00.30 WITA
Semilir angin malam bertiup sendu, mengirimkan udara dingin
yang menusuk kulit. Namun hal itu tidak membuat Bama meninggalkan shalat
malamnya.
Setiap malam, Bama selalu
melatih otot-ototnya di ruangan fitnes rumah mereka. Melatih kegesitan serta
kemahiran beladirinya. Setelah latihan tersebut sekitar tiga puluh menit, baru
dia mandi, lalu melakukan qiyamul lail.
Bama memalingkan wajahnya ke
kanan, lalu ke kiri, kemudian mengusap
wajah dengan tangan kanannya. Setelah berdoa sebentar, ia melirik pada istrinya
yang kini masih terlelap di tempat tidur.
Bama bangkit, mengganti baju
kokonya dengan seragam militer. Persiapan selesai. Ia melirik lagi pada
istrinya. Istrinya sudah terjaga.
Senyum mengiringi langkah pria
gagah itu menuju istrinya, “Aku pasti pulang,” katanya, seraya berjongkok di
samping istrinya. “Papa pasti pulang,” katanya lagi, mengelus perut istrinya.
Perempuan itupun tersenyum
penuh ketegaran, “Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang kamu.”
Dengan langkah tegap dan penuh
kepastian, Bama melangkah menuju pintu.
“Jangan lupa berdoa, Pah,” istrinya mengingatkan,
sesaat sebelum Bama mencapai pintu. Hanya senyum dari Bama.
-----------------------------o0o-----------------------
“Orang ini merupakan seorang
resedivis yang sangat berbahaya, berdarah dingin. Kalian harus hati-hati
menghadapinya. Dia mempunyai dua orang kepercayaan yang selalu berada di
dekatnya. Mat Jaja dan Indjy. Mereka rela mengorbankan nyawanya demi Hama,”
sersan itu mewanti-wanti semua anak buahnya yang kini duduk berjejer di dalam barakuda
yang kini mereka naiki.
“Tiga puluh detik!” kode
datang dari asisten supir di depan.
“Well. Jangan gegabah. Demi
kemanusian!”
Sersan itu meletakkan
tangannya di udara, di tengah-tengah pasukan. Satu persatu tentara itu
meletakkan tangannya di atas tangan pemimpin mereka. Semua tangan bertumpuk.
“Hoo!” teriak mereka.
Lima belas prajurit berseragam
hitam itu mulai mengendap masuk ke apartemen kumuh itu. Satu persatu penjaga
mereka lumpuhkan, tanpa ketahuan oleh Hama dan dua orang pengawalnya.
Lantai teratas, pintu terakhir.
Disinyalir di balik pintu itulah Hama bersembunyi, gemetar ketakutan.
Sersan menggerak-gerakkan
tangannya, memberi aba-aba pada pasukan untuk membentuk formasi penyergapan.
Tapi kode itu terlalu gemulai, sehingga hanya terlihat seperti tarian daerah
dari Minang. Alhasil, pasukan pun berbaris lalu melakukan tarian dari daerah
masing-masing.
“Formasi penyergapan!”
geramnya kesal setengah berbisik.
Serentak, pasukan membentuk
formasi dengan benar.
“Siap?” tanya sersan memandang
anak buah-anak buahnya. Semua mengangguk.
“GO!”
BRAKKK (pintu di dobrak)
Tang, tang, tang, tang… sebuah
benda silinder berwarna merah memantul-mantul kearah pasukan. Sersan melirik ke
arah benda tersebut, lalu memandang ke depan, pada Hama yang duduk angkuh
didampingi dua orang asisten kepercayaannya. Mereka menyeringai.
“Bom!” teriak mereka.
“Tiaraaap, Waaaa‼!” teriak
mereka lagi.
Bama meronta-ronta,
melambai-lambaikan tangannya, “Aaaaa…”
Bhuk‼ Sebuah benda empuk
mendarat di wajah lugu Bama.
“Bangun!” teriak perempuan
dari sampingnya. “Pagi-pagi udah bikin bini sakit pinggang!” dengan wajah
dilipat-lipat penuh kekesalan dan kejengkelan, perempuan berambut bagai mak
lampir itu memaki suaminya. Seraya memegangi pinggangnya yang nyeri oleh
tendangan Bama.
“Eh, mamah, udah bangun tho?” katanya polos, tak peduli dengan
pinggang istrinya.
“Hayo buru, hari ini kerja kan?” desak perempuan itu, masih dengan
wajah sewot.
Bama bangun dengan malas,
mengambil handuk di dinding, lalu ke kamar mandi. Kurang dari lima belas menit,
ia keluar. Menuju lemari simetris dua pintu, dibukanya lebar-lebar kedua pintu
itu (sudut pandang kamera dari belakang, menyorot punggung gagah Bama), Bama
berdiri tegap di depan lemari yang kini terbuka lebar (sound background irama
percusi penuh semangat), diambilnya sesuatu dari lemari, kemeja hitam, celana
hitam. Sebuah seragam. Seragam telah dikenakan (kamera berputar secara perlahan
dari punggung ke depan, dengan tetap fokus pada Bama, lalu menyorot tulisan
yang ada di dada kiri Bama: security; sound background: down).
Bama berpaling, berjalan
santai menuju keluar, mengambil lunch box
di ruang tamu, lalu langsung menuju mini market LOL.
“Hari ini, aku harus
melindungi manusia! Aku adalah pahlawan, pelindung manusia! Apapun yang ku
hadapi, besar, kecil, tajam, tumpul, aku harus menumpas kebathilan!” itulah
yang selalu dicamkan Bama tiap kali berangkat bekerja: niat.
---------------------o0o------------------
“Eh, eh, kopasus kita datang
tuh, hahaha…” sambut Rudi, tertawa bersama karyawan mini market LOL yang lain.
“Malam tadi ada misi apa lagi,
Bam?” goda Juhdi.
“Mau tau?” Bama duduk di
tempatnya, bersiap untuk bercerita. “Malam tadi kami melakukan penyergapan
bandar heroin di sebuah apartemen kumuh. Kami yang awalnya lima belas orang,
hanya tinggal dua, aku dan Jo,” Bama bercerita penuh dengan ekspresi dan bahasa
tubuh yang full. “Tiap kami masuk ke salah satu kamar, ada yang menghadang
kami, tapi kami lebih siap, bat, bat, bat,” tangannya memukul-mukul ke udara.
Teman-temannya hanya tersenyum
geli melihat kelakuan Bama yang suka berkhayal. Sejak pertama bekerja di mini
market LOL, Bama tak pernah kekurangan cerita tentang pengalamannya saat
menjadi tim khusus di satuan Angsa Murka Anti Teror, disingkat AMAT. Setidaknya
begitu pengakuan Bama. Kenyataannya, siapa yang tau?
Dor! Tiba-tiba terdengar suara
tembakan dari dalam mini market, diiringi teriakan seorang perempuan. Bama dan
teman-temannya yang sedang duduk di depan, kompak menegakkan badannya, memanjangkan
lehernya, sehingga terlihat seperti kumpulan itik yang baru melihat usus ikan
jatuh dari langit.
Serentak semua mata tertuju
pada Bama.
“Ayo, Bam, kamu harus
bertindak,” perintah Rudi dengan mimik ketakutan.
“Iya, kamu bertanggung jawab
terhadap keamanan di sini,” kata yang lain.
“Buktikan kalau kamu memang
mantan pasukan tim khusus AMAT,” kata Juhdi, sehingga mau tak mau Bama masuk.
Haraga diri, man…
Dengan mengendap-endap Bama
masuk, seraya menarik pentungan yang tergantung di pinggangnya. Salah satu rak
terdekat menjadi tujuan Bama untuk bersembunyi. Perampok itu masih berjarak delapan
rak dari tempat Bama sekarang. Setidaknya perampok ingusan itu tidak menyadari kehadiran Bama.
Sesekali Bama menengok ke arah
perampok itu, saat keadaan dirasa aman, Bama beralih ke rak yang satunya.
Memperkecil jarak di antara mereka.
Krrsak, pluk! Salah satu
produk popok bayi tersenggol Bama hingga terjatuh.
“Hey, siapa disitu!? Jangan
bertindak bodoh, Bung. Aku punya pistol, kau hanya pentungan!” teriak perampok
itu, menyinggung pentungan yang ujungnya terlihat di salah satu sudut rak yang
penuh dengan popok. Bama pun menarik pentungannya, malu barangnya disebut-sebut.
“Hey! Jangan bertindak bodoh!”
tegur perampok itu lagi, terdengar agak tegang. Kemudian ia mengarahkan
pistolnya ke arah rak tempat Bama bersembunyi. Salah paham dengan apa yang
dilakukan Bama barusan.
DOR! DOR! Tembakan
dilepaskannya. Bama hanya bisa merunduk, sambil menetupi kepala dengan kedua
tangannya. Beruntung, peluru-peluru itu hanya menembus popok-popok yang ada di
rak. Beberapa produk yang terkena tembakan, memuntahkan popok segar, jatuh, dan
tersangkut di kepala Bama.
“Uhh…” erang Bama, mual dengan
bau khas dari popok itu.
“Haha… mau kemana lagi kau?”
suara itu terdengar mendekat. Bama pun yakin perampok itu mendekatinya, terbukti
dari suara langkah santai orang itu yang terdengar semakin jelas.
Semakin suara itu berderap,
semakin takut pula Bama. Keringat dingin mulai membanjiri ketiaknya, degup
jantungnya pun makin tak karuan. Di tengah kegalauannya, Bama pun berdoa, “Ya
Allah, inilah amanah yang kau berikan, aku menjalankannya, hanya menjalankan
apa yang telah Engkau percayakan kepada ku. Engkau lah yang memiliki ku, Engkau
lah yang memegang ubun-ubun ku, Engkau lah yang telah menentukan ajal ku, hanya
kepada Mu aku kembali, jika ajal ku bukan di sini, maka pistol akan kalah oleh
pentungan. Inilah pekerjaan ku, aku harus menuntaskannya! Aku harus
menghadapinya!” kepercaya dirian Bama pun mencapai puncak tertinggi dengan
frekuensi tanpa batas, dan sinyal tanpa putus. Apabila diri sudah diikhlaskan,
maka tak ada lagi keraguan. “Allahu Akbaaar‼!” teriak Bama, keluar dari
persembunyiannya seraya mengangkat pentungannya, bersiap untuk memukul
perampok.
“Allahu akbar, Allahu Akbar,
sami Allahu li man hamidah, eeh… Allahu Akbar, eeh…” jawab seorang ibu-ibu
latah, yang kini ada di hadapan Bama. “E, e, e, kamu mau nakalin aku, ya?
Eheeh… nakalin…” katanya lagi sambil menutup mulutnya tiap kali berkata latah.
“Lho? Rampok yang di sini tadi
mana, bu?” tanya Bama heran.
“Huh, dasar pahlawan
kesiangan, ee… pahlawan kesiangan. Tuh sudah didorong polisi, eh didorong…”
jawab ibu itu lagi dengan terlatah-latah tanpa tertatith-tatih.
“Tadi, ketika kalian sedang
berseteru, polisi datang. Nah ketika perhatian rampok itu tertuju pada mu, dan
akan mendatangi mu, polisi mengendap-endap dari belakangnya, lalu membekuknya.
Tanpa suara. Keren bro!” Rudi menjelaskan.
“Tapi kamu memang patut
diacungi jempol, kamu hebat sebagai pengalih perhatian,” kata Juhdi, berusaha
menguatkan hati Bama. Namun sayang, teman-teman yang lain malah tertawa. Bama
pun down again, dan akhirnya… the end.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar