“Mereka habis berpesta! Malam ini
pun kita juga akan berpesta!” seru Gembul girang, seraya mengintip keluarga Pak
Tono dari balik kisi-kisi loteng.
“Ya, tapi tetap saja itu makanan
sisa,” jawab Kuskus, tidak bersemangat.
“Meskipun kita tikus, kita bukan
pencuri makanan manusia! Kita adalah pembersih sampah mereka. Kita hanya
mengambil makanan yang mereka buang, tidak mencurinya! Kita, bukan pencuri!”
begitulah orasi dari Master Hams, tikus tertua di kerajaan mereka, tikus pemimpin
di loteng rumah Pak Tono. Titah dasar yang selalu diingat dan tidak boleh
dilanggar oleh mereka.
“Itu memang makanan sisa, tapi tetap
enak, dan aku… pasti akan kekenyangan lagi,” jawab Gembul penuh obsesi, matanya
ke atas, membayangkan saat-saat terindah bersama tart yang kini menjadi
incarannya.
Kuskus hanya memutar matanya, lelah
dengan teman gendutnya. Kemudian dia berjalan ke belakang, meninggalkan gembul
yang masih setia menunggu pesta usai.
“Gembul, ayo turun!” panggil Fang
seraya berlari melewati Gembul bersama teman-temannya.
“Hah, hah? Pestanya sudah selesai
ya?” tanya Gembul, bangun dari tidurnya.
“Ayo cepat, yang lain sudah pada
turun!” teriak Fang dengan jarak yang semakin menjauh.
Tanpa bertanya-tanya lagi, Gembul
pun melangkahkan kaki kecilnya dengan cepat. Menuju sumber makanan, tempat
sampah.
“Huh, dasar makhluk-makhluk kotor,”
gumam Kuskus, berjalan santai di atas lemari makan. Jauh dari koloninya.
“Padahal ini lebih enak, kebersihannya terjamin,” pintu lemari makan berhasil
dibukanya. Berbagai bolu dan keju menyambutnya. “Ini baru pesta.”
-------------------------o0o-----------------
“Mana Kuskus?” Master Hams
menanyakan anaknya pada Gembul, mulutnya masih penuh dengan roti.
“Gak tau,” jawab Gembul seadanya,
remah roti berhamburan dari mulutnya.
“Dia tidak mencuri makanan ke dapur,
kan?” tanyanya lagi, khawatir dengan pola pikir anaknya.
“Tidak mungkin, dia kan anak bapak,”
Gembul tak mau ambil pusing, dia tetap asik dengan makanannya.
Lagi asik-asiknya mereka berpesta,
pintu kamar Andi –anak tertua Pak Tono– keluar dari kamar, semua tikus di
sekitar tempat sampah terdiam, takut ketahuan. Beruntung, Andi tidak
menyadarinya, dia menuju dapur.
“Fiuuh, hampir saja,” kata Fang.
“Aaaa!” terdengar teriakan seorang
laki-laki dari arah dapur.
PRANG‼ Master Hams langsung berlari
ke dapur, tikus lainnya pulang dengan ergesa-gesa ke loteng.
Di dapur itu, kini Kuskus berhadapan
dengan Andi. Kuskus berdiri di atas meja makan dengan kuda-kuda siap berlari,
sedangkan andi di samping meja itu sedang memegang gelas, bersiap
melemparkannya pada Kuskus.
“Kau tau kan? Pencuri merupakan mush
bagi bagi kami!” geram Andi.
Hop! Dengan satu lompatan gesit,
Kuskus berhasil melarikan diri. Gelas melayang cepat di belakangnya,
baru saja
Andi melemparkannya.
“Ada apa ini?” tanya Pak Tono yang
tiba dari kamarnya. Penasaran dengan keributan yang terjadi.
“Ada tikus yang membuka lemari makan
kita, yah…” adu Andi.
“Sialan! Baiklah, besok kita pasang
jebakan!”
-------------------o0o------------------
Di loteng, kerajaan tikus, Kuskus
habis-habisan dimarahi ayahnya.
“Sudah ayah katakan, jangan pernah
mengambil punya orang lain. Sekarang kau tahu sendiri kan akibatnya? Hampir
saja kau terbunuh,” Master Hams mengitari anaknya penuh amarah, seraya kembali
memberikan kuliah. “Dan kau tahu, apa lagi yang terjadi? Kita telah masuk
daftar musuh mereka, mereka siap untuk membasmi kita. Kau telah membahayakan
koloni mu!” Master Hams berjalan ke belakang. Meninggalkan anaknya, membiarkan
dia sendiri untuk berpikir. “Terkahir, berhati-hatilah, sekarang mereka sudah
memasang banyak jebakan.”
Kuskus berjalan gontai ke tempat
tidurnya, menyesali apa yang telah diperbuatnya. Kini semua penghuni loteng
terancam karena ulahnya.
“Dengarlah rakyat ku,” seru Master
Hams, “kini Pak Tono merupakan musuh bagi kita, mereka telah memasang jebakan
untuk membunuh kita. Karenanya, hati-hatilah melangkah, waspadalah dengan apa
yang kalian makan, jangan sampai kalian malah mengambil racun,” Master Hams
mengingatkan semua penduduk loteng, pidato darurat dari sang pemimpin.
Kasak-kusuk terjadi. Ada yang
menyalahkan Kuskus, ada juga yang menangis ketakutan.
“Tapi kalian tenang saja, selama
kalian tidak memperparah keadaan, semua ini akan dapat kita perbaiki. Kalau pun
keadaan semakin memanas, kita masih punya Mariangin Squad,” kata Master Hams,
menutup pidatonya malam itu.
-----------------o0o-----------------
“Sudah seminggu sejak peristiwa di
dapur, kita belum menemukan satu pun tikus bajingan itu. Sekali pencuri, tetap
pencuri. Kita harus menghukumnya,” kata Pak Tono di hadapan seluruh anggota
keluarganya.
Andi mendengarkan penuh gairah,
adiknya hanya memandang lekat pada ayahnya, sedangkan nenek acuh dan sibuk
dengan kacang yang tak satupun berhasil di kunyahnya.
“Untuk itu, di sini ayah memberikan
sayembara. Siapapun yang berhasil menangkap tikus itu, baik hidup maupun mati,
akan ayah beri hadiah. Black berry Gemini!”
“Serius, yah?” adiknya Andi mulai
tertarik.
“Aku pasti mendapatkan banyak
binatang menjijikan itu,” kata Andi memanas-manasi adiknya.
“Aku ikut!” crack-cack, senapan
dikokang. Kini nenek berdiri gagah dengan shoot gun yang baru saja dikokangnya.
“Bagus,” Pak Tono tersenyum penuh
kemenangan, “Perang dimulai!”
Ludah itu tak sanggup ditelan
Kuskus, saking takutnya ia mendengar apa yang barusan keluarga itu bicarakan.
Koloninya kini benar-benar terancam.
“Nek, disini ada satu!” teriak adik
dari dapur.
Dengan cekatan, nenek berlari dari
ruang keluarga, sofa yang menghalanginya dia loncati, shoot gun yang tersandang
di punggungnya sama sekali tidak mengganggunya.
Gembul terpojok di sudut dinding
dapur. Nafasnya turun naik dengan cepat. Adik menjaganya dengan Teflon yang
tergenggam di tangan, menjaga agar gembul tidak lari.
Nenek tiba dan langsung membidik
gembul… Dor! Ujung senapan itu tiba-tiba terayun ke bawah. Gembul selamat dan
langsung ambil langkah seribu.
Nenek memfokuskan matanya pada
sesuatu yang menimpa ujung senjatanya
barusan. Seekor tikus besar! Berpakaian serba hitam, lenkap dengan rompi anti
peluru, di punggungnya bertuliskan: Mariangin Squad.
Nenek kembali mengarahkan senapannya
pada pengganggu belagu itu, dua tembakan dilepaskannya. Namun tikus itu lebih
gesit, berlari zig-zag mendekat pada nenek. Nenek menembak lagi, tetap tikus
lincah itu dapat menghindar, dan sekarang mulai meniti laras shoot gun
tersebut. Hingga ia mencapai tanan nenek…
“Aaauw!” shoot gun itu pun terlepas
dari pegangannya, nenek kemudian berlari keluar sambil menangis. “Kau jahat…”
erangnya.
Tikus hebat itu pun juga berlari,
namun tanpa tangisan, melainkan senyum kebanggaan.
“Mau kemana kau?” seekor kucing
hitam tiba-tiba mengagetkannya di depan pintu.
Kini mereka berhadapan, sama-sama
terdiam, mewaspadai gerakan selanjutnya dari masing-masing lawan.
“Haha… mati kau tikus!” Pak Tono
datang dari belakang kucing hitam.
“Kau pikir kau bisa menangkap aku?”
tantang tikus pasukan Mariangin Squad itu.
“Heh, rupanya kau belum pernah
mendengar tentang Cow Ching, ya? Kucing jantan belang tiga yang menjadi kucing
hitam, karena kesaktiannya,” jawab kucing itu angkuh.
“Itu kamu?”
“Bukan sih, tapi aku… lebih hebat
darinya!” kucing itu langsung menyerang, namun si tikus lagi-lagi berhasil
menghindar, lalu berlari ke tempat persembunyiannya.
Kucing hitam tak mau ketinggalan, ia
tetap mengejar.
“Ayo Ket, kalau kamu berhasil, satu
bungkus Whiskes mala mini menemanimu tidur,” Pak Tono juga terus memberikan
semangat sambil mengikuti Ket berlari.
PLOP! Lubang bulat di dinding itu
menjadi akhir dari kejar-kejaran mereka. Tikus dari Mariangin Squad berhasil
masuk ke dalamnya.
Sambutan meriah pun membahana di
balik dinding itu, semua koloni terkumpul di sana.
“Selamat Ret, kamu berhasil lagi
membuktikan betapa hebatnya Mariangin Squad,” Master Hams menyalami Ret.
“Mereka pasti jera.”
“O-em-je…” pekik Pak Tono, kaget
melihat betapa banyaknya tikus di balik dinding itu.
“Andi, cepat ambilkan gas tikus di
lemari berkebun kita!” perintah Pak Tono.
Serentak semua koloni terdiam,
kaget, dan takut. Gas tikus merupakan senjata pemusnah masal yang tak pernah
gagal memusnahkan puluhan, bahkan ratusan tikus secara serentak.
“Semuanya cepat mengungsi! Mariangin Squad, gagalkan Andi
mengambil gas tikus. Kalau kalian bisa, hancurkan benda sialan itu!” perintah
Master Hams.
Suasana tegang, huru-hara terjadi.
Anak-anak dan orang tua banyak yang menangis. Mariangin Squad bergegas, tidak
lupa mereka mengenakan masker filter, persiapan seandainya mereka gagal.
Enam tikus berpakaian serba hitam
itu pun berlari menuju gudang. Andi
sudah mengambil benda itu, dan melangkah keluar.
“Ayo!” seru Ret mengulurkan kedua
tangannya kepada Mos.
Mengerti dengan maksud Ret, Mos
menyambut tangan Ret dengan kedua tangannya. Dengan sedikit gerakan memutar
dari Ret, Mos dilemparkan ke arah Andi. Empat temannya yang lain serentak
mengepung Andi.
TAP! Pendaratan yang sempurna, di
tangan Andi. Karena kaget, Andi pun menjatuhkan gas tikus. Empat tikus terlatih
itu berhasil menangkapnya, lalu membawanya lari.
“Hey kembalikan!” teriak Andi,
mengejar tikus-tikus itu. Mos telah dicampakannya ke dinding, namun keadaannya
masih baik.
Tikus-tikus itu membawanya sampai
keluar rumah, Andi kewalahan mengejarnya.
“Lama banget sih,” gerutu Pak Tono
yang masih menunggu di depan dinding persembunyian tikus-tikus tadi. Dia pun
memutuskan untuk mengambil sendiri gas itu.
Betapa kaget Ret melihat kedatangan
Pak Tono ke gudang, mereka hanya tinggal berdua. Tidak mungkin bisa
menanggulanginya.
“Roger, roger, keadaan darurat, kode
1207. Posisi 11 poin 30. Segera!” Ret mengabarkan dari handy talkie-nya. Tidak
ada jawaban.
“Apa yang terjadi dengan mereka?”
tanya Ret pada Mos.
“Berdoa saja semoga mereka tidak
apa-apa. Sebaiknya sekarang kita mengalihkan perhatian Pak Tono,” saran Mos.
“Aha! Begini…” Ret berbisik pada
Mos.
Brukh‼ Pak Tono kaget dengan suara
jatuh itu, dia menolehnya.
“Haha… Satu mati, pasti kau makan
racun tikus ya? Hahaha,” tawanya, senang.
Tanpa disadarinya, di dalam lemari
itu sudah ada Ret yang menyulut sumbu gas tikus dengan puntung rokok.
Pak Tono pun kaget, dia langsung
menutup pintu lemari itu dengan Ret tetap di dalam.
Terdengar bunyi mendesis dari dalam lemari,
disusul asap hijau keluar dari celah pintu lemari itu.
“Hahaha… mati kau!” seringai Pak
Tono tampak lagi.
“Reeeeet‼” Mos berteriak histeris,
tidak terima rekannya tewas oleh gas tersebut.
“Tenang Mos, aku masih hidup, uhuk…
uhuk… aku memakai masker,” jawab Ret dari radio komunikasi mereka. “Setidaknya
koloni sudah aman, di lemari ini sudah tidak ada lagi gas tikus.”
“Oh, syukur lah, Ret. Setelah orang
ini pergi dari sini, aku akan mengeluarkan mu.”
“Oh, hey Andi, itu langsung nyalakan
saja, masukkan ke lubang yang ada di dinding samping kulkas,” Pak Tono
menginstruksikan kepada Andi yang lewat dengan membawa gas tikus yang berhasil
direbutnya kembali.
“Gawat Ret, gas tikusnya masih ada,
Andi berhasil merebutnya dari teman-teman! Mohon perintahnya, Ret!” Mos
melaporkan, minta perintah untuk tindakan selanjutnya. “Ret? Ret? Kau dengar
aku?” tidak ada jawaban. “Sialan…”
Mos berlari mengejar Andi, Pak Tono
pun kaget, lalu juga turut mengejar Mos.
“Andi, cepat masukkan gas itu ke
lubang! Tikus itu bisa menggagalkan mu kalau kamu lambat!” kata Pak Tono
menunjuk Mos.
“Siap!”
Andi langsung melemparkan gas itu ke
lubang, keahliannya sebagai pitcher di tim baseball sekolahnya berguna. BLEPH!
Benda itu masuk, Mos berinisiatif untuk
meluncur, PLOP! Tubuh besar Mos juga turut masuk. Bunyi mendesis kembali
terdengar, Mos tidak sempat memadamkan nyala sumbu itu. Tapi ia sempat mengenakan
masker. Dia juga sempat melihat sekeliling ruang itu, koloni sudah habis,
sukses dengan pengungsiannya.
Asap hijau keluar dengan mengepul.
Mos berjalan menuju lubang keluar, dia pun akhirnya keluar bersama asap beracun
itu. Bunga-bunga dan rumput terhampar di hadapannya, masker dilepaskannya untuk
merasakan segarnya udara di luar itu. Sayang sungguh sayang, Mos lupa bahwa
asap beracun belum habis, dan masih membalut tubuhnya, hingga asap itu pun juga
turut memenuhi paru-parunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar