Ibu sudah agak mendinga, sayang. Gak papa
kok,” beliau tersenyum.
“Tapi bu...”
“Sudah lah, lagian ini juga sudah terlanjur ibu buat. Masa
kita tinggalin begitu saja,” tunjuknya ke loyang yang sedang dikerjakannya.
Aku pasrah, dan kami pun meneruskan pekerjaan malam itu.
Besok sore kami membawanya lagi ke pasar Ramadhan. Seperti kemarin, dagangan
kami sudah habis sebelum jam enam!
“Wah, sepertinya kita harus menambah jualan kita nih, Ya!”
seru ibuku bersemangat. Aku pun juga ikut menunjukkan semangat itu lewat senyum
lebar dan wajah sumringahku.
“Ibu malam ini libur dulu. Pinggang ibu sakit,” ucap beliau
ketika aku mengajaknya ke masjid. Sepulang aku pulang tarawih, kutemukan
lagi-lagi dia sedang sibuk membuat kue lapis. Begitu setiap hari.
Sore ini, kami membawa kue lapis sangat banyak. Bahkan ibu
meminta bantuan Om Hamberi untuk membawakan beberapa kue lapis ke pasar
Ramadhan. Namun sore ini sungguh mengejutkan, lebih dari setengah kue yang kami
bawa, kami bawa kembali lagi ke rumah. Padahal cuaca cerah, pengunjung pun
tidak kalah banyak dengan hari-hari sebelumnya. Di ruang tengah itu, ibu
menangis.
“Kok gini ya, Ya?” beliau terisak, aku menghampirinya, duduk
disampingnya.
“Ibu, makasih ya sudah gigih mencarikan nafkah untuk kami.
Ibu tetap tegar meski ayah gak ada lagi. Lia sangat senang ketika beberapa hari
yang lalu kue lapis kita laku deras. Tetapi Lia akan lebih senang lagi jika ibu
bisa tetap banyak beribadah di bulan ini, mensyukuri apa yang telah Allah
berikan,” mataku mulai berkaca, “Bagi Lia, keindahan Ramadhan itu ketika kita
mendapatkan rezeki yang lebih, lalu kita bisa tetap semangat beribadah. Semua
yang ibu kasih sudah cukup kok, bu. Biar tidak perlu ibu tambah lagi penjualan
kita, Lia dan Sidik sudah merasa cukup. Lia gak mau ibu sakit...”
“Maafin ibu ya, sayang,” tangis beliau pun pecah dalam dekapan peluknya yang sangat erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar