Selasa, 12 Agustus 2014

Kado Terakhir

Beberapa orang dengan baju putih, dan beberapa lagi dengan payung hitam, mulai meninggalkan gundukan tanah yang masih basah itu. Beberapa buah prasasti marmer bertuliskan nama dan dua waktu, hanya membisu menyaksikan para pelayat yang kini menuju gerbang pemakaman.
Isak tangis belum reda, Via masih tertunduk menyesal di samping kubur kakaknya.

-----------------------------------------o0o---------------------------------------

“Dari mana kamu!?”


Via yang hendak membuka pintu, dikagetkan kakaknya yang tanpa diduga lebih dulu membukakan dan langsung menginterogasinya.

“Rumah teman!” jawabnya singkat, menerobos orang dihadapannya.

“Lihat!” tunjuk Bima ke jam dinding di ruang keluarga. “Jam berapa kamu pulang? Seharusnya…”

“Baru jam delapan tuh,” tunjuk Via juga, menjawab tanpa rasa bersalah.

“Hah, masa?”  Bima pun melirik ke jam yang kini sukses dijadikan Via sebagai kambing hitam. “Haduh, aku lupa ganti bateraynya lagi,” kini Bima tersenyum malu, dia tarik adiknya ke kursi keluarga. “Ngapain aja kamu tadi di sana? Kok pulangnya larut banget?”

“Ngerjain pe-er, kakak! Sumpah,” jawabnya dengan muka masam, seraya menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya.

“Tapi tidak seharusnya kamu pulang sampai jam sepuluhan gini!”

“Huh!” bentaknya. “Kakak gak usah deh ngurusin Via! Via udah gede, kak!” Dia berdiri, lalu langsung ke kamarnya.

Bima terdiam dalam gundah. Rumah itu sunyi setelah bunyi bantingan pintu kamar Via.

Dua tahun sudah ayah meninggalkan mereka, setelah sembilan tahun sebelumnya ibu mereka yang pergi. Setelah kematian ayahnya itulah, Bima mengurus adiknya yang saat itu sudah kelas IX MTs. Sambil sekolah, Bima bekerja serabutan. Setelah lulus, dia bekerja di mini market. Namun, uang penghasilannya itu selalu habis untuk hal-hal tidak perlu yang diinginkan Via. Bahkan tidak jarang Bima berhutang untuk kebutuhan makan.

Setelah kematian ayahnya, Via menjadi anak yang liar dan suka berfoya-foya. Meski sebenarnya mereka tidak punya banyak penghasilan. Via malah nekat mencuri uang kakaknya.

------------------------------------------o0o-----------------------------------------

“Ini tehnya, kak,” Via meletakkan gelas itu di hadapan kakaknya. Dia kemudian duduk di seberang kakaknya, membawa susu hangat.

“Kakak tau Blackberry, gak?” dia memulai topik pagi sambil mengoles roti dengan selai kacang.
Bima terus membaca Koran pagi di balik piringnya yang masih kosong, hanya teh hangat tadi yang sudah terhidang.

“Sekarang teman-teman Via lagi musimnya pakai gadget gitu, kak,” Selapis roti sudah selesai, dia letakkan di piring kosong kakaknya. Dia mengambil roti lagi. “Kalau Via juga nenteng itu, pasti Via jadi keren!” serunya, antusias pada Bima.

Koran itu kini terturun, wajah kecewa hadir dari balik koran itu.

“Via, kamu sudah punya Galaxy, masa mau BB lagi? Itu sudah sukur, Vi. Dewasa lah.”

“Kakak aja yang makai andro-ku, jelek gitu,” jawabnya manyun, sambil mengoles rotinya.

“Eh, kamu tidak boleh menghina rejeki gitu. Di luar sana masih banyak orang yang begitu susahnya berkomunikasi, kamu malah ngomong gitu!” Bima marah, dia kemudian mengambil rotinya.

“Tapi aku udah telanjur ngomong, kak!” mukanya kini tampak memelas.

“Ngomong apa?” roti urung disuapnya.

“Via bilang ke teman-teman, kalau Via punya BB,” Via menjelaskan sambil menunduk, matanya melirik ke Bima. Wajah Bima kecewa lagi. “Lalu mereka mau lihat buktinya, kalau gak bisa nunjukin, Via akan ditinggalkan mereka,” kini dia menatap kakaknya dengan sempurna, lagi-lagi dengan wajah super kasian. Beginilah senjata Via yang sering digunakannya untuk memeras Bima: wajah pengemis gerbang pasar.

“Bagus lah kalau kamu tidak bergaul sama mereka lagi,” akhirnya roti itu sukses masuk ke mulutnya. Ia mengunyah sebentar sambil memandangi Via yang juga menyantap sarapannya seraya menyorot tajam pada kakaknya. “Berteman dengan banyak orang itu bagus, dik. Tapi jangan sampai kita terhitami oleh mereka, jangan sampai bintang redup oleh gelapnya malam. Bahkan, kalau bisa kita yang menjadikan mereka bersinar, bersinar oleh iman,” roti itu mendapat gigitan kedua.

“Ah, sudah lah!” Via meninggalkan roti yang baru termakan setengah itu.
Bima tidak peduli, dia terus memakan rotinya dengan damai. Bima sudah terbiasa dengan sikap Via yang begitu.

Dua puluh enam Januari merupakan ulang tahun Via, biasanya momen ini selalu dimanfaatkan Bima untuk menasehati Via. Dia berikan kado plus beberapa nasehat. Dia yakin, bahwa kado itu bisa melunakkan hati, sehingga nasehatnya pun akan diperhatikan adiknya.

--------------------------------------o0o--------------------------------------

“Assalamualaikum,” suara Bima tampak kelelahan, masih menanti seseorang membukakan pintu rumah.

Tidak ada jawaban. Bima mengetuk lagi. “Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam,” terdengar sahutan Via dari belakang.

Bima menoleh, Via sibuk merogoh-rogoh tas tangannya sambil berjalan cepat menuju pintu.

“Gak usah ngomel! Kakak sendiri pulang larut malam gini!” Via mencuri start kali ini. Biasanya Bima yang lebih dulu mengoceh.

Kunci sudah dapat, Via memasukkannya ke lubang kunci.

“Kakak kerja tambahan, Via. Kamu tau kan, duit kita sekarang tipis banget. Sedangkan kredit hutang ayah bulan ini telat kita bayarnya! Makanya, belanja kamu tuh kurangin dong. Ini datang dari mana?”

“Halah, bilang aja nyari duit buat kado Via, ya kan?” godanya seraya tersenyum penuh keyakinan pada Bima.

Bima tampak salah tingkah. “Ah, sudah lah. Kakak capek,” jawabnya, langsung berlalu melewati adiknya yang tersenyum penuh kemenangan.

Via kemudian duduk di sofa depan televisi. Kedua kakinya diangkatnya untuk menghindari dingin, tidak lupa Bunny kesayangannya di pangkuannya. Talkshow dengan yel-yel ‘Re.. Re.. Renaldy!’ disantapnya bersama kacang kulit.

“Astaghfirullah nih bocah…” dengan handuk yang masih melingkar di pinggang, Bima langsung meraih remot TV di samping Via, lalu ditekannya tombol OFF. “Ayo tidur, besok sekolah kan?”

Via langsung bangkit, tak lupa boneka malang itu untuk dilemparkan ke arah kakaknya.

“Pelit!” teriaknya.

“Gak kena, wek…” Bima  menjulurkan lidahnya. “O iya, de. Lain kali pulangnya jangan malam-malam lagi ya. Ntar kakak beliin BB deh.”

“Hah, yang benar, kak?” Via langsung menghampiri kakaknya, dia pegang tangan kakaknya. Wajah bahagia itu sungguh merona.

“Iya,” jawab Bima tersenyum. “Tapi kamu harus janji, shalatnya jangan malas, pulang jangan lewat dari jam sembilan, jangan suka foya-foya, dan yang paling penting… tetap sayang kakak!” seru Bima sambil mencubit kedua pipi adiknya.

“Ih kakak, tanganmu basah tuh,” Via menyingkirkan tangan kakaknya. “Itu sih pasti, kak!” jawab Via mengacungkan jempolnya. Matanya jadi sipit saat tersenyum.

“Itu yang mana? Harus semuanya Ya!” Bima menunjuk terlalu dekat ke wajah Via. “Dari dulu-dulu kamu gitu, ‘iya, kakak sayang, Via janji,’ ‘tenang aja, kak. Via bisa dipercaya kok.’ Tapi tetaaap aja. Huu!” Bima menirukan tingkah adiknya dengan suara dan intonasi yang dibuat-buat.

“Hehe… sana gih, pakai baju dulu. Baru tidur. Katanya capek,” Via mendorong kakaknya.

“Iya-iya. Kamu juga tidur. Jangan lupa baca doa!”

Via menuju kamar, dia acungkan lagi jempolnya sesaat sebelum menutup pintu kamarnya.

---------------------------------------o0o---------------------------------------

Bima bangkit dari ranjangnya, dia menoleh ke meja di samping tempat tidurnya. Di sana terdapat pigura plastik kecil sederhana, dengan foto sepasang laki-laki dan perempuan berwajah lucu, bahkan lebih tepatnya aneh. Hasil pemotretan di photo box. Di belakang pigura itu, berdiri sebuah kalender lipat yang sedikit lebih tinggi dari pigura di depannya. Nomer 25 pada halaman itu disilang, sedangkan angka di sebelah kanannya dilingkari dengan spidol merah.

Bima menuju meja belajarnya. Meski kini sudah berubah fungsi menjadi meja koleksi bukunya. Laci meja itu dibukanya. Sebuah kotak hitam bertuliskan Blackberry diambilnya. Kemudian sebuah benda lagi dia ambil dari sana, 10 Wanita Ahli Surga: Kisah-kisah Teladan Sepanjang Masa, bukunya pak Musthafa Murad. Lalu segulung kertas warna-warni sepanjang empat puluh senti, serta gunting dan selotip tak lupa dipungutnya. Sekarang Bima sibuk membungkus paket itu.

“Kak, ayo sarapan!” panggil Via dari ruang makan.

“Iya. Kakak datang!” tak berapa lama, Bima keluar.

“Ayo kak,” Via meletakkan piring yang sudah terisi nasi itu di hadapannya. Sedangkan jatah kakaknya sudah terhidang di tempatnya.

Bima duduk. “Dik, malam ini kita makan malamnya di luar aja ya. Alhamdulillah kakak sedang ada rejeki nih,” katanya sambil menatap adiknya.

“Kakak gimana sih, katanya jangan foya-foya,” protes Via.

Bima langsung terdiam, dia kaget adiknya menjawab begitu. Kekagetan itu terlihat jelas dari wajahnya.

“Hehe… santai aja kenapa sih, kak. Iya, Via ikut. Pasti mau kasih kado ke Via kan?” Via menunujuk kakaknya dengan genit. Bima langsung menyantap sarapannya tanpa menoleh ke Via.

“Emangnya kakak kira Via lupa apa?” serang Via lagi, tersenyum. Bima pun tersenyum sambil mengunyah makanannya.

---------------------------------------o0o---------------------------------------

“Maaf, bu, bisa pinjam Via sebentar?” pak Tani dari TU, meminta izin pada bu Tri yang saat itu sedang mengajar di kelas Via.

Via terkejut sekaligus bingung. Kasak-kusuk mulai terdengar di kelas.

“Ada apa?” bu Tri minta penjelasan.

“Ada telpon dari CV. Bangun bersama, mereka tidak menyebutkan ada apa.”

Bu Tri mengangguk pada Via. Via keluar dengan bingung yang menumpuk. Namun semua itu akan terjawab setelah dia berbicara dengan orang di telpon.

“Bohong!” teriak Via.

Semua orang di TU terperanjat. Via langsung teduduk lemas. Telpon diambil alih oleh pak Tani, Via diurus bu Sanah.

“Ada apa?” Tanya bu Sanah pada pak Tani. Via yang menangis, dirangkulnya dengan erat.

“Bima, kakaknya, mengalami kecelakaan kerja. Terjatuh dari lantai lima,” jawab pak Tani dengan wajah penuh keprihatinan. “Jenazahnya ada di rumah sakit dr. Teddy.”

--------------------------------------------o0o---------------------------------------

Pulang sekolah, Via tidak langsung ke rumah sakit. Dia lebih memilih untuk menghamburkan segala kesedihannya di kamar kakaknya. Sesampainya di kamar itu, perhatiannya langsung tertuju pada kotak warna-warni yang tertimpa sinar matahari dari celah gorden jendela.

Kotak itu dibawa Via ke tempat tidur di kamar itu. Dia mulai membukanya. Dia temukan BB dan sebuah buku di dalamnya, dan satu lagi: surat.

Untuk adikku tersayang: Via Firdhawati. Kakak harap, kamu bisa menjadi perempuan shalehah, yang kelak akan melahirkan perempuan-perempuan shalehah lainnya. Serta menjadi penolong di mana pun kamu berada.’dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. An-Nur:26’.

“Aku janji, kak,” bisik Via dalam isaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar