Senin, 08 September 2014

PENGERAT VS PEMBUNUH BERKAKI DUA

“Mereka habis berpesta! Malam ini pun kita juga akan berpesta!” seru Gembul girang, seraya mengintip keluarga Pak Tono dari balik kisi-kisi loteng.

“Ya, tapi tetap saja itu makanan sisa,” jawab Kuskus, tidak bersemangat.

“Meskipun kita tikus, kita bukan pencuri makanan manusia! Kita adalah pembersih sampah mereka. Kita hanya mengambil makanan yang mereka buang, tidak mencurinya! Kita, bukan pencuri!” begitulah orasi dari Master Hams, tikus tertua di kerajaan mereka, tikus pemimpin di loteng rumah Pak Tono. Titah dasar yang selalu diingat dan tidak boleh dilanggar oleh mereka.


“Itu memang makanan sisa, tapi tetap enak, dan aku… pasti akan kekenyangan lagi,” jawab Gembul penuh obsesi, matanya ke atas, membayangkan saat-saat terindah bersama tart yang kini menjadi incarannya.
Kuskus hanya memutar matanya, lelah dengan teman gendutnya. Kemudian dia berjalan ke belakang, meninggalkan gembul yang masih setia menunggu pesta usai.

“Gembul, ayo turun!” panggil Fang seraya berlari melewati Gembul bersama teman-temannya.

“Hah, hah? Pestanya sudah selesai ya?” tanya Gembul, bangun dari tidurnya.

“Ayo cepat, yang lain sudah pada turun!” teriak Fang dengan jarak yang semakin menjauh.
Tanpa bertanya-tanya lagi, Gembul pun melangkahkan kaki kecilnya dengan cepat. Menuju sumber makanan, tempat sampah.

“Huh, dasar makhluk-makhluk kotor,” gumam Kuskus, berjalan santai di atas lemari makan. Jauh dari koloninya. “Padahal ini lebih enak, kebersihannya terjamin,” pintu lemari makan berhasil dibukanya. Berbagai bolu dan keju menyambutnya. “Ini baru pesta.”

-------------------------o0o-----------------

“Mana Kuskus?” Master Hams menanyakan anaknya pada Gembul, mulutnya masih penuh dengan roti.

“Gak tau,” jawab Gembul seadanya, remah roti berhamburan dari mulutnya.

“Dia tidak mencuri makanan ke dapur, kan?” tanyanya lagi, khawatir dengan pola pikir anaknya.

“Tidak mungkin, dia kan anak bapak,” Gembul tak mau ambil pusing, dia tetap asik dengan makanannya.
Lagi asik-asiknya mereka berpesta, pintu kamar Andi –anak tertua Pak Tono– keluar dari kamar, semua tikus di sekitar tempat sampah terdiam, takut ketahuan. Beruntung, Andi tidak menyadarinya, dia menuju dapur.

“Fiuuh, hampir saja,” kata Fang.

“Aaaa!” terdengar teriakan seorang laki-laki dari arah dapur.

PRANG‼ Master Hams langsung berlari ke dapur, tikus lainnya pulang dengan ergesa-gesa ke loteng.
Di dapur itu, kini Kuskus berhadapan dengan Andi. Kuskus berdiri di atas meja makan dengan kuda-kuda siap berlari, sedangkan andi di samping meja itu sedang memegang gelas, bersiap melemparkannya pada Kuskus.

“Kau tau kan? Pencuri merupakan mush bagi bagi kami!” geram Andi.

Hop! Dengan satu lompatan gesit, Kuskus berhasil melarikan diri. Gelas melayang cepat di belakangnya, 
baru saja Andi melemparkannya.

“Ada apa ini?” tanya Pak Tono yang tiba dari kamarnya. Penasaran dengan keributan yang terjadi.

“Ada tikus yang membuka lemari makan kita, yah…” adu Andi.

“Sialan! Baiklah, besok kita pasang jebakan!”

-------------------o0o------------------

Di loteng, kerajaan tikus, Kuskus habis-habisan dimarahi ayahnya.

“Sudah ayah katakan, jangan pernah mengambil punya orang lain. Sekarang kau tahu sendiri kan akibatnya? Hampir saja kau terbunuh,” Master Hams mengitari anaknya penuh amarah, seraya kembali memberikan kuliah. “Dan kau tahu, apa lagi yang terjadi? Kita telah masuk daftar musuh mereka, mereka siap untuk membasmi kita. Kau telah membahayakan koloni mu!” Master Hams berjalan ke belakang. Meninggalkan anaknya, membiarkan dia sendiri untuk berpikir. “Terkahir, berhati-hatilah, sekarang mereka sudah memasang banyak jebakan.”

Kuskus berjalan gontai ke tempat tidurnya, menyesali apa yang telah diperbuatnya. Kini semua penghuni loteng terancam karena ulahnya.

“Dengarlah rakyat ku,” seru Master Hams, “kini Pak Tono merupakan musuh bagi kita, mereka telah memasang jebakan untuk membunuh kita. Karenanya, hati-hatilah melangkah, waspadalah dengan apa yang kalian makan, jangan sampai kalian malah mengambil racun,” Master Hams mengingatkan semua penduduk loteng, pidato darurat dari sang pemimpin.

Kasak-kusuk terjadi. Ada yang menyalahkan Kuskus, ada juga yang menangis ketakutan.

“Tapi kalian tenang saja, selama kalian tidak memperparah keadaan, semua ini akan dapat kita perbaiki. Kalau pun keadaan semakin memanas, kita masih punya Mariangin Squad,” kata Master Hams, menutup pidatonya malam itu.

-----------------o0o-----------------

“Sudah seminggu sejak peristiwa di dapur, kita belum menemukan satu pun tikus bajingan itu. Sekali pencuri, tetap pencuri. Kita harus menghukumnya,” kata Pak Tono di hadapan seluruh anggota keluarganya.
Andi mendengarkan penuh gairah, adiknya hanya memandang lekat pada ayahnya, sedangkan nenek acuh dan sibuk dengan kacang yang tak satupun berhasil di kunyahnya.

“Untuk itu, di sini ayah memberikan sayembara. Siapapun yang berhasil menangkap tikus itu, baik hidup maupun mati, akan ayah beri hadiah. Black berry Gemini!”

“Serius, yah?” adiknya Andi mulai tertarik.

“Aku pasti mendapatkan banyak binatang menjijikan itu,” kata Andi memanas-manasi adiknya.

“Aku ikut!” crack-cack, senapan dikokang. Kini nenek berdiri gagah dengan shoot gun yang baru saja dikokangnya.

“Bagus,” Pak Tono tersenyum penuh kemenangan, “Perang dimulai!”

Ludah itu tak sanggup ditelan Kuskus, saking takutnya ia mendengar apa yang barusan keluarga itu bicarakan. Koloninya kini benar-benar terancam.

“Nek, disini ada satu!” teriak adik dari dapur.

Dengan cekatan, nenek berlari dari ruang keluarga, sofa yang menghalanginya dia loncati, shoot gun yang tersandang di punggungnya sama sekali tidak mengganggunya.

Gembul terpojok di sudut dinding dapur. Nafasnya turun naik dengan cepat. Adik menjaganya dengan Teflon yang tergenggam di tangan, menjaga agar gembul tidak lari.

Nenek tiba dan langsung membidik gembul… Dor! Ujung senapan itu tiba-tiba terayun ke bawah. Gembul selamat dan langsung ambil langkah seribu.

Nenek memfokuskan matanya pada sesuatu yang  menimpa ujung senjatanya barusan. Seekor tikus besar! Berpakaian serba hitam, lenkap dengan rompi anti peluru, di punggungnya bertuliskan: Mariangin Squad.
Nenek kembali mengarahkan senapannya pada pengganggu belagu itu, dua tembakan dilepaskannya. Namun tikus itu lebih gesit, berlari zig-zag mendekat pada nenek. Nenek menembak lagi, tetap tikus lincah itu dapat menghindar, dan sekarang mulai meniti laras shoot gun tersebut. Hingga ia mencapai tanan nenek…

“Aaauw!” shoot gun itu pun terlepas dari pegangannya, nenek kemudian berlari keluar sambil menangis.  “Kau jahat…” erangnya.

Tikus hebat itu pun juga berlari, namun tanpa tangisan, melainkan senyum kebanggaan.

“Mau kemana kau?” seekor kucing hitam tiba-tiba mengagetkannya di depan pintu.

Kini mereka berhadapan, sama-sama terdiam, mewaspadai gerakan selanjutnya dari masing-masing lawan.

“Haha… mati kau tikus!” Pak Tono datang dari belakang kucing hitam.

“Kau pikir kau bisa menangkap aku?” tantang tikus pasukan Mariangin Squad itu.

“Heh, rupanya kau belum pernah mendengar tentang Cow Ching, ya? Kucing jantan belang tiga yang menjadi kucing hitam, karena kesaktiannya,” jawab kucing itu angkuh.

“Itu kamu?”

“Bukan sih, tapi aku… lebih hebat darinya!” kucing itu langsung menyerang, namun si tikus lagi-lagi berhasil menghindar, lalu berlari ke tempat persembunyiannya.

Kucing hitam tak mau ketinggalan, ia tetap mengejar.

“Ayo Ket, kalau kamu berhasil, satu bungkus Whiskes mala mini menemanimu tidur,” Pak Tono juga terus memberikan semangat sambil mengikuti Ket berlari.

PLOP! Lubang bulat di dinding itu menjadi akhir dari kejar-kejaran mereka. Tikus dari Mariangin Squad berhasil masuk ke dalamnya.

Sambutan meriah pun membahana di balik dinding itu, semua koloni terkumpul di sana.

“Selamat Ret, kamu berhasil lagi membuktikan betapa hebatnya Mariangin Squad,” Master Hams menyalami Ret. “Mereka pasti jera.”

“O-em-je…” pekik Pak Tono, kaget melihat betapa banyaknya tikus di balik dinding itu.

“Andi, cepat ambilkan gas tikus di lemari berkebun kita!” perintah Pak Tono.

Serentak semua koloni terdiam, kaget, dan takut. Gas tikus merupakan senjata pemusnah masal yang tak pernah gagal memusnahkan puluhan, bahkan ratusan tikus secara serentak.

“Semuanya cepat  mengungsi! Mariangin Squad, gagalkan Andi mengambil gas tikus. Kalau kalian bisa, hancurkan benda sialan itu!” perintah Master Hams.

Suasana tegang, huru-hara terjadi. Anak-anak dan orang tua banyak yang menangis. Mariangin Squad bergegas, tidak lupa mereka mengenakan masker filter, persiapan seandainya mereka gagal.

Enam tikus berpakaian serba hitam itu pun berlari  menuju gudang. Andi sudah mengambil benda itu, dan melangkah keluar.

“Ayo!” seru Ret mengulurkan kedua tangannya kepada Mos.

Mengerti dengan maksud Ret, Mos menyambut tangan Ret dengan kedua tangannya. Dengan sedikit gerakan memutar dari Ret, Mos dilemparkan ke arah Andi. Empat temannya yang lain serentak mengepung Andi.

TAP! Pendaratan yang sempurna, di tangan Andi. Karena kaget, Andi pun menjatuhkan gas tikus. Empat tikus terlatih itu berhasil menangkapnya, lalu membawanya lari.

“Hey kembalikan!” teriak Andi, mengejar tikus-tikus itu. Mos telah dicampakannya ke dinding, namun keadaannya masih baik.

Tikus-tikus itu membawanya sampai keluar rumah, Andi kewalahan mengejarnya.

“Lama banget sih,” gerutu Pak Tono yang masih menunggu di depan dinding persembunyian tikus-tikus tadi. Dia pun memutuskan untuk mengambil sendiri gas itu.

Betapa kaget Ret melihat kedatangan Pak Tono ke gudang, mereka hanya tinggal berdua. Tidak mungkin bisa menanggulanginya.

“Roger, roger, keadaan darurat, kode 1207. Posisi 11 poin 30. Segera!” Ret mengabarkan dari handy talkie-nya. Tidak ada jawaban.

“Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya Ret pada Mos.

“Berdoa saja semoga mereka tidak apa-apa. Sebaiknya sekarang kita mengalihkan perhatian Pak Tono,” saran Mos.

“Aha! Begini…” Ret berbisik pada Mos.

Brukh‼ Pak Tono kaget dengan suara jatuh itu, dia menolehnya.

“Haha… Satu mati, pasti kau makan racun tikus ya? Hahaha,” tawanya, senang.

Tanpa disadarinya, di dalam lemari itu sudah ada Ret yang menyulut sumbu gas tikus dengan puntung rokok.
Pak Tono pun kaget, dia langsung menutup pintu lemari itu dengan Ret tetap di dalam.

 Terdengar bunyi mendesis dari dalam lemari, disusul asap hijau keluar dari celah pintu lemari itu.

“Hahaha… mati kau!” seringai Pak Tono tampak lagi.

“Reeeeet‼” Mos berteriak histeris, tidak terima rekannya tewas oleh gas tersebut.

“Tenang Mos, aku masih hidup, uhuk… uhuk… aku memakai masker,” jawab Ret dari radio komunikasi mereka. “Setidaknya koloni sudah aman, di lemari ini sudah tidak ada lagi gas tikus.”

“Oh, syukur lah, Ret. Setelah orang ini pergi dari sini, aku akan mengeluarkan mu.”

“Oh, hey Andi, itu langsung nyalakan saja, masukkan ke lubang yang ada di dinding samping kulkas,” Pak Tono menginstruksikan kepada Andi yang lewat dengan membawa gas tikus yang berhasil direbutnya kembali.

“Gawat Ret, gas tikusnya masih ada, Andi berhasil merebutnya dari teman-teman! Mohon perintahnya, Ret!” Mos melaporkan, minta perintah untuk tindakan selanjutnya. “Ret? Ret? Kau dengar aku?” tidak ada jawaban. “Sialan…”

Mos berlari mengejar Andi, Pak Tono pun kaget, lalu juga turut mengejar Mos.

“Andi, cepat masukkan gas itu ke lubang! Tikus itu bisa menggagalkan mu kalau kamu lambat!” kata Pak Tono menunjuk Mos.

“Siap!”

Andi langsung melemparkan gas itu ke lubang, keahliannya sebagai pitcher di tim baseball sekolahnya berguna. BLEPH! Benda itu masuk, Mos berinisiatif untuk  meluncur, PLOP! Tubuh besar Mos juga turut masuk. Bunyi mendesis kembali terdengar, Mos tidak sempat memadamkan nyala sumbu itu. Tapi ia sempat mengenakan masker. Dia juga sempat melihat sekeliling ruang itu, koloni sudah habis, sukses dengan pengungsiannya.


Asap hijau keluar dengan mengepul. Mos berjalan menuju lubang keluar, dia pun akhirnya keluar bersama asap beracun itu. Bunga-bunga dan rumput terhampar di hadapannya, masker dilepaskannya untuk merasakan segarnya udara di luar itu. Sayang sungguh sayang, Mos lupa bahwa asap beracun belum habis, dan masih membalut tubuhnya, hingga asap itu pun juga turut memenuhi paru-parunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar