Sejak jam
delapan pagi tadi, kediaman pak Gofur ramai dikunjungi orang berpakaian batik
dan kebaya, namun juga tidak sedikit yang mengenakan pakaian muslim. Mereka
menyalami bapak-bapak yang sedang duduk mengobrol di kursi plastik yang
tersusun sepanjang jalan masuk.
“Silakan,
silakan!” Pak Gofur menunujukkan tempat makan
para undangan di sebelah kirinya.
“Wah,
selamat ya, pak. Akhirnya anak laki-lakimu nikah juga!” ucap pak Hadi dengan
senyum merekah.
“Iya,
semoga saja cepat nimang cucu nih. Haha… Ayo, ayo. Makan dulu,” desak pak Gofur
lagi.
“Iya, iya.
Permisi, pak. Yuk mah,” ajak pak Hadi pada istrinya.
Kedua tamu
itu berjalan menuju tenda makan.
“Memangnya
Amar itu kerja di mana, pah? Setau mamah, dia baru aja lulus. Nih de,” bu Hadi
mengambil piring soto, menyerahkan pada pelayan untuk minta kuah.
“Katanya
sih masih belum kerja. Sambil nyari pekerjaan juga kali,” sahut pak Hadi sambil
mengaut nasi ke piringnya yang berisi karih.
Pelayan
tadi menyerahkan sotonya bu Hadi.
“Makasih,”
senyum bu Hadi. “Huh, dasar anak zaman sekarang ya, belum punya penghasilan
sudah berani biniin anak orang! Mau dia kasih makan apa?”
Tanpa
disadari bu Hadi, ucapannya itu didengar oleh kakaknya Amar yang tadi
melayaninya. Matanya langsung berkaca, tersinggung oleh perkataan bu Hadi. Nida
yang mengerti perasaan Astri, hanya bisa mengelus pundak sahabatnnya yang
berada disampingnya itu.
“Sudah lah,
bu. Rezeki orang siapa yang tahu?” ucap Pak hadi lagi, menenangkan istrinya.
-o0o-
Di kamar
yang masih bernuansa pernikahan itu: ranjang penuh hiasan bunga, dinding yang
tertutup penuh dengan kain putih, dan asesoris-asesoris aL4y lainnya. Dua pengantin
muda tersebut melepas lelah dengan duduk di empuknya spring bed, setelah
seharian foto-foto bersama teman-temannya dengan kostum gerah. Lalu ngobrol
bersama keluarga pada malam harinya.
“Beb,”
biasalah, pengantin baru panggilnya beb-beb-an. Kalau sudah punya anak, baru ayah-bunda. “Aku sedih
dengar kata-kata orang dan yang orang-orang katakan.”
“Apa itu,
beb? Apa ada hubungannya dengan status pekerjaan aku?” Tanya Amar dengan penuh
keprihatinan terhadap kekasihnya.
Wanita
berkulit putih dan manis itu mengangguk dengan sedikit tertunduk, bawaan sikap
malunya. Terlebih dia takut membuat suaminya tersinggung.
Amar
tersenyum, dia memegang pundak istrinya. “Lhy,” itu panggilan kesayangannya.
“Bukankah kita sudah sepakat, bahwa Tuhan sudah menjamin rezeki untuk
hamba-hamba-Nya? Bahkan makhluk melata sekalipun. Lagian, aku sudah punya
rencana,” Amar tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.
Lily refleks membangkitkan wajahnya. Ketahuan
dia menjadi antusias.
“Bebeb mau
jualan makanan? Emang bisa masak? Masak air mah
iya!” ledek perempuan manis itu sambil tertawa kecil. Rona merah terlihat di
wajahnya.
“Ah, kamu.
Yuk kita istirahat dulu. Kita doa sama-sama ya…”
-o0o-
Di tempat
lain, di waktu yang sama. Pak Gofur bermain catur bersama pak Asnawi di pos
ronda. Malam ini adalah giliran jaga grup mereka.
“Memangnya
kenapa sih, Amar itu tidak mau bekerja dulu baru nikah?” tembak pak Asnawi
blak-blakan. Giliran pertama, dia majukan pion di b-5 ke c-5.
“Padahal kan dia punya pengalaman?”
“Yah,
begitulah, Pak. Anaknya
gak pede-an. Dia bilang gak bisa apa-apa, gak ada bekal untuk kerja di perusahaan?” Pak Gofur menduplikasi langkah
lawannya, g-5 ke f-5.
“Lho,
bukannya dia lulusan D-3? D-3 itukan orang-orang lapangan, punya skill,” sambil
memindah mentri kanan dari a-6 ke c-4, pak Asnawi memandang heran pada pak
Gofur.
Pak Gofur
tersenyum, dia fokus pada papan permainan. “Yah, dia memang punya skill, di
tempat omnya dulu dia belajar berkarya, yang sesuai dengan bidang akademiknya,”
pak Gofur mengangkat kuda di h-7 ke f-8. “Tapi salahnya, dia tuh hanya
mempelajari trik-trik atau mekanismenya saja, tidak dengan perhitungan-perhitungan
matematisnya. Makanya dia ragu untuk masuk ke perusahaan.”
Pak Asnawi
menenggak kopinya. Dia manggut-manggut sambil memperhatikan papan catur.
“Terus, apa dia sudah ada rencana mau kerja di mana?” pion pak Asnawi maju dua
langkah, dari b-7 ke d-7. Mau menangkap kuda sepertinya.
“Belum ada
ngomong sih. Paling nerusin usaha bapaknya ngurusin itik, haha…” dia mengangkat
ratu ke f-6, sambil menjawab pertanyaan pak Gofur dengan candaan.
“Ah, buat
apa kuliah jauh-jauh kalau hanya jadi peternak itik? Nih, ku tambahin!” seru
pak Asnawi, menghentak bidak yang diangkatnya dari b-8 ke d-8.
Pak Gofur
tersenyum, dia mengerti maksud dari langkah lawannya. “Yah, aku percaya dengan
kreatifitas anakku. Dia pasti punya rencana,” seru pak Gofur memandang penuh
antusias pada pak Asnawi setelah memindah mentri kiri ke e-3.
“Oke, asal
dia melangkah dengan hati-hati aja, biar gak kayak gini! Haha… hayo, pilih mati
kuda apa raja?” serunya setelah sukses mengancam dua tentara ayahnya Amar
dengan memajukan pion dari d-7 ke e-7.
“Anak ku
selalu bilang, ‘aku bukan seorang ahli, tapi keberuntungan sering kali berpihak
padaku.’ Aku selamatkan raja saja deh,” pak Gofur memajukan rajanya satu
langkah. E-6.
“Meskipun
keberuntungan sering berpihak, tapi gak selamanya berpihak kan?” ucapnya
sombong, raja pak Gofur kembali diancamnya dengan memajukan pion di c-5 ke d-5.
“Kalau persiapan untuk hidup tidak matang, bisa-bisa keburukan selalu
mengikutinya ke mana pun dia berlari. Seperti rajamu ini. Haha… ingat, kudamu
masih terancam!” tunjuknya pada kuda malang itu.
“Hhh,
sekali lagi ku katakan, ‘Aku bukan ahli, tapi keberuntungan sering kali
berpihak padaku,’ dan aku percaya pada kreatifitas anakku, seperti
kreatifitasku membuat lawan terlena, hingga akhirnya lupa dengan ratunya. Skak…
Mat!” raja yang tadinya terancam itu tiba-tiba maju menghantam pion di b-6.
“Eh? Hey,
hey, kok bisa gini sih? Pak, ayo main lagi. Aku mau balas nih!” seru pak
Asnawi, tapi pak Gofur sudah meringkuk di lantai pos yang beralas tikar jerami
itu.
-o0o-
“Itu apa,
beb?” dengan wajah yang masih berantakan sehabis tidur, Lily mendatangi Amar
yang sedang sibuk di gudang. Lily terbangun oleh ributnya pekerjaan Amar.
“Eh, bebeb
sudah bangun,” senyumnya bahagia melihat istrinya. “Ini gerobak penjual pentol
goreng dan sirup bertenaga surya. Semuanya dari sumber DC. Baik tenaga
penggerak gerobaknya, maupun penggorengannya. Jadi ramah lingkungan gitcu. Gak
capek ngegoes lagi!” Amar mempresentasikan karyanya, dia menunujuk-nunjuk pada
wajan penggorengannya, motor listriknya, solar cellnya, sampai accu-nya.
“Wah, bebeb
keren!” istrinya tak kalah antusias, dia menepukkan tangannya. “Tapi… kok dalam
waktu sesingkat ini bebeb bisa membuatnya? Tampilannya oke punya gitu lagi.
Rapi, warna merahnya rata, tulisan 'Pentol & Minuman Asik'-nya cakep. Beda
banget dengan gerobak-gerobak pentol goreng yang lain, yang hanya terbuat dari
seng yang dipaku. Ini fiber ya?” tanya Lily sambil mengelus gerobak tersebut.
“Yah,
namanya juga cerita, beb,” senyum polos itu tampak menjijikkan saat mengikuti
kalimat yang baru diucapkannya.
Setelah
memukul kepala suaminya hingga muncul gunungan merah di kepalanya, Lily kembali
bertanya. “Terus, siapa yang jualan?”
“Kamu
sayang…” jawab Amar manja sambil merangkul istrinya.
Lily
bersiap memukul lagi.
“Eh,
enggak, bercanda. Ya aku lah, masa bebeb? Entar cantiknya pudar lagi.”
“Bebeb bisa
ajah…” Lily tertunduk malu, rona merah di pipinya kembali terlihat.
“Oke, beb.
Aku mau mandi dulu. Habis ini aku langsung berangkat ke SD di ujung. Entar aku
pakai ini lho. Taraa‼” Amar mengangkat kostum terusan berwarna merah-hitam. Dia
kemudian memutar-mutarnya, hingga tulisan di punggung kostum itu terlihat:
Pentol & Minuman Asik. “Seragam penjual pentol! Tole loleng,” dia menirukan
suara salah satu kartun robot kucing lawas dari Jepang.
Istrinya
hanya geleng-geleng melihat tingkah suaminya.
-o0o-
Enam bulan
berlalu setelah adegan di gudang, dan enam bulan pula sudah Amar berkeliling
dengan gerobak listriknya yang macho untuk menjual pentol dan minuman sehatnya.
Omset perharinya mencapai tujuh puluh ribuan perhari. Yah… cukuplah untuk makan
sehari-hari dan beli susu untuk ibu hamil. Apalagi Amar bukan perokok, dan Lily
sudah kerja di puskesmas.
“Beb, aku
mau berhenti aja deh jualannya,” Amar tersandar di sofa depan televisi, tepat
disamping istrinya yang sedang asik nonton IMB.
“Eh?
Kenapa, beb? Bebeb malu?” istrinya menjadi kahawatir, pandangannya pun
dialihkannya dari kotak kaca kepada suaminya.
“Aku mau
kerja yang lain. Aku teringat dengan kata-kata Ustadz Sedekah, ‘kalo ente mau
pekerjaan yang lebih tinggi, ente harus tinggalin tuh pekerjaan yang
sebelumnya! Kasih aja gerobaknya pada tetangga ente!’ Gitu kata beliau, beb!”
Amar menirukan gaya ustadz yang dimaksud, suaranya terdengar keluar di hidung gitu.
“Ya kalau
Lily sih terserah bebeb aja. Sami’na wa atha’na,” dia tersenyum, matanya sampai
menyipit.
“Mmm,
bebeb… aku jadi makin cinta deh.”
“Jadi
gerobaknya mau dikasih ke siapa?”
“Gak kita
kasih, beb,” jawabnya polos.
“Lho, bebeb
gimana sih, tadi katanya dikasih?” istri shalehah itu menjadi bingung, IMB kini
tak asik lagi baginya.
“Tetap
punya kita, tapi kita bayar orang untuk merawatnya, dan menjual pentol dan
minuman itu. Bayarannya 75% dari penjualan, biar kita 25% aja. Toh, yang banyak
kerjanya juga mereka,” kali ini Amar jadi jago akuntansi.
“Hmm, aku
ikut aja. Asal bebeb gak ngelakuin kezhaliman untuk nafkahin aku and our baby,” Lily tersenyum, dia
mengelus perutnya.
-o0o-
Enam bulan
kemudian.
“Pelan-pelan,
pak. Iya, iya. Alhamdulillah,” Amar ikut mengomando petugas pengantar paket
yang menurunkan beberapa gerobak barunya.
“Ini armada
yang ketujuh dan kedelapan, pak. Kalau mau pesan lagi, kami siap!” kata orang
ber-hem biru itu, mengelus dua gerobak yang baru saja diturunkan dari truk. Dia
adalah kepala CV tempat Amar memesan gerobaknya.
Amar tidak
lagi membuat sendiri gerobaknya, melainkan memesan dari luar kota. Sehingga
kualitasnya terjamin dan ada logo SNI-nya.
“Sip.
Makasih, pak. Entar kalau nambah lagi pasti deh, insya Allah.”
Kini Amar
sudah memiliki enam armada. Omsetnya naik menjadi enam belas jutaan perbulan.
Tapi Amar hanya mendapat 25% dari itu. Dan kini ditambah dua armada lagi.
Omsetnya jadi berapa ya???
“Beb, ini
pakan bebek sudah datang!” panggil Lily yang kini hamil tua, perutnya lebih
besar.
“Oh, iya,
iya. Tunggu!” Amar bergegas ke halaman sebelah.
Pekerjaan
Amar kini ialah peternak bebek petelur. Jadi dia menjual telurnya kepada
pegawai-pegawai pentol gorengnya.
“Woy, pak Asnawi! Dia bukan ahli, tapi keberuntungan sering kali berpihak padanya! Dan kreatifitas serta tawakkal yang sesungguhnya adalah kunci dari keberuntungan itu! Haha…” teriak pak Gofur pada pak Asnawi yang sedang sibuk berlatih catur melalui I-Pad.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar