Selasa, 12 Agustus 2014

The Raib

00.30 WITA
Semilir angin  malam bertiup sendu, mengirimkan udara dingin yang menusuk kulit. Namun hal itu tidak membuat Bama meninggalkan shalat malamnya.

Setiap malam, Bama selalu melatih otot-ototnya di ruangan fitnes rumah mereka. Melatih kegesitan serta kemahiran beladirinya. Setelah latihan tersebut sekitar tiga puluh menit, baru dia mandi, lalu melakukan qiyamul lail.


Bama memalingkan wajahnya ke kanan, lalu ke kiri, kemudian  mengusap wajah dengan tangan kanannya. Setelah berdoa sebentar, ia melirik pada istrinya yang kini masih terlelap di tempat tidur.

Bama bangkit, mengganti baju kokonya dengan seragam militer. Persiapan selesai. Ia melirik lagi pada istrinya. Istrinya sudah terjaga.

Senyum mengiringi langkah pria gagah itu menuju istrinya, “Aku pasti pulang,” katanya, seraya berjongkok di samping istrinya. “Papa pasti pulang,” katanya lagi, mengelus perut istrinya.

Perempuan itupun tersenyum penuh ketegaran, “Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu.”

Dengan langkah tegap dan penuh kepastian, Bama melangkah menuju pintu.

“Jangan  lupa berdoa, Pah,” istrinya mengingatkan, sesaat sebelum Bama mencapai pintu. Hanya senyum dari Bama.

-----------------------------o0o-----------------------

“Orang ini merupakan seorang resedivis yang sangat berbahaya, berdarah dingin. Kalian harus hati-hati menghadapinya. Dia mempunyai dua orang kepercayaan yang selalu berada di dekatnya. Mat Jaja dan Indjy. Mereka rela mengorbankan nyawanya demi Hama,” sersan itu mewanti-wanti semua anak buahnya yang kini duduk berjejer di dalam barakuda yang kini mereka naiki.

“Tiga puluh detik!” kode datang dari asisten supir di depan.

“Well. Jangan gegabah. Demi kemanusian!”

Sersan itu meletakkan tangannya di udara, di tengah-tengah pasukan. Satu persatu tentara itu meletakkan tangannya di atas tangan pemimpin mereka. Semua tangan bertumpuk.

“Hoo!” teriak mereka.

Lima belas prajurit berseragam hitam itu mulai mengendap masuk ke apartemen kumuh itu. Satu persatu penjaga mereka lumpuhkan, tanpa ketahuan oleh Hama dan dua orang pengawalnya.
Lantai teratas, pintu terakhir. Disinyalir di balik pintu itulah Hama bersembunyi, gemetar ketakutan.
Sersan menggerak-gerakkan tangannya, memberi aba-aba pada pasukan untuk membentuk formasi penyergapan. Tapi kode itu terlalu gemulai, sehingga hanya terlihat seperti tarian daerah dari Minang. Alhasil, pasukan pun berbaris lalu melakukan tarian dari daerah masing-masing.

“Formasi penyergapan!” geramnya kesal setengah berbisik.

Serentak, pasukan membentuk formasi dengan benar.

“Siap?” tanya sersan memandang anak buah-anak buahnya. Semua mengangguk.

“GO!”

BRAKKK (pintu di dobrak)
Tang, tang, tang, tang… sebuah benda silinder berwarna merah memantul-mantul kearah pasukan. Sersan melirik ke arah benda tersebut, lalu memandang ke depan, pada Hama yang duduk angkuh didampingi dua orang asisten kepercayaannya. Mereka menyeringai.

“Bom!” teriak mereka.

“Tiaraaap, Waaaa‼!” teriak mereka lagi.

Bama meronta-ronta, melambai-lambaikan tangannya, “Aaaaa…”

Bhuk‼ Sebuah benda empuk mendarat di wajah lugu Bama.

“Bangun!” teriak perempuan dari sampingnya. “Pagi-pagi udah bikin bini sakit pinggang!” dengan wajah dilipat-lipat penuh kekesalan dan kejengkelan, perempuan berambut bagai mak lampir itu memaki suaminya. Seraya memegangi pinggangnya yang nyeri oleh tendangan Bama.

“Eh, mamah, udah bangun tho?” katanya polos, tak peduli dengan pinggang istrinya.

Hayo buru, hari ini kerja kan?” desak perempuan itu, masih dengan wajah sewot.

Bama bangun dengan malas, mengambil handuk di dinding, lalu ke kamar mandi. Kurang dari lima belas menit, ia keluar. Menuju lemari simetris dua pintu, dibukanya lebar-lebar kedua pintu itu (sudut pandang kamera dari belakang, menyorot punggung gagah Bama), Bama berdiri tegap di depan lemari yang kini terbuka lebar (sound background irama percusi penuh semangat), diambilnya sesuatu dari lemari, kemeja hitam, celana hitam. Sebuah seragam. Seragam telah dikenakan (kamera berputar secara perlahan dari punggung ke depan, dengan tetap fokus pada Bama, lalu menyorot tulisan yang ada di dada kiri Bama: security; sound background: down).

Bama berpaling, berjalan santai menuju keluar, mengambil lunch box di ruang tamu, lalu langsung menuju mini market LOL.

“Hari ini, aku harus melindungi manusia! Aku adalah pahlawan, pelindung manusia! Apapun yang ku hadapi, besar, kecil, tajam, tumpul, aku harus menumpas kebathilan!” itulah yang selalu dicamkan Bama tiap kali berangkat bekerja: niat.

---------------------o0o------------------

“Eh, eh, kopasus kita datang tuh, hahaha…” sambut Rudi, tertawa bersama karyawan mini market LOL yang lain.

“Malam tadi ada misi apa lagi, Bam?” goda Juhdi.

“Mau tau?” Bama duduk di tempatnya, bersiap untuk bercerita. “Malam tadi kami melakukan penyergapan bandar heroin di sebuah apartemen kumuh. Kami yang awalnya lima belas orang, hanya tinggal dua, aku dan Jo,” Bama bercerita penuh dengan ekspresi dan bahasa tubuh yang full. “Tiap kami masuk ke salah satu kamar, ada yang menghadang kami, tapi kami lebih siap, bat, bat, bat,” tangannya memukul-mukul ke udara.

Teman-temannya hanya tersenyum geli melihat kelakuan Bama yang suka berkhayal. Sejak pertama bekerja di mini market LOL, Bama tak pernah kekurangan cerita tentang pengalamannya saat menjadi tim khusus di satuan Angsa Murka Anti Teror, disingkat AMAT. Setidaknya begitu pengakuan Bama. Kenyataannya, siapa yang tau?

Dor! Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari dalam mini market, diiringi teriakan seorang perempuan. Bama dan teman-temannya yang sedang duduk di depan, kompak menegakkan badannya, memanjangkan lehernya, sehingga terlihat seperti kumpulan itik yang baru melihat usus ikan jatuh dari langit.
Serentak semua mata tertuju pada Bama.

“Ayo, Bam, kamu harus bertindak,” perintah Rudi dengan mimik ketakutan.

“Iya, kamu bertanggung jawab terhadap keamanan di sini,” kata yang lain.

“Buktikan kalau kamu memang mantan pasukan tim khusus AMAT,” kata Juhdi, sehingga mau tak mau Bama masuk. Haraga diri, man…

Dengan mengendap-endap Bama masuk, seraya menarik pentungan yang tergantung di pinggangnya. Salah satu rak terdekat menjadi tujuan Bama untuk bersembunyi. Perampok itu masih berjarak delapan rak dari tempat Bama sekarang. Setidaknya perampok ingusan itu tidak  menyadari kehadiran Bama.

Sesekali Bama menengok ke arah perampok itu, saat keadaan dirasa aman, Bama beralih ke rak yang satunya. Memperkecil jarak di antara mereka.

Krrsak, pluk! Salah satu produk popok bayi tersenggol Bama hingga terjatuh.

“Hey, siapa disitu!? Jangan bertindak bodoh, Bung. Aku punya pistol, kau hanya pentungan!” teriak perampok itu, menyinggung pentungan yang ujungnya terlihat di salah satu sudut rak yang penuh dengan popok. Bama pun menarik pentungannya, malu barangnya disebut-sebut.

“Hey! Jangan bertindak bodoh!” tegur perampok itu lagi, terdengar agak tegang. Kemudian ia mengarahkan pistolnya ke arah rak tempat Bama bersembunyi. Salah paham dengan apa yang dilakukan Bama barusan.
DOR! DOR! Tembakan dilepaskannya. Bama hanya bisa merunduk, sambil menetupi kepala dengan kedua tangannya. Beruntung, peluru-peluru itu hanya menembus popok-popok yang ada di rak. Beberapa produk yang terkena tembakan, memuntahkan popok segar, jatuh, dan tersangkut di kepala Bama.

“Uhh…” erang Bama, mual dengan bau khas dari popok itu.

“Haha… mau kemana lagi kau?” suara itu terdengar mendekat. Bama pun yakin perampok itu mendekatinya, terbukti dari suara langkah santai orang itu yang terdengar semakin jelas.

Semakin suara itu berderap, semakin takut pula Bama. Keringat dingin mulai membanjiri ketiaknya, degup jantungnya pun makin tak karuan. Di tengah kegalauannya, Bama pun berdoa, “Ya Allah, inilah amanah yang kau berikan, aku menjalankannya, hanya menjalankan apa yang telah Engkau percayakan kepada ku. Engkau lah yang memiliki ku, Engkau lah yang memegang ubun-ubun ku, Engkau lah yang telah menentukan ajal ku, hanya kepada Mu aku kembali, jika ajal ku bukan di sini, maka pistol akan kalah oleh pentungan. Inilah pekerjaan ku, aku harus menuntaskannya! Aku harus menghadapinya!” kepercaya dirian Bama pun mencapai puncak tertinggi dengan frekuensi tanpa batas, dan sinyal tanpa putus. Apabila diri sudah diikhlaskan, maka tak ada lagi keraguan. “Allahu Akbaaar‼!” teriak Bama, keluar dari persembunyiannya seraya mengangkat pentungannya, bersiap untuk memukul perampok.

“Allahu akbar, Allahu Akbar, sami Allahu li man hamidah, eeh… Allahu Akbar, eeh…” jawab seorang ibu-ibu latah, yang kini ada di hadapan Bama. “E, e, e, kamu mau nakalin aku, ya? Eheeh… nakalin…” katanya lagi sambil menutup mulutnya tiap kali berkata latah.

“Lho? Rampok yang di sini tadi mana, bu?” tanya Bama heran.

“Huh, dasar pahlawan kesiangan, ee… pahlawan kesiangan. Tuh sudah didorong polisi, eh didorong…” jawab ibu itu lagi dengan terlatah-latah tanpa tertatith-tatih.

“Tadi, ketika kalian sedang berseteru, polisi datang. Nah ketika perhatian rampok itu tertuju pada mu, dan akan mendatangi mu, polisi mengendap-endap dari belakangnya, lalu membekuknya. Tanpa suara. Keren bro!” Rudi menjelaskan.


“Tapi kamu memang patut diacungi jempol, kamu hebat sebagai pengalih perhatian,” kata Juhdi, berusaha menguatkan hati Bama. Namun sayang, teman-teman yang lain malah tertawa. Bama pun down again, dan akhirnya… the end.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar