“Belanja murah, mudah, lengkap, dan modern hanya di Double-K
Mart! Bonus action figure Orka!” ini
sudah yang ketiga kalinya iklan Double-K Mart muncul dalam satu segmen acara
tv.
“Mama!! Kita ke Double-K Mart, yuk! Itu ada bonus Orkanya!”
“Entar siang aja. Mama lagi sibuk nih,” mama menjawab dari
dapur. Dia memang sedang sibuk memasak sekarang.
“Sama kak Royan mau?” kepala Royan menyembul dari balik
pintu kamarnya.
“Eh, boleh, boleh,” senyum Syarif mengembang.
“Tapi semua kreseknya buat kak Royan ya,” Royan membuat
kesepakatan. Syarif cemberut, namun akhirnya menyetujuinya.
Di Lokratek, kresek selalu diincar anak-anak, bahkan orang
dewasa yang pengangguran pun juga suka mengumpulkannya. Sebab kresek bisa
menjadi uang di sini. Ada sebuah perusahaan yang menangani sampah perkotaan yang
berani membayar mahal untuk satu kilogram kresek. Perusahaan PHM, Padatkan,
Hancurkan Mereka! Itulah kepanjangannya. Salah satu anak perusahaan Kapmad
Keserk.Inc. perusahaan induk yang juga membawahi Double-K Mart. Tidak sulit
untuk menemukan mereka, jika kalian melihat asap pekat mengepul di udara,
itulah PHM.
Pemiliknya adalah Kitar. Seorang konglomerat kaya yang
menguasai kota Lokratek. Fotonya ada di mana-mana. Dia merupakan pemimpin yang
tegas dan merakyat. Semua lapisan sosial dipegangnya. Dari kesehatan,
pendidikan, perekonomian, tata kota, sampai pembangunan dipegangnya.
“Lihat ini, kak Royan!” tunjuk Sarif ke poster yang
tertempel di pintu masuk Double-K Mart.
Royan memfokuskan pandangannya ke poster yang ditunjuk
Sarif.
“Ternyata kita harus beli produk bertanda khusus dulu
senilai lima puluh ribu, baru bisa dapetin action
figure Orka...”
“Wah, kak Royan gak bawa duit sebanyak itu,” desah Royan.
“Tapi kakak bawa ATM kan?” Sarif merengek.
“Aaah, tuh kan mulai lagi. Ya udah deh, kakak beliin. Cepat
pilih apa aja...”
Dengan senyum lebarnya, Sarif berlari mengambil keranjang
belanja di pojok ruangan.
“Taraaa!! Gak banyak kok, kak,” senyumnya tambah lebar
dengan setumpuk makanan ringan di keranjang belanjanya.
“Kok makanan ringan semua?” protes Royan.
“Tanda khususnya hanya ada di makanan ringan ini aja kak
Royan...”
“Ya sudah,” Royan menyambut keranjang yang penuh dengan
makanan ringan itu, lalu membawanya ke kasir.
-o0o-
“Bagaimana sayang, apa kamu puas dengan capaian bulan ini?”
seorang pria berjubah hitam, denan asesoris aneh di kepalanya yang menyerupai
sebuah mahkota, sedang berbicara dengan... alien! Mereka berbicara melalui webcam yang ditampilkan di layar besar
di satu sisi ruangannya.
“Hmmm, lumayan. Dalam bulan ini satu kota sudah habis.
Tapi...”
“Tapi apa nona Ziola?”
“Kalau kamu tidak meningkatkan pembakaran plastik, rencana
kita akan tercapai dua ratus tahun lagi.”
“Oh, tidak! Itu sungguh lama...”
“Parahnya lagi...” ucap Ziola lagi, “Dua ratus tahun dalam
hitungan planet kami. Kalau tidak salah itu sama dengan seribu tahun di planet
kmu, Kitar.”
“Tidak!!” kitar mengusap mukanya. “Saran kamu apa, sayang?”
“Di planet kami ada satu zat, yang apabila bersentuhan
dengan plastik akan menimbulkan getaran gelombang yang membuat peneluran mereka
di sini gagal. Jadi kita bisa menghambat pertumbuhan mereka.”
“Baiklah. Aku punya ide untuk itu. Kirim saja bahannya. Aku
akan membuat taman tanpa tempat sampah. Di taman itu akan kutebar zat yang kamu
maksud, sehingga mereka akan membuang sampahnya di sana. Tidak lupa kios kecil
dengan ekstra kresek di sekitar taman itu, hehe... baiklah, aku tunggu
kirimannya.”
“Zatnya adalah bahan bakar pesawat kami, kami menyebutnya
Arkensol. Sesaat lagi akan aku kirim dua orang ke bumi. Bunuh saja mereka,
ambil Arkensol dari pesawatnya.”
Pembicaraan mereka berakhir. Monitor besar itu kembali
menampilkan keadaan seluruh kota Lokratek.
“Kiosin, Lerda! Ke ruanganku sekarang!” Ziola memanggil dua
prajurit terhebatnya melalui pengeras suara yang terhubung ke seluruh pangkalan
militer.
Tidak berselang lama, kedua prajurit itu datang. Sudah siap
dengan seragam pilot tempur mereka.
“Ada apa, Ziola yang agung?” Kiosin, sang jantan berlutut.
“Penduduk planet bumi berulah. Ternyata yang mengirim
spesies Kes-kes ke planet kita adalah mereka!!” Ziola menunjuk ke monitor yang
sedang menampilkan cerobong asap PHM.
Dari cerobong itulah spesies Kes-kes keluar. Makhluk yang
tercipta dari pembakaran plastik di atas suhu lima ratus derajat celcius.
Makhluk paling mengerikan bagi penduduk planet Ziolin.
“Demi penduduk Ziolin. Kami akan berjuang sekuat tenaga!”
Kiosin mengepalkan tangannya, Lerda mengangguk mantap.
-o0o-
“Bagaimana rencananya, Kiosin?” tanya Lerda pada Kiosin
ketika mereka sudah di pesawat.
“Langsung kita hancurkan tempat itu...”
Dengan kecepatan warp, tidak berapa lama mereka sampai di
bumi.
“Tit! Tit! Tit! Tit!” alarm dari pesawat mereka berbunyi.
“Kiosin, kita di target!!” lerda menunjuk beberapa misil
yang terbaca di radar. Kiosin menekan beberapa tombol di panel kontrol
pesawatnya. Mengaktifkan perisai dan beberapa pengecoh misil.
Serangan pertama sukses mereka hindari. Kini mereka semakin
dekat dengan PHM.
“Tembak Kiosin!” perintah Lerda.
“Tunit! Tunit! Tunit!” satu lagi alarm melengking.
“Hah, apa itu?” tanya Kiosin.
“Mesin utama tertembak,” tunjuk Lerda ke monitor setelah
menekan beberapa tombol untuk mencari tau sumber alarm.
“Kita akan jatuh!!” teriak Lerda.
“Aktifkan kursi pelontar!!” Kiosin juga ikut panik.
Zuwingggg... mereka terlempar dari pesawat. Sedangkan
pesawatnya sendiri, mendarat tepat di depan gerbang PHM. Lord Kitar menghampiri
pesawat itu, diikuti oleh beberapa tentara dan ilmuannya.
“Ambil tangki bahan bakarnya, bawa ke lab,” Kitar kemudian
merogoh sakunya, mengambil smart phone, membuka
Skype, melapor pada Ziola.
-o0o-
“Kak Royan, awas Orka menyerang!!” Sarif memainkan Orka
dengan kakaknya di halaman belakang.
“Kau tidak akan bisa menyerangku, haha...” kata Royan dengan
suara yang dibesar-besarkan.
Dhuarrr!
“Eh!? Suara apa itu kak Royan?”
Suara itu terdengar dari belkang rumah mereka. Sesampainya
di sana, Royan dan Sarif hanya menemukan dua kapsul pelarian yang kosong.
“Itu bajaj siapa, kak Royan?”
“Hus! Itu kapsul alien...”
“Sebaiknya kalian diam. Angkat tangan,” Kiosin menodongkan
pistol ke arah Royan. “Lerda, ikat mereka.”
Tidak lama kemudian, Royan dan Sarif sudah dalam keadaan terikat.
“Apa rencana selanjutnya Kiosin?”
“Kita pulang menggunakan portal mobile ini, tapi aku harus menentukan kordinat kita sekarang dulu.”
“Hey, lepaskan kami! Apa mau kalian!?” teriak Sarif.
“Hey, diam anak pembunuh! Apa kamu tidak tahu, sudah berapa
banyak kaum kami kalian bunuh?” bentak Lerda.
“Apa? Kapan? Kami membunuh kalian?” Royan heran dengan
pernyataan alien itu.
“Kau lihat cerobong itu? Melalui cerobong itu kalian
kirimkan Kes-kes ke planet kami. Banyak kaum kami yang mati digerogoti
Kes-kes!!”
“Dapat! Ayo kita ke
Ziolin. Kita minta bantuan,” kata Kiosin.
“Tunggu. Tolong ambilkan kamera digitalku di kamar...” belum
selesai Royan berbicara, kameranya sudah ada di tangan Kiosin.
“Ini kan?”
-o0o-
“Astaghfirullah... ini apa?” Royan berdecak melihat penduduk
Ziolin yang terkena wabah dari Kes-kes, dia merekamnya dengan kamera digital.
“Inilah wabah yang disebabkan spesies Kes-kes. Kes-kes itu
terbentuk dari pembakaran plastik...” di tengah penjelasan Kiosin pada Royan,
terdengar suara tangisan. Mereka menghampiri sumber suara itu.
“Ada apa, bu?” tanya Lerda.
“Telur kami mati sebelum menetas...”
“Lerda lihat ini,” Kiosin memperlihatkan keadaan di bumi
pada Lerda melalui gadgetnya. Di
monitor itu menampilkan pengerjaan proyek taman tanpa tempat sampah, dan di
sana terlihat Lord Kitar membuang
plastik ke tanah. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada beberapa tabung
Arkensol.
“Ooh, aku sekarang tau siapa di balik semua in...” ucap
Kiosin pelan, lalu dia meneriakkan kepada semua semua penduduk, “Ziola yang
agung telah mengkhianati kalian! Yang membuat Kes-kes itu adalah dia! Semuanya,
serang Ziola!!!”
“Kiosin, kami akan membantu dari bumi. Rekaman ini akan
kumuat di Youtube, aku akan mengajak mereka untuk mengurangi sampah plastik.
Kami tidak akan memakai kresek lagi. Kami bisa menggunakan tas kain untuk
berbelanja,” ucap Royan penuh keprihatinan.
“Kalian juga harus menghentikan Kitar. Jika ada orang bumi yang terlibat dalam pemusnahan alien, pasti dia juga punya tujuan yang tidak kalah busuk. Jika kalian berhasil mengurangi sampah plastik, kalian pantas disebut pejuang bumi,” tambah Lerda lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar