Rabu, 27 Agustus 2014

Kodok

Dodi dan Rangga mendapat tugas menangkap kodok dari guru Biologi di sekolah mereka. Sudah empat hari sebenarnya mereka mendapat tugas itu, tapi sampai sekarang belum juga mereka mendapatkannya. Padahal besok adalah hari pengumpulannya.

Di teras rumah Dodi, kedua anak itu berpikir keras, bagaimana caranya agar sebelum matahari terbenam hari ini sudah ada kodok di tangan mereka.

“Sebaiknya kita cari tahu di internet, habitat kodok itu dimana sih?” Dodi memberi saran.

“Aish... kenapa tidak dari kemarin saja kita lakukan itu ya?” Sesal Rangga.

“Kan kemarin-kemarin sedang malas...” kata Dodi mengingatkan Rangga.


Melalui hape kecilnya Dodi, mereka mulai mencari tentang habitat kodok di Google. Tidak sampai satu menit, mereka menemukannya. Bahkan mendetil sampai ke tempat yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.

“Desa Kurihing, sepuluh kilometer dari sini. Ayo, Ga!!” Dodi bergegas menaiki sepedanya, Rangga megikutinya.

Terik matahari siang bolong tidak menyurutkan semangat mereka. Saking panasnya, dari jalan aspal terlihat seperti ada gas yang keluar.

Keringat mulai membasahi kaos kedua bocah itu di empat kilometer pertama. Rangga mulai ngos-ngosan, begitu pula Dodi. Kecepatan mereka pun melambat.

“Dod, kita beli minum dulu, yuk...” Ajak Rangga.

“Saran yang bagus.” Dodi menepi.

Belum sampai Dodi melangkah ke warung yang hanya berjarak empat sampai lima langkah di hadapannya, dia baru ingat...

“Aku gak bawa uang, Ga. Kamu?”

“Sama...” jawab Rangga dengan muka sedih.

Mereka pun akhirnya meneruskan perjalanan. Hingga suara azan terdengar, yang membuat Rangga secara tidak sengaja menoleh ke mesjid sumber suara azan itu terdengar. Di teras mesjid itu lah, Rangga menangkap benda yang dalam imajinasinya tampak berkilauan: dispenser.

“Dod...” Tunjuk Rangga ke dispenser itu, memberi tahu Dodi.

“Wah, malu ah kalau tidak sekalian shalat...”

“Ya sudah, kalau gitu kita shalat saja sekalian. Daripada mati kehausan.”

-o0o-

“Hhhh... ternyata seger ya habis shalat itu. Pantes aja mereka pada rajin shalat,” ucap Dodi sambil melepas lelah di pelataran mesjid.

“Ayo!” ajak Rangga lagi, tanpa menghiraukan kalimat Dodi barusan.

Mereka meneruskan perjalanannya, kurang lebih enam kilometer lagi.

“Eh, kok sepedaku terasa berat ya, Dod?” kata Rangga, dia menghentikan sepedanya.

“Wah... bannya bocor tuh.” Dodi melihat-lihat sekitarnya, siapa tahu ada tempat tambal ban. Namun jangankan tempat tambal ban, bahkan rumah penduduk pun tidak terlihat di tempat mereka terhenti sekarang.

“Bagaimana nih, Dod?” Rangga mulai panik.

Tiba-tiba cuacanya berubah mendung, angin pun bertiup kencang. Membuat dahan-dahan pohon dan bambu melambai bagai hendak mengamuk.

“Dod...” Rangga kini menjadi takut.

“Sudah. Tuntun saja sepada kamu. Siapa tahu di depan ada tempat tambal ban.”

Rangga akhirnya menuntun sepedanya, Dodi juga menuntun sepedanya agar kecepatan mereka sama. Tepat di langkah ke empat belas, hujan turun dengan derasnya.

“Masih belum keliatan rumah orang, Dod!” Rangga berteriak agar suaranya bisa menembus hujan.

Dodi memberi isyarat kepada Rangga agar dia diam di tempat, dengan keadaan yang basah kuyup dan badan yang gemetaran, dia berjalan menuju ke pohon pisang yang kebetulan mereka lewati. Dodi mencoba mematahkan daunnya untuk dijadikan payung. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya dia bisa mengambil dua daun pisang yang lebar. Tanpa pisau, tangan Dodi pun lecet-lecet.

Baru mau berbalik ke Rangga, Dodi melihat ada rumah di tengah-tengah hutan. Agak lebih ke dalam dari tempatnya mengambil daun pisang.

“Ga, di sana ada rumah orang. Ayo kita berteduh dulu!!”

-o0o-

“Wah, wah... kalian ini memang anak-anak yang rajin. Ayo, sementara Kakek Yanto menambal ban sepeda kamu, ini diminum dulu tehnya, biar badan kalian hangat.” Nenek Harum menyuguhi Dodi dan Rangga teh, sebelumnya mereka juga dipinjami baju dan celana Kakek Yanto. Mereka adalah pemilik gubuk di tengah hutan.

“Iya. Makasih nek.” Rangga langsung menyeruput tehnya, begitu pula Dodi.

“Kebetulan, kami sehari-hari mencari kodok, cu. Jadi...”

“Yang bener, nek? Alhamdulillah...” Seru Dodi langsung membuat kesimpulan, Rangga menyenggolnya.

“Iya, kalian ambil saja satu.” Nenek Harum tersenyum melihat kegembiraan yang terpancar di wajah kedua bocah itu.

Dodi dan Rangga kemudian pulang setelah baju mereka dikeringkan oleh Nenek Harum. Mereka juga mendapat tambal ban dan kodok secara gratis.

“Makasih ya, Nek, Kek. Kami pulang, kebetulan juga sudah sore nih. Semoga lain waktu kami bisa ke sini lagi,” kata Dodi.

Sesampainya di rumah...


“Eh, itu kodok bukan, Dod?” tunjuk Rangga pada binatang kecil yang melompat-lompat di halaman rumah Dodi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar