Beberapa
orang dengan baju putih, dan beberapa lagi dengan payung hitam, mulai
meninggalkan gundukan tanah yang masih basah itu. Beberapa buah prasasti marmer
bertuliskan nama dan dua waktu, hanya membisu menyaksikan para pelayat yang
kini menuju gerbang pemakaman.
Isak tangis
belum reda, Via masih tertunduk menyesal di samping kubur kakaknya.
-----------------------------------------o0o---------------------------------------
“Dari mana
kamu!?”
Via yang
hendak membuka pintu, dikagetkan kakaknya yang tanpa diduga lebih dulu
membukakan dan langsung menginterogasinya.
“Rumah
teman!” jawabnya singkat, menerobos orang dihadapannya.
“Lihat!”
tunjuk Bima ke jam dinding di ruang keluarga. “Jam berapa kamu pulang?
Seharusnya…”
“Baru jam
delapan tuh,” tunjuk Via juga, menjawab tanpa rasa bersalah.
“Hah,
masa?” Bima pun melirik ke jam yang kini
sukses dijadikan Via sebagai kambing hitam. “Haduh, aku lupa ganti bateraynya
lagi,” kini Bima tersenyum malu, dia tarik adiknya ke kursi keluarga. “Ngapain
aja kamu tadi di sana? Kok pulangnya larut banget?”
“Ngerjain
pe-er, kakak! Sumpah,” jawabnya dengan muka masam, seraya menunjukkan jari
telunjuk dan tengahnya.
“Tapi tidak
seharusnya kamu pulang sampai jam sepuluhan gini!”
“Huh!”
bentaknya. “Kakak gak usah deh ngurusin Via! Via udah gede, kak!” Dia berdiri,
lalu langsung ke kamarnya.
Bima
terdiam dalam gundah. Rumah itu sunyi setelah bunyi bantingan pintu kamar Via.
Dua tahun
sudah ayah meninggalkan mereka, setelah sembilan tahun sebelumnya ibu mereka
yang pergi. Setelah kematian ayahnya itulah, Bima mengurus adiknya yang saat
itu sudah kelas IX MTs. Sambil sekolah, Bima bekerja serabutan. Setelah lulus,
dia bekerja di mini market. Namun, uang penghasilannya itu selalu habis untuk
hal-hal tidak perlu yang diinginkan Via. Bahkan tidak jarang Bima berhutang
untuk kebutuhan makan.
Setelah
kematian ayahnya, Via menjadi anak yang liar dan suka berfoya-foya. Meski
sebenarnya mereka tidak punya banyak penghasilan. Via malah nekat mencuri uang
kakaknya.
------------------------------------------o0o-----------------------------------------
“Ini
tehnya, kak,” Via meletakkan gelas itu di hadapan kakaknya. Dia kemudian duduk
di seberang kakaknya, membawa susu hangat.
“Kakak tau
Blackberry, gak?” dia memulai topik pagi sambil mengoles roti dengan selai
kacang.
Bima terus
membaca Koran pagi di balik piringnya yang masih kosong, hanya teh hangat tadi
yang sudah terhidang.
“Sekarang
teman-teman Via lagi musimnya pakai gadget gitu, kak,” Selapis roti sudah
selesai, dia letakkan di piring kosong kakaknya. Dia mengambil roti lagi. “Kalau
Via juga nenteng itu, pasti Via jadi keren!” serunya, antusias pada Bima.
Koran itu
kini terturun, wajah kecewa hadir dari balik koran itu.
“Via, kamu
sudah punya Galaxy, masa mau BB lagi? Itu sudah sukur, Vi. Dewasa lah.”
“Kakak aja
yang makai andro-ku, jelek gitu,” jawabnya manyun, sambil mengoles rotinya.
“Eh, kamu
tidak boleh menghina rejeki gitu. Di luar sana masih banyak orang yang begitu
susahnya berkomunikasi, kamu malah ngomong gitu!” Bima marah, dia kemudian
mengambil rotinya.
“Tapi aku
udah telanjur ngomong, kak!” mukanya kini tampak memelas.
“Ngomong
apa?” roti urung disuapnya.
“Via bilang
ke teman-teman, kalau Via punya BB,” Via menjelaskan sambil menunduk, matanya
melirik ke Bima. Wajah Bima kecewa lagi. “Lalu mereka mau lihat buktinya, kalau
gak bisa nunjukin, Via akan ditinggalkan mereka,” kini dia menatap kakaknya
dengan sempurna, lagi-lagi dengan wajah super kasian. Beginilah senjata Via
yang sering digunakannya untuk memeras Bima: wajah pengemis gerbang pasar.
“Bagus lah
kalau kamu tidak bergaul sama mereka lagi,” akhirnya roti itu sukses masuk ke
mulutnya. Ia mengunyah sebentar sambil memandangi Via yang juga menyantap
sarapannya seraya menyorot tajam pada kakaknya. “Berteman dengan banyak orang
itu bagus, dik. Tapi jangan sampai kita terhitami oleh mereka, jangan sampai
bintang redup oleh gelapnya malam. Bahkan, kalau bisa kita yang menjadikan
mereka bersinar, bersinar oleh iman,” roti itu mendapat gigitan kedua.
“Ah, sudah
lah!” Via meninggalkan roti yang baru termakan setengah itu.
Bima tidak
peduli, dia terus memakan rotinya dengan damai. Bima sudah terbiasa dengan
sikap Via yang begitu.
Dua puluh
enam Januari merupakan ulang tahun Via, biasanya momen ini selalu dimanfaatkan
Bima untuk menasehati Via. Dia berikan kado plus beberapa nasehat. Dia yakin,
bahwa kado itu bisa melunakkan hati, sehingga nasehatnya pun akan diperhatikan
adiknya.
--------------------------------------o0o--------------------------------------
“Assalamualaikum,”
suara Bima tampak kelelahan, masih menanti seseorang membukakan pintu rumah.
Tidak ada
jawaban. Bima mengetuk lagi. “Assalamualaikum.”
“Waalaikum
salam,” terdengar sahutan Via dari belakang.
Bima
menoleh, Via sibuk merogoh-rogoh tas tangannya sambil
berjalan cepat menuju pintu.
“Gak usah
ngomel! Kakak sendiri pulang larut malam gini!” Via mencuri start kali ini.
Biasanya Bima yang lebih dulu mengoceh.
Kunci sudah
dapat, Via memasukkannya ke lubang kunci.
“Kakak
kerja tambahan, Via. Kamu tau kan, duit kita sekarang tipis banget. Sedangkan
kredit hutang ayah bulan ini telat kita bayarnya! Makanya, belanja kamu tuh
kurangin dong. Ini datang dari mana?”
“Halah,
bilang aja nyari duit buat kado Via, ya kan?” godanya seraya tersenyum penuh
keyakinan pada Bima.
Bima tampak
salah tingkah. “Ah, sudah lah. Kakak capek,” jawabnya, langsung berlalu
melewati adiknya yang tersenyum penuh kemenangan.
Via
kemudian duduk di sofa depan televisi. Kedua kakinya diangkatnya untuk
menghindari dingin, tidak lupa Bunny kesayangannya di pangkuannya. Talkshow
dengan yel-yel ‘Re.. Re.. Renaldy!’ disantapnya bersama kacang kulit.
“Astaghfirullah
nih bocah…” dengan handuk yang masih melingkar di pinggang, Bima langsung meraih
remot TV di samping Via, lalu ditekannya tombol OFF. “Ayo tidur, besok sekolah
kan?”
Via
langsung bangkit, tak lupa boneka malang itu untuk dilemparkan ke arah
kakaknya.
“Pelit!”
teriaknya.
“Gak kena,
wek…” Bima menjulurkan lidahnya. “O iya,
de. Lain kali pulangnya jangan malam-malam lagi ya. Ntar kakak beliin BB deh.”
“Hah, yang
benar, kak?” Via langsung menghampiri kakaknya, dia pegang tangan kakaknya.
Wajah bahagia itu sungguh merona.
“Iya,”
jawab Bima tersenyum. “Tapi kamu harus janji, shalatnya jangan malas, pulang
jangan lewat dari jam sembilan, jangan suka foya-foya, dan yang paling penting…
tetap sayang kakak!” seru Bima sambil mencubit kedua pipi adiknya.
“Ih kakak,
tanganmu basah tuh,” Via menyingkirkan tangan kakaknya. “Itu sih pasti, kak!”
jawab Via mengacungkan jempolnya. Matanya jadi sipit saat tersenyum.
“Itu yang
mana? Harus semuanya Ya!” Bima menunjuk terlalu dekat ke wajah Via. “Dari
dulu-dulu kamu gitu, ‘iya, kakak sayang, Via janji,’ ‘tenang aja, kak. Via bisa
dipercaya kok.’ Tapi tetaaap aja. Huu!” Bima menirukan tingkah adiknya dengan
suara dan intonasi yang dibuat-buat.
“Hehe… sana
gih, pakai baju dulu. Baru tidur. Katanya capek,” Via mendorong kakaknya.
“Iya-iya.
Kamu juga tidur. Jangan lupa baca doa!”
Via menuju
kamar, dia acungkan lagi jempolnya sesaat sebelum menutup pintu kamarnya.
---------------------------------------o0o---------------------------------------
Bima
bangkit dari ranjangnya, dia menoleh ke meja di samping tempat tidurnya. Di
sana terdapat pigura plastik kecil sederhana, dengan foto sepasang laki-laki
dan perempuan berwajah lucu, bahkan lebih tepatnya aneh. Hasil pemotretan di photo box. Di belakang pigura itu, berdiri
sebuah kalender lipat yang sedikit lebih tinggi dari pigura di depannya. Nomer
25 pada halaman itu disilang, sedangkan angka di sebelah kanannya dilingkari
dengan spidol merah.
Bima menuju
meja belajarnya. Meski kini sudah berubah fungsi menjadi meja koleksi bukunya.
Laci meja itu dibukanya. Sebuah kotak hitam bertuliskan Blackberry diambilnya.
Kemudian sebuah benda lagi dia ambil dari sana, 10 Wanita Ahli Surga: Kisah-kisah Teladan Sepanjang Masa, bukunya
pak Musthafa Murad. Lalu segulung kertas warna-warni sepanjang empat puluh
senti, serta gunting dan selotip tak lupa dipungutnya. Sekarang Bima sibuk
membungkus paket itu.
“Kak, ayo
sarapan!” panggil Via dari ruang makan.
“Iya. Kakak
datang!” tak berapa lama, Bima keluar.
“Ayo kak,”
Via meletakkan piring yang sudah terisi nasi itu di hadapannya. Sedangkan jatah
kakaknya sudah terhidang di tempatnya.
Bima duduk.
“Dik, malam ini kita makan malamnya di luar aja ya. Alhamdulillah kakak sedang
ada rejeki nih,” katanya sambil menatap adiknya.
“Kakak
gimana sih, katanya jangan foya-foya,” protes Via.
Bima
langsung terdiam, dia kaget adiknya menjawab begitu. Kekagetan itu terlihat
jelas dari wajahnya.
“Hehe…
santai aja kenapa sih, kak. Iya, Via ikut. Pasti mau kasih kado ke Via kan?”
Via menunujuk kakaknya dengan genit. Bima langsung menyantap sarapannya tanpa
menoleh ke Via.
“Emangnya
kakak kira Via lupa apa?” serang Via lagi, tersenyum. Bima pun tersenyum sambil
mengunyah makanannya.
---------------------------------------o0o---------------------------------------
“Maaf, bu,
bisa pinjam Via sebentar?” pak Tani dari TU, meminta izin pada bu Tri yang saat
itu sedang mengajar di kelas Via.
Via
terkejut sekaligus bingung. Kasak-kusuk mulai terdengar di kelas.
“Ada apa?”
bu Tri minta penjelasan.
“Ada telpon
dari CV. Bangun bersama, mereka tidak menyebutkan ada apa.”
Bu Tri
mengangguk pada Via. Via keluar dengan bingung yang menumpuk. Namun semua itu
akan terjawab setelah dia berbicara dengan orang di telpon.
“Bohong!”
teriak Via.
Semua orang
di TU terperanjat. Via langsung teduduk lemas. Telpon diambil alih oleh pak
Tani, Via diurus bu Sanah.
“Ada apa?”
Tanya bu Sanah pada pak Tani. Via yang menangis, dirangkulnya dengan erat.
“Bima,
kakaknya, mengalami kecelakaan kerja. Terjatuh dari lantai lima,” jawab pak
Tani dengan wajah penuh keprihatinan. “Jenazahnya ada di rumah sakit dr.
Teddy.”
--------------------------------------------o0o---------------------------------------
Pulang
sekolah, Via tidak langsung ke rumah sakit. Dia lebih memilih untuk
menghamburkan segala kesedihannya di kamar kakaknya. Sesampainya di kamar itu,
perhatiannya langsung tertuju pada kotak warna-warni yang tertimpa sinar
matahari dari celah gorden jendela.
Kotak itu
dibawa Via ke tempat tidur di kamar itu. Dia mulai membukanya. Dia temukan BB
dan sebuah buku di dalamnya, dan satu lagi: surat.
Untuk adikku tersayang: Via Firdhawati. Kakak
harap, kamu bisa menjadi perempuan shalehah, yang kelak akan melahirkan
perempuan-perempuan shalehah lainnya. Serta menjadi penolong di mana pun kamu
berada.’dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik.
An-Nur:26’.
“Aku janji, kak,” bisik Via dalam isaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar