Senin, 08 September 2014

Delapan Ribu Dani

“Sudah terkumpul berapa duitnya?” Tanya ayah pada Dani yang sedang menghitung uang celengannya.

“Eh, ayah. Ngagetin aja. Lumayan. Sekitar lima ratus ribu lagi sudah bisa beli notebook-nya,” Kata Dani sambil tersenyum.

“Bagus lah. Kira-kira berapa kali ngangkut sampah lagi tuh?” Goda ayahnya.

Dani sedang mengumpulkan duit untuk membeli notebook, dia tidak mau membebani orangtuanya dengan minta dibelikan. Dani pun menjual jasa ke beberapa rumah makan sebagai pembuang sampah. Beberapa makanan sisa dari sampah itu dia pakai untuk memberi makan beberapa ayamnya.


“Tiga bulan lagi sepertinya, Yah. Itu pun ditambah penjualan ayam-ayamku.”

Empat bulan kemudian, Dani berangkat ke toko komputer dengan rupiah yang sudah terkumpul di dompetnya. Dengan menggunakan angkot, dia pergi sendirian ke toko yang ada di pasar kotanya. Ketika sedang berjalan menuju toko komputer, Dani dicegat oleh seseorang. Bukan perampok, tampangnya tidak seperti penjahat. Dia seorang perempuan setengah baya, pakaian sangat sederhana, wajah lusuh dan pucat.

“Nak, saya belum makan...” ucap perempuan itu dengan lirih.

Dani terdiam sejenak, memandang ke wajah perempuan itu. Dani masih terdiam.

“Ayo kita ke warung, bu,” ucap Dani akhirnya.

Di warung, Dani memesan satu nasi dan teh manis.

“Ibu makan sendirian ya di sini, saya mau belanja lagi.”

“Iya, makasih banyak ya, nak. Semoga Allah membalas kebaikanmu.” Ibu itu berkaca-kaca. Dani hanya tersenyum.

“Berapa bu?” Tanya Dani ke empunya warung.

“Delapan ribu!”

-o0o-

Akhirnya tibalah Dani di toko komputer. Beruntung notebook impiannya masih dijual di situ.

“Ada yang bisa kami bantu, mas?” Sapa penjaga toko.

“Saya mau beli yang itu, mas.” Tunjuk Dani pada notebook incarannya.

Penjaga toko itu mengambil notebook yang ditunjuk Dani.

“Ini harganya tiga juta lima ratus, mas. Cocok untuk desain grafis.”

Ya, memang itu tujuan Dani. Dia memang suka bermain grafis, dari photoshop sampai animasi flash dikerjakannya.

Dani mengecek isi dompetnya, ternyata duitnya kurang delapan ribu. Kalau masalah duit angkot sih tidak papa bayar pas di rumah saja, tapi kalau untuk beli notebook ini tidak bisa bayarnya nanti-nanti.

“Eng... bisa kurang gak, mas?” Tanya Dani agak ragu.

“Wah, sudah harga pasarannya segitu, mas.” Orang itu tersenyum.

Dani pun mulai berpikiran yang macam-macam. Menyalahkan ibu-ibu yang tadi meminta-minta kepadanya.
“Ah sudah lah, buat apa disesalkan? Dengan aku memberi makan ibu itu, ibu itu bisa kuat lagi mencari nafkah untuk anak-anaknya. Memberi makan satu mulut agar mulut-mulut yang lain tetap bisa makan, sepertinya lebih baik dari pada membeli notebook hari ini. Besok-besok kan aku bisa ke sini lagi. Toh, Cuma delapan ribu kok kurangnya.” Ucap Dani dalam hati.

“Oke, makasih ya mas.” Dani pulang.

-o0o-

“Assalamu alaikum, Dani pulang.”

“Wa alaikum salam. Eh, Dani, kamu pernah ngirim sayembara biskuit yang coklat-coklat itu ya?” Tanya ayah dengan tergesa-gesa.

“Iya, emang kenapa, yah?”

“Ini hadiahnya datang.” Mama keluar dari ruang keluarga membawa satu unit laptop hadiah dari sayembara biskuit.

“Subhanallah... ini sih lebih hebat dari pada notebook yang Dani incar...”

“Terus, notebooknya mana?” Tanya ayah dan mama bersamaan, Dani hanya tersenyum.


cerpen ini kemarin ku kirim ke Serambi Ummah, semoga aja tembus ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar