Sabtu, 13 September 2014

Kue Lapis

Lagi-lagi, malam ini ibu bangun telat. Beliau tergesa-gesa menyiapkan makan sahur kami, aku dan adikku. Aku yang baru bangun, tentunya tidak tinggal diam melihat ibu bekerja sendirian, meskipun aku sebenarnya juga masih sangat capek. Semalaman, sehabis tarawih aku dan ibu membuat kue lapis. Setiap Ramadhan, kue lapis kami selalu laris di pasar Ramadhan.

-o0o-

Setiap sore, pasar Ramadhan ini dikunjungi banyak orang. Pasar ini merupakan jalan umum yang disulap menjadi pasar dengan beberapa tenda yang didirikan di pinggir-pinggir jalannya. Di sinilah kami, aku, adik, dan ibuku.

“Satu bungkus ya, bu!”


“Iya, bu, tunggu sebentar ya...” jawab ibuku sambil sibuk membungkus pesanan yang lain, “Lia, kamu tolong bungkusin ya.”

Tanpa menyahutnya, aku langsung menghampiri ibu yang baru memesan tadi.

“Kuenya yang mana, tante?”

“Yang itu saja,” tunjuknya pada salah satu kue yang tinggal seperdelapan loyang itu. Aku langsung membungkusnya.

Sukurlah hari ini adikku tidak terlalu rewel, jadi aku dan ibu bisa fokus ke pelanggan. Ditambah lagi, kali ini jualan kami lebih cepat habisnya dari hari sebelumnya.

Kami pun pulang, dan baru kali ini kami buka puasa di rumah. Biasanya selalu di pasar Ramadhan. Setelah berbuka dan shalat magrib, aku menemani adikku menonton televisi. Hingga tidak terasa waktu shalat isya tiba.

“Bu, sudah isya. Kita ke masjid, yuk,” aku menggoyang-goyangkan badannya yang sedang berbaring di kamar.

“Hari ini kamu sendirian aja ya, sayang. Mama sedang tidak enak badan nih,” kata beliau dengan muka yang meringis.

“Oh, baiklah, bu. Ibu istirahat saja. Biar besok kita tidak usah berjualan dulu,” aku menyarankan, “Sidik...! Tolong temani ibu di sini.”

Aku pun berangkat sendirian dengan meninggalkan ibu bersama Sidik, adikku. Kuharap ibu baik-baik saja. Namun suatu hal mengejutkanku ketika aku pulang tarawih. Aku menemukan ibu sedang sibuk membuat kue lapis di dapur.

“Eh, sudah pulang? Ibu sudah agak mendinga, sayang. Gak papa kok,” beliau tersenyum.

“Tapi bu...”

“Sudah lah, lagian ini juga sudah terlanjur ibu buat. Masa kita tinggalin begitu saja,” tunjuknya ke loyang yang sedang dikerjakannya.

Aku pasrah, dan kami pun meneruskan pekerjaan malam itu. Besok sore kami membawanya lagi ke pasar Ramadhan. Seperti kemarin, dagangan kami sudah habis sebelum jam enam!

“Wah, sepertinya kita harus menambah jualan kita nih, Ya!” seru ibuku bersemangat. Aku pun juga ikut menunjukkan semangat itu lewat senyum lebar dan wajah sumringahku.

“Ibu malam ini libur dulu. Pinggang ibu sakit,” ucap beliau ketika aku mengajaknya ke masjid. Sepulang aku pulang tarawih, kutemukan lagi-lagi dia sedang sibuk membuat kue lapis. Begitu setiap hari.

Sore ini, kami membawa kue lapis sangat banyak. Bahkan ibu meminta bantuan Om Hamberi untuk membawakan beberapa kue lapis ke pasar Ramadhan. Namun sore ini sungguh mengejutkan, lebih dari setengah kue yang kami bawa, kami bawa kembali lagi ke rumah. Padahal cuaca cerah, pengunjung pun tidak kalah banyak dengan hari-hari sebelumnya. Di ruang tengah itu, ibu menangis.

“Kok gini ya, Ya?” beliau terisak, aku menghampirinya, duduk disampingnya.

“Ibu, makasih ya sudah gigih mencarikan nafkah untuk kami. Ibu tetap tegar meski ayah gak ada lagi. Lia sangat senang ketika beberapa hari yang lalu kue lapis kita laku deras. Tetapi Lia akan lebih senang lagi jika ibu bisa tetap banyak beribadah di bulan ini, mensyukuri apa yang telah Allah berikan,” mataku mulai berkaca, “Bagi Lia, keindahan Ramadhan itu ketika kita mendapatkan rezeki yang lebih, lalu kita bisa tetap semangat beribadah. Semua yang ibu kasih sudah cukup kok, bu. Biar tidak perlu ibu tambah lagi penjualan kita, Lia dan Sidik sudah merasa cukup. Lia gak mau ibu sakit...”

“Maafin ibu ya, sayang,” tangis beliau pun pecah dalam dekapan peluknya yang sangat erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar