Jumat, 29 Agustus 2014

Kisah Cinta Amar dan Lily

Sejak jam delapan pagi tadi, kediaman pak Gofur ramai dikunjungi orang berpakaian batik dan kebaya, namun juga tidak sedikit yang mengenakan pakaian muslim. Mereka menyalami bapak-bapak yang sedang duduk mengobrol di kursi plastik yang tersusun sepanjang jalan masuk.

“Silakan, silakan!Pak Gofur menunujukkan tempat makan para undangan di sebelah kirinya.

“Wah, selamat ya, pak. Akhirnya anak laki-lakimu nikah juga!” ucap pak Hadi dengan senyum merekah.

“Iya, semoga saja cepat nimang cucu nih. Haha… Ayo, ayo. Makan dulu,” desak pak Gofur lagi.

“Iya, iya. Permisi, pak. Yuk mah,” ajak pak Hadi pada istrinya.

Kedua tamu itu berjalan menuju tenda makan.

“Memangnya Amar itu kerja di mana, pah? Setau mamah, dia baru aja lulus. Nih de,” bu Hadi mengambil piring soto, menyerahkan pada pelayan untuk minta kuah.

“Katanya sih masih belum kerja. Sambil nyari pekerjaan juga kali,” sahut pak Hadi sambil mengaut nasi ke piringnya yang berisi karih.

Pelayan tadi menyerahkan sotonya bu Hadi.

“Makasih,” senyum bu Hadi. “Huh, dasar anak zaman sekarang ya, belum punya penghasilan sudah berani biniin anak orang! Mau dia kasih makan apa?”

Tanpa disadari bu Hadi, ucapannya itu didengar oleh kakaknya Amar yang tadi melayaninya. Matanya langsung berkaca, tersinggung oleh perkataan bu Hadi. Nida yang mengerti perasaan Astri, hanya bisa mengelus pundak sahabatnnya yang berada disampingnya itu.

“Sudah lah, bu. Rezeki orang siapa yang tahu?” ucap Pak hadi lagi, menenangkan istrinya.

-o0o-

Di kamar yang masih bernuansa pernikahan itu: ranjang penuh hiasan bunga, dinding yang tertutup penuh dengan kain putih, dan asesoris-asesoris aL4y lainnya. Dua pengantin muda tersebut melepas lelah dengan duduk di empuknya spring bed, setelah seharian foto-foto bersama teman-temannya dengan kostum gerah. Lalu ngobrol bersama keluarga pada malam harinya.

“Beb,” biasalah, pengantin baru panggilnya beb-beb-an. Kalau sudah punya anak, baru ayah-bunda. “Aku sedih dengar kata-kata orang dan yang orang-orang katakan.”

“Apa itu, beb? Apa ada hubungannya dengan status pekerjaan aku?” Tanya Amar dengan penuh keprihatinan terhadap kekasihnya.

Wanita berkulit putih dan manis itu mengangguk dengan sedikit tertunduk, bawaan sikap malunya. Terlebih dia takut membuat suaminya tersinggung.

Amar tersenyum, dia memegang pundak istrinya. “Lhy,” itu panggilan kesayangannya. “Bukankah kita sudah sepakat, bahwa Tuhan sudah menjamin rezeki untuk hamba-hamba-Nya? Bahkan makhluk melata sekalipun. Lagian, aku sudah punya rencana,” Amar tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar.

Lily refleks membangkitkan wajahnya. Ketahuan dia menjadi antusias.
“Kata salah satu temanku di LDK dulu, ‘makanan itu lebih cepat perputaran rezekinya!’.”

“Bebeb mau jualan makanan? Emang bisa masak? Masak air mah iya!” ledek perempuan manis itu sambil tertawa kecil. Rona merah terlihat di wajahnya.

“Ah, kamu. Yuk kita istirahat dulu. Kita doa sama-sama ya…”

-o0o-

Di tempat lain, di waktu yang sama. Pak Gofur bermain catur bersama pak Asnawi di pos ronda. Malam ini adalah giliran jaga grup mereka.

“Memangnya kenapa sih, Amar itu tidak mau bekerja dulu baru nikah?” tembak pak Asnawi blak-blakan. Giliran pertama, dia majukan pion di b-5 ke c-5.

“Padahal kan dia punya pengalaman?”

“Yah, begitulah, Pak. Anaknya gak pede-an. Dia bilang gak bisa apa-apa, gak ada bekal untuk  kerja di perusahaan?” Pak Gofur menduplikasi langkah lawannya, g-5 ke f-5.

“Lho, bukannya dia lulusan D-3? D-3 itukan orang-orang lapangan, punya skill,” sambil memindah mentri kanan dari a-6 ke c-4, pak Asnawi memandang heran pada pak Gofur.

Pak Gofur tersenyum, dia fokus pada papan permainan. “Yah, dia memang punya skill, di tempat omnya dulu dia belajar berkarya, yang sesuai dengan bidang akademiknya,” pak Gofur mengangkat kuda di h-7 ke f-8. “Tapi salahnya, dia tuh hanya mempelajari trik-trik atau mekanismenya saja, tidak dengan perhitungan-perhitungan matematisnya. Makanya dia ragu untuk masuk ke perusahaan.”
Pak Asnawi menenggak kopinya. Dia manggut-manggut sambil memperhatikan papan catur. “Terus, apa dia sudah ada rencana mau kerja di mana?” pion pak Asnawi maju dua langkah, dari b-7 ke d-7. Mau menangkap kuda sepertinya.

“Belum ada ngomong sih. Paling nerusin usaha bapaknya ngurusin itik, haha…” dia mengangkat ratu ke f-6, sambil menjawab pertanyaan pak Gofur dengan candaan.

“Ah, buat apa kuliah jauh-jauh kalau hanya jadi peternak itik? Nih, ku tambahin!” seru pak Asnawi, menghentak bidak yang diangkatnya dari b-8 ke d-8.

Pak Gofur tersenyum, dia mengerti maksud dari langkah lawannya. “Yah, aku percaya dengan kreatifitas anakku. Dia pasti punya rencana,” seru pak Gofur memandang penuh antusias pada pak Asnawi setelah memindah mentri kiri ke e-3.

“Oke, asal dia melangkah dengan hati-hati aja, biar gak kayak gini! Haha… hayo, pilih mati kuda apa raja?” serunya setelah sukses mengancam dua tentara ayahnya Amar dengan memajukan pion dari d-7 ke e-7.

“Anak ku selalu bilang, ‘aku bukan seorang ahli, tapi keberuntungan sering kali berpihak padaku.’ Aku selamatkan raja saja deh,” pak Gofur memajukan rajanya satu langkah. E-6.

“Meskipun keberuntungan sering berpihak, tapi gak selamanya berpihak kan?” ucapnya sombong, raja pak Gofur kembali diancamnya dengan memajukan pion di c-5 ke d-5. “Kalau persiapan untuk hidup tidak matang, bisa-bisa keburukan selalu mengikutinya ke mana pun dia berlari. Seperti rajamu ini. Haha… ingat, kudamu masih terancam!” tunjuknya pada kuda malang itu.

“Hhh, sekali lagi ku katakan, ‘Aku bukan ahli, tapi keberuntungan sering kali berpihak padaku,’ dan aku percaya pada kreatifitas anakku, seperti kreatifitasku membuat lawan terlena, hingga akhirnya lupa dengan ratunya. Skak… Mat!” raja yang tadinya terancam itu tiba-tiba maju menghantam pion di b-6.

“Eh? Hey, hey, kok bisa gini sih? Pak, ayo main lagi. Aku mau balas nih!” seru pak Asnawi, tapi pak Gofur sudah meringkuk di lantai pos yang beralas tikar jerami itu.

-o0o-

“Itu apa, beb?” dengan wajah yang masih berantakan sehabis tidur, Lily mendatangi Amar yang sedang sibuk di gudang. Lily terbangun oleh ributnya pekerjaan Amar.

“Eh, bebeb sudah bangun,” senyumnya bahagia melihat istrinya. “Ini gerobak penjual pentol goreng dan sirup bertenaga surya. Semuanya dari sumber DC. Baik tenaga penggerak gerobaknya, maupun penggorengannya. Jadi ramah lingkungan gitcu. Gak capek ngegoes lagi!” Amar mempresentasikan karyanya, dia menunujuk-nunjuk pada wajan penggorengannya, motor listriknya, solar cellnya, sampai accu-nya.

“Wah, bebeb keren!” istrinya tak kalah antusias, dia menepukkan tangannya. “Tapi… kok dalam waktu sesingkat ini bebeb bisa membuatnya? Tampilannya oke punya gitu lagi. Rapi, warna merahnya rata, tulisan 'Pentol & Minuman Asik'-nya cakep. Beda banget dengan gerobak-gerobak pentol goreng yang lain, yang hanya terbuat dari seng yang dipaku. Ini fiber ya?” tanya Lily sambil mengelus gerobak tersebut.

“Yah, namanya juga cerita, beb,” senyum polos itu tampak menjijikkan saat mengikuti kalimat yang baru diucapkannya.

Setelah memukul kepala suaminya hingga muncul gunungan merah di kepalanya, Lily kembali bertanya. “Terus, siapa yang jualan?”

“Kamu sayang…” jawab Amar manja sambil merangkul istrinya.

Lily bersiap memukul lagi.

“Eh, enggak, bercanda. Ya aku lah, masa bebeb? Entar cantiknya pudar lagi.”

“Bebeb bisa ajah…” Lily tertunduk malu, rona merah di pipinya kembali terlihat.

“Oke, beb. Aku mau mandi dulu. Habis ini aku langsung berangkat ke SD di ujung. Entar aku pakai ini lho. Taraa‼” Amar mengangkat kostum terusan berwarna merah-hitam. Dia kemudian memutar-mutarnya, hingga tulisan di punggung kostum itu terlihat: Pentol & Minuman Asik. “Seragam penjual pentol! Tole loleng,” dia menirukan suara salah satu kartun robot kucing lawas dari Jepang.

Istrinya hanya geleng-geleng melihat tingkah suaminya.

-o0o-

Enam bulan berlalu setelah adegan di gudang, dan enam bulan pula sudah Amar berkeliling dengan gerobak listriknya yang macho untuk menjual pentol dan minuman sehatnya. Omset perharinya mencapai tujuh puluh ribuan perhari. Yah… cukuplah untuk makan sehari-hari dan beli susu untuk ibu hamil. Apalagi Amar bukan perokok, dan Lily sudah kerja di puskesmas.

“Beb, aku mau berhenti aja deh jualannya,” Amar tersandar di sofa depan televisi, tepat disamping istrinya yang sedang asik nonton IMB.

“Eh? Kenapa, beb? Bebeb malu?” istrinya menjadi kahawatir, pandangannya pun dialihkannya dari kotak kaca kepada suaminya.

“Aku mau kerja yang lain. Aku teringat dengan kata-kata Ustadz Sedekah, ‘kalo ente mau pekerjaan yang lebih tinggi, ente harus tinggalin tuh pekerjaan yang sebelumnya! Kasih aja gerobaknya pada tetangga ente!’ Gitu kata beliau, beb!” Amar menirukan gaya ustadz yang dimaksud, suaranya terdengar keluar di  hidung gitu.

“Ya kalau Lily sih terserah bebeb aja. Sami’na wa atha’na,” dia tersenyum, matanya sampai menyipit.

“Mmm, bebeb… aku jadi makin cinta deh.”

“Jadi gerobaknya mau dikasih ke siapa?”

“Gak kita kasih, beb,” jawabnya polos.

“Lho, bebeb gimana sih, tadi katanya dikasih?” istri shalehah itu menjadi bingung, IMB kini tak asik lagi baginya.

“Tetap punya kita, tapi kita bayar orang untuk merawatnya, dan menjual pentol dan minuman itu. Bayarannya 75% dari penjualan, biar kita 25% aja. Toh, yang banyak kerjanya juga mereka,” kali ini Amar jadi jago akuntansi.

“Hmm, aku ikut aja. Asal bebeb gak ngelakuin kezhaliman untuk nafkahin aku and our baby,” Lily tersenyum, dia mengelus perutnya.

-o0o-

Enam bulan kemudian.

“Pelan-pelan, pak. Iya, iya. Alhamdulillah,” Amar ikut mengomando petugas pengantar paket yang menurunkan beberapa gerobak barunya.

“Ini armada yang ketujuh dan kedelapan, pak. Kalau mau pesan lagi, kami siap!” kata orang ber-hem biru itu, mengelus dua gerobak yang baru saja diturunkan dari truk. Dia adalah kepala CV tempat Amar memesan gerobaknya.

Amar tidak lagi membuat sendiri gerobaknya, melainkan memesan dari luar kota. Sehingga kualitasnya terjamin dan ada logo SNI-nya.

“Sip. Makasih, pak. Entar kalau nambah lagi pasti deh, insya Allah.”

Kini Amar sudah memiliki enam armada. Omsetnya naik menjadi enam belas jutaan perbulan. Tapi Amar hanya mendapat 25% dari itu. Dan kini ditambah dua armada lagi. Omsetnya jadi berapa ya???

“Beb, ini pakan bebek sudah datang!” panggil Lily yang kini hamil tua, perutnya lebih besar.

“Oh, iya, iya. Tunggu!” Amar bergegas ke halaman sebelah.

Pekerjaan Amar kini ialah peternak bebek petelur. Jadi dia menjual telurnya kepada pegawai-pegawai pentol gorengnya.

“Woy, pak Asnawi! Dia bukan ahli, tapi keberuntungan sering kali berpihak padanya! Dan kreatifitas serta tawakkal yang sesungguhnya adalah kunci dari keberuntungan itu! Haha…” teriak pak Gofur pada pak Asnawi yang  sedang sibuk berlatih catur melalui I-Pad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar