*Denah Rumah Tua Gemo
Jika kalian pernah mendengar cerita tentang rumah
berhantu, mungkin seperti itu pula yang dialami oleh Hans dan Hani. Dua sepupu
yang selalu haus petualangan. Ketika mereka mendengar rumah salah satu paman
mereka berhantu, mereka meminta ijin untuk menginap di sana selama libur
semester.
Mereka mahasiswa tingkat akhir di Universitas Elang
Merah, keduanya fakultas teknik. Hans dari program studi teknik mesin,
sedangkan Hani dari program studi teknik arsitek. Karena wawasan mereka sangat
luas, orang selalu salah menebak dari program studi apa mereka.
“Tapi di sana berhantu, sayang. Apa kamu tidak
takut?” Ucup mencoba mengingatkan Hani ketika Hani meminta ijin lewat telpon.
Ucup adalah pemilik rumah berhantu itu, lebih
tepatnya pewaris Rumah Tua Gemo. Seperti itulah mereka menyebut rumah berhantu
itu. Pemilik pertamanya –ayahnya Ucup– bernama Gemo.
“Justru di sana sensasinya om. Lagian belum ada yang
dicederai juga kan oleh hantu itu?” tantang Hani.
“Hadhuuh... dasar ponakan om yang satu ini. Oke deh,
tapi sepuluh hari saja,” Ucup tidak bisa menolaknya, tetapi dia membatasi
waktunya demi keselamatan ponakan-ponakannya.
“Yess! Kita diijinkan, Bleh!” seru Hani pada Hans.
Hani biasanya memanggil Hans dengan panggilan Bleh. Singkatan memble, karena
muka Hans sering memble. Tapi Hans tidak pernah menyadari akan julukan itu.
“Mantap! Besok malam kita berangkat!!” seru Hans
juga tidak kalah antusias.
“Apa!? Malam?” Hani sedikit protes.
“Iya, biar lebih dramatis.”
“Sepakat!!”
-o0o-
Besok malamnya, dengan awan mendung yang begitu
pekat, membuat motor Hans dan Hani harus berjalan pelan karena lampu utama yang
tidak begitu terang, ditambah medan jalan yang sempit, tanpa aspal, dan banyak
ranting yang berserakan di jalan.
“Dramatis sih dramatis, Bleh. Tapi gak semalam ini
juga kalee!” akhirnya Hani beneran protes. Sudah jam 23.20, mereka belum sampai
juga.
“Sabar, sudah dekat juga kok. Nah, cahaya itu
rumanya,” Hans menunjuk ke sebuah titik terang yang terlihat dari kejauhan.
“Yup, benar. Dan itu artinya kita harus merangkak
satu kilo meter lagi!!”
Rumah Tua Gemo bisa dikatakan rumah yang terletak di
tengah-tengah hutan jati. Sehingga dalam jarak satu kilometer sudah terlihat
cahayanya.
Lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan
gerbang rumah besar itu. Gerbangnya tertutup dan dalam keadaan tergembok.
“Bang Rohmat! Ini kami, Hans dan Hani. Ponakannya om
Ucup. Tolong bukain gerbangnya, bang!” teriak Hani ke arah pos jaga yang ada di
sisi dalam pagar, tempat Rohmat –security
rumah– biasanya bersemedi.
“Coba senter ke arah posnya, Han,” Hans memberi
saran. Hani pun menyorotkan senternya ke pos. Kosong.
“Sudah kuduga. Kalau tidak salah tebak, dia pasti
sedang patroli keliling ke dalam. Soalnya pagarnya digembok.”
“Coba kamu...”
“Tidak. Meskipun benar kunci gembok ini ada di dalam
pos, kita tidak bisa memanjat pintu pagar ini. Liat palang jerujinya, jaraknya
sekitar satu meter. Kaki siapapun tidak mungkin mencapai ke palang yang ada di
atasnya untuk memanjatnya. Tembok yang mengelilingi rumah ini apalagi, tidak
ada pijakannya dan sungguh licin,” Hans menjelaskan, dia meraba tembok pagar
rumah yang dilapisi batu alam.
“Nah, itu Rohmat!” seru Hani. “Bang Rohmat buka...”
“Oh iya neng. Maap, maap. Tadi abang sedang
keliling,” Rohmat merogoh kunci gembok dari saku bajunya.
Hans menunjukkan wajah congkak pada Hani, seolah
berkata, ‘aku benar kan?’ Hani hanya manyun.
“Kalian menginap?”
“Iya, bang. Sepuluh hari.”
“Oh, libur panjang ya? Motornya langsung ke garasi
saja ya. Garasinya terbuka kok,” tambah Rohmat.
“Sip.”
Kedua sepupu itu kemudian memacu pelan motornya ke
garasi. Saat itu mereka melewati gubuk tempat Jono beristirahat. Jono adalah
tukang kebun di Rumah Tua Gemo.
“Berisik!!”
Hans dan Hani terlonjak mendengar teriakan itu.
Mereka pun berhenti dan memandang ke arah suara itu datang. Dari pintu gubuk,
keluarlah Jono.
“Hey, Mat! Itu anak gak dikasih tau ya kalo ada yang
tidur? Ganggu orang aja! Dimarahin hantu Gemo baru tau rasa loe!” Jono
menyemprot, tetapi kepada Rohmat, bukan pada Hans dan Hani. Tidak ada tanggapan
dari Rohmat.
Karena tidak ada tanggapan, Joko kembali ke
gubuknya. Hans dan Hani pun meneruskan ke garasi. Dari pintu yang ada di dalam
garasi, mereka masuk ke rumah.
“Nenek Sarah...” Hani memanggil Nenek Sarah untuk
mint pilihkan kamar tidur.
“Iya, tunggu...” suara renta Nenek Sarah terdengar.
Semua penghuni Rumah Tua Gemo sebenarnya sudah
menyiapkan diri dengan kedatangan kedua keponakan bos mereka itu. Hanya saja
mereka tidak mengira datangnya selarut ini.
“Hans dan Hani ya?” nenek itu sudah terlihat, menunjuk
kepada pemuda dan pemudi yang ada di hadapannya.
“Iya, nek. Nenek apa kabar?” jawab Hani, kemudian
menyalami Nenek Sarah. Begitu pula dengan Hans.
“Kabar baik. Eh, kamu tidurnya di kamar tamu saja
ya, biar kamar kita dekatan,” kata Nenek pada Hani, “Kalau kamu di lantai atas
gak papa Hans ya. Ayo sini nenek antar.”
“Enggak, nek. Saya tidurnya sama nenek saja. Biar
Hans yang tidur di kamar tamu. Dia kan takut sama hantu, hehe...” timpal Hani.
“Apaan sih? Ayo nek, mana kamar saya?” ucap Hans
tiba-tiba, malu dikata-katain Hani.
Mereka bertiga kemudian naik, menuju kamar tempat
Hans tidur.
“Rumah Tua Gemo ini mulai berhantu, nak. Sepertinya
Pak Gemo mulai marah karena ada yang mengusik kamarnya,” tunjuk Nenek Sarah ke
pintu kamar almarhum Gemo. Kamarnya tepat di depan tangga.
“Memangnya siapa yang mulai mengusiknya, nek?” tanya
Hani.
“Anak saya, Rohmat. Kan biasanya dia selalu mengecek
ke setiap ruangan setiap kali patroli di rumah ini. Tapi dia sudah saya kasih
tahu sih supaya mengabaikan kamar yang itu.”
“Memangnya nenek pernah melihat hantunya?” tanya
Hans blak-blakan.
“Ee!! Hati-hati kalau ngomong kamu, Hans! Di sebelah
ini kamarnya. Bukan hanya saya, tapi Jono juga pernah lihat. Badannya tinggi
besar, persis seperti pak Gemo.”
“Siapa tau itu bang Jono atau bang Rohmat, nek.”
“Badan mereka tidak sebesar itu...”
“Kalau mukanya gimana?” tambah Hans lagi. Membuat
Nenek Sarah menggeretakkan giginya karena menahan marah terhadap anak itu.
“Bleh, sudah!” tegur Hani, sedikit membentk dalam
bisikan. Hans tidak menghiraukannya.
“Hanya berbentuk bayangan yang melintas cepat. Nenek
melihatnya di balik jendela ruang makan sekitar pukul setengah dua belas malam.
Sudahlah. Ini kamar kamu,” nenek membukakan pintu kamar, lalu menyalakan lampu
di kamar itu. “Ini kamar yang sering digunakan pak Ucup. Kalau kamar yang
seberangnya itu... berhantu juga! TV di kamar itu suka menyala sendiri!”
“Masa, nek!?” Hani berpura-pura tertarik.
“Iya. Anak saya si Rohmat sering menemuinya.”
“Ya sudah, nek, kita tidur saja yuk, capek. Oahm...”
ajak Hani yang sebenarnya sudah sejak tadi ingin merebahkan tubuhnya.
“Oh, iya. Besok kalian ke pasar ya. Belikan
keperluan dapur untuk untuk rumah ini. Kalian kan pakai motor.”
“Siap!!” seru mereka.
-o0o-
Dilewati dengan tidur yang begitu pulas, karena
kelelahan naik motor semalaman, kedua sepupu itu akhirnya bangun dengan tubuh
yang begitu bugar. Tidak ada yang lebih nyaman selain kamar luas dengan spring bed yang empuk.
Seperti yang dipinta Nenek Sarah tadi malam, Hans
dan Hani pergi ke pasar.
“Ini daftar belanjanya,” Nenek Sarah menyerahkan
sehelai kertas dengan penuh tulisan dan coretan kepada Hani.
“Oke, kami berangkat, nek.”
“Eh, kalau pagi pagarnya tidak ditutup ya, bang?”
tanya Hans pada Jono. Kebetulan Jono sedang merumput di sekitar pos Rohmat.
“He eh, bro. Kalo pagi, pagar ini tanggung jawab
gue. Kalo masih pagi gini nih si bikin ulah itu molor! Paling entar siang baru
bangun.”
“Tidur di mana bang Rohmatnya, bang?” tanya Hani.
“Di kamar enyaknya. Bos mana mau ngasih si tukang
bo-ong itu kamar!” jawab Jono lagi. Kesannya selalu terlihat marah-marah jika
membicarakan tentang Rohmat.
“Eh, kok aku gak nyadar ya,” Hani menggumam, “Oke
deh, bang. Kami ke pasar dulu!”
Jono tidak menanggapi, dia asik lagi dengan
pekerjaannya.
“Bang Jono sama bang Rohmat ada masalah ya, Han?”
tanya Hans pada Hani.
“Iya, Bleh. Tadi malam nenek Sarah cerita banyak ke aku. Ternyata bang Rohmat
baru kerja pas tiga bulan yang lalu kita ke sini. Paling sekitar dua minggu.
Nah, semenjak bekerjanya bang Rohmat di sini, bang Jono sering dilaporkan bang
Rohmat pada om Ucup.”
“Dilaporkan gimana maksudnya, Han?”
“Macam-macam. Ngambil barang rumah lah, ngajak orang
luar main ke dalam lah, dan lain-lain. Nenek Sarah juga bilang, semua kelakuan
Jono itu juga membuat almarhum kakek Gemo marah.”
“Kalau memang ngambil barang rumah, kenapa om Ucup
tidak memberhentikannya saja?”
“Karena bang Rohmat menuduhnya tanpa bukti. Makanya kan
tadi bang Jono bilang bang Rohmat pembohong.”
“Hmm... hubungan yang rumit. Padahal mereka bekerja
dalam satu tempat. Yah, semoga semuanya baik-baik saja lah.”
Hans dan Hani sudah tiba di pasar. Dari ikan, ayam,
segala macam bumbu, sampai sayuran mereka beli. Hingga ketika mereka tiba di
toko pecah belah...
“Wah, bu, tadi malam rumah pak Sarmini lagi lho yang
disatroni maling,” dua orang ibu-ibu sedang mengobrol sambil berbelanja.
“Masya Allah... yang benar, bu? Berarti ini sudah
yang ketiga kalinya ya dalam minggu ini?”
“Iya. Coba rumah kita-kita kayak Rumah Tua Gemo itu,
dijagain satpam dua puluh empat jam, wah... pasti aman ya. Hehe...”
“Hush, tapi rumah itu ada hantunya. Apa kamu juga
mau rumah kamu berhantu?”
“Hehe... ya enggak lah.”
“Eh, tapi aku heran, kalau rumah itu sudah tidak
ditempati pemiliknya, apa masih banyak barang berharga ya di sana, jadi harus
ditungguin satpam begitu?”
“Wah, Bleh, sepertinya cerita tentang Rumah Tua Gemo
itu sudah menyebar luas ya...” Hani berbisik pada Hans.
“Heh? Jadi hanya itu yang kamu tangkap dari
pembicaraan mereka? Aku sih lebih terfokus pada frekuensi maling itu.
Sepertinya tuh maling merasa aman banget jadi bisa sampai sesering itu
beroprasi.”
“Huuu, sombong!” Hani memukul pelan kepala Hans,
“Ayo kita pulang, sudah lengkap nih.”
-o0o-
Siang itu, Rohmat sudah bersemayam lagi di pos, Hans
menghampirinya.
“Waah... Clash
Of Clans nih, bang? Udah TH level berapa?” Hans mengomentari game yang
sedang dimainkan Rohmat di smart phonenya.
“Eh, aden. Iya nih den. Baru level lima. Aden juga
main COC?” jawabnya ramah.
“Dulu. Sekarang udah enggak lagi, sibuk kuliah.
Hehe...”
“Oo, gitu,” jawab Rohmat seadanya. Dia kembali
berkonsentrasi dengan war clan yang
sedang berlangsung.
“Bang, boleh tanya-tanya dikit, gak?”
“Eh, iya. Tanya apa, den?” Rohmat menutup gamenya.
“Saya dengar di rumah ini ada hantunya. Nah, abang
kan sering patroli malam, apa benar itu, bang?”
“Ah, saya sih tidak percaya sama yang gituan, den.
Ibu saya selalu menguatkan saya, dia bilang segala bunyi-bunyian dan apa yang
saya lihat itu selalu ada penyebabnya. Bukan semata-mata hantu.”
“Oo gitu. Tapi kok, ibu abang sendiri semalam
meyakinkan ke saya bahwa rumah ini berhantu, abang sendiri pernah menemukan TV
di kamar atas itu sering menyala sendiri. Apa ibu abang yang bohongin kami?”
sifat blak-blakan Hans muncul lagi. Rohmat diam, dia tertunduk.
“Eh, maaf, bang. Saya tidak bermaksud...”
“Sebenarnya saya takut hantu, den,” Rohmat menyela Hans, “Dan semua
yang ibu saya bilang itu benar. Hanya kepada saya saja beliau mengatakan bahwa
tidak ada hantu di sini. Beliau bermaksud agar saya tetap bekerja di sini.
Soalnya istri dan ketiga anak saya perlu makan dan uang untuk sekolah. Selain
di tempat ini, say atidak diterima
bekerja di tempat lain.”
“Oh, begitu. Ya sudah, tidak papa, bang. Kalau
begitu, nanti malam pas abang keliling, saya boleh ikut gak?”
“Boleh, kok.”
-o0o-
“Bagaimana investigasi siang tadi, Bleh?” tanya
Hani, mereka duduk di sofa ruang tamu.
“Lancar. Mlam ini aku akan ikut bang Rohmat patroli.
Eh, ternyata bang Rohmat itu takut hantu lho, hihi...” Hans tersenyum geli,
mengingat bahwa Rohmat adalah orang yang bertanggung jawab terhadap keamanan
rumah.
“Eh, dia ngaku?” Hani yang ternyata sudah lebih
banyak tahu, kaget mendengar bahwa Rohmat mengakuinya pada Hans.
“Iya. Emang kenapa?”
“Tadi siang nenek Sarah juga ngasih tau aku tentang
itu. Malah, dulu pas awal-awal bekerja, bang Rohmat selalu ditemanin bang Jono
kalau sedang patroli. Api karena ada masalah itu, sekarang bang Rohmat patroli
sendirian,” Hani melengkapi cerita, “Tapi kata nenek Sarah bang Rohmat
menyimpan rapat rahasia itu.”
“Berarti bang Jono juga sudah tahu ya kalau bang
Rohmat takut hantu?”
“Sepertinya begitu.”
“Tapi kok security
bisa takut hantu ya?” ucap Hans lagi, masih agak gei dengan kenyataan itu.
“Nah, itu dia. Bang Rohmat ini sebenarnya hanya
lulusan SD dan tidak mempunyai sertifikat seorang security. Hanya karena kedekatan nenek Sarah sama keluarga kakek
Gemo saja dia bisa bekerja di sini.”
Tiba-tiba, lampu di ruang tamu mati.
“Eh? Mati lampu ya?” tanya Hani memastikan.
“Ngg... sepertinya konsleting saja. Itu lampu taman
di luar masih menyala,” tunjuk Hans ke halaman.
“Tunggu sebentar. Sepertinya Jono tertidur nih.
Sampai-sampai tidak sadar ada MCB1 yang jeglek,” Nenek Sarah keluar
dari kamarnya dengan senter.
“Ikut nek!” seru Hani.
“Ikut juga!” Hans ikut-ikutan.
“Jono...” panggil Nenenk Sarah sambil mengetuk pintu
gubuknya.
Tidak berapa lama, pintu terbuka. Muka Jono terlihat
mengantuk.
“Ada apa?” tanya Jono yang masih belum menyadari ada
masalah kecil di rumah.
“Itu, lampu di lantai dasar mati. Coba kamu periksa
MCBnya,” Nenek Sarah memberi saran.
Jono kemudian membuka box panel yang menempel di dinding
di samping pintu gubuknya.
“Ooh, iya. Ini ada satu MCB yang ngetrip!” Jono
kemudian meng-on-kan lagi MCB itu. Lampu di rumah kemudian menyala lagi.
“Ini panel bagi ya, bang?” Hans menyelinap masuk ke
gubuk Jono.
“He eh. Loe tau juga ya sama yang beginian?”
“Tau lah. Jadi abang ini gak hanya ngurusin kebun
ya?”
“Kami duluan ya!” Hani pamit, dia berjalan menuju
rumah bersama Nenek Sarah.
“Oke, sip!” jawab Jono, “Iya dong. Selain kebun, gue
juga ngurusin listrik sama aer di sini. Yang masang instalasi listrik rumah
segede ini gue. Begitu juga dengan jalur pipa air bersih di sini.”
“Oo, berarti abang hafal dong semua MCB ini melayani ruangan yang mana saja?”
“tunggu-tunggu” sebuah nada dering menyela pembicaraan
mereka, “Halo?”
Nada dering tersebut masih berbunyi.
“Kantung yang satunya, bang,” Hans memberi tahu.
“Oh, iya. Makasih,” dia merogoh saku yang satunya.
Sebuah SMS, dia kemudian mengabaikannya, “Oh, cuma iklan. Jadi, sampai di mana
tadi?”
“Semua jalur MCB.”
“Ooh, iya dong. Kalau enggak, bakal susah mau
ngerjain perbaikan masalah listrik di rumah ini.”
“Hmm... oke deh, bang. Makasih ilmunya,” Hans
tersenyum senang, kemudian dia keluar.
-o0o-
Malam semakin larut. 23.30, kini saatnya Hans
menemani Rohmat untuk patroli. Dari pintu utama, Hans mengedip-kedipkan senter
ke posnya Rohmat. Sesaat kemudian, terlihat lambaian tangan. Sosok kurus itu
kemudian bergegas menghampiri Hans.
“Biasanya emang jam segini ya, bang, patrolinya?”
Hans membuka obrolan. Mereka memulai patroli dari sisi luar rumah bagian utara,
menuju ke belakang.
“Iya. Dari pertama saya bekerja di sini, saya tidak
pernah merubah jam patroli saya, den.”
“Terus bagaimana dengan hantu-hantu itu, bang? Apa
abang sendiri pernah melihatnya?”
“Tidak. Tapi sering menemukan suara-suara.”
Mereka kemudian masuk ke rumah melalui pintu
belakang. Setelah masuk, di sisi kanan mereka ada pintu lagi, itu menuju dapur.
Dan di sisi mereka satu, itu pintu ke garasi. Mereka mengambil jalan lurus,
melewati koridor. Dari jendela, terlihat keadaan di luar, inilah alasan Rohmat
membuat rute ini. Dia tetap bisa memantau sisi luar rumah bagian selatan
meskipun sudah berada di dalam.
“Seperti tangisan, pancaran air dari shower kamar mandi, dan televisi yang
menyala dengan sendirinya,” Rohmat merinci ceritanya.
“Hmm... bukannya TV itu ada mode wake up2-nya, bang?”
“Tapi pada televisi yang ini belum ada wake up-nya, den. Ini televisi jaman
dulu.”
Dari koridor, mereka berbelok, melewati pintu utama
rumah, lalu naik ke lantai dua. Di tengah-tengah tangga tiba-tiba terdengar shower yang memancarkan air.
“Nah, kamu dengar itu, den?” tanya Rohmat, mereka
menghentikan langkahnya.
“Gila!! Saya kira ini hanya bohongan. Dari mana
datangnya suara itu, bang?” wajah Hans tegang sekaligus pucat.
“Kamar mandi yang terdekat dengan kita sekarang
adalah kamar mandi yang ada di kamar tamu.”
“Yuk kita cek ke sana, bang. Apa benar shower di sana yang aktif?” ajak Hans,
dia lagsung melangkah dengan cepat menuruni tangga, Rohmat pun mengikutinya.
Ternyata Hani juga menuju kamar tamu, mereka bertemu
di depan pintu kamar tamu.
“Kamu mendengarnya juga?” tanya Hans pada Hani.
“Iya, tapi sepertinya sudah berhenti. Suaranya tidak
terdengar lagi.”
Hans mencoba membuka pintu, namun pintu itu
terkunci.
“Permisi, den,” sesaat Rohmat memilah kunci di
kumpulan kunci yang dipegangnya. Satu kunci terpilih, dia membuka pintu itu.
Hans dan Hani masuk, Rohmat berjaga di pintu kamar.
Mereka temukan lantai kamar mandi itu basah, air pun masih ada sedikit menetes
di mulut shower yang terpasang di
kamar mandi.
Hani menutup mulut, matanya terbelalak oleh fenomena
ini. Hans memeriksa keran shower.
“Han, kerannya,” Hans hendak menyampaikan sesuatu.
“Kenapa, Bleh?”
“Ini dalam posisi membuka.”
“Bagaimana di dalam sana?” tanya Rohmat dari luar.
“Sepertinya memeng benar shower di sini yang tadi aktif, bang. Lantainya basah,” Hans
memberi tahu.
“Hmm... mungkin shower
di sini rusak. Besok deh kamu minta Jono memeriksanya,” kata Rohmat
berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Oke. Yuk kita lanjutkan ke atas, lama-lama saya
merinding juga di sini,” ucap Hans, “Kamu mau ikut, Han?”
“Enggak, aku mau tidur lagi,” jawab Hani, dia
kembali ke kamar Nenek Sarah.
“Nah, kamar yang itu. Biasanya biasanya ketika
katika saya masuk, televisinya menyala.”
“Tunggu bang, apa kita tidak mengecek kamar almarhum
kakek Gemo dulu?” Hans memberi saran.
“Eng... sebaiknya tidak, den,” wajah Rohmat
menunjukkan sebuah ketakutan.
“Gak papa, bang, kan sekarang sama saya...”
“Wah, kuncinya tertinggal nih, den...” katanya lagi
setelah melihat ke satu set kuncinya.
“Hhh... ya sudah,” kata Hans akhirnya pasrah.
Mereka kemudian masuk ke kamar yang disebut-sebut
TV-nya sering menyala dengan sendirinya itu. Setelah mereka membuka pintunya,
tidak ada terjadi apa-apa. Kamarnya gelap, hanya sorotan senter dari Rohmat
yang menerangi ruangan itu.
“Wah, tumben kali ini normal?” ucap Rohmat agak
keheranan. Dia mencoba menekan saklar lampu kamar, “Eh? Kok tidak menyala?”
“Masa sih, bang? Coba sini...”
Belum sempat Hans menyentuh saklar itu, tiba-tiba
kamar itu terang. Lampunya menyala, begitu pula dengan TV-nya. Karena kejadian
barusan, Rohmat refleks melompat keluar, lalu membanting pintu kamar. Beruntung
Hans sempat mengikutinya keluar. Dari celah bawah pintu kamar, terlihat bahwa
lampu di kamar mati lagi, begitu pula dengan TV-nya.
“Bang Rohmat takut?”
“Eng... enggak,” jawabnya. Namun wajahnya tidak bisa
membohongi Hans.
“Kalau memang menyerang batin, kenapa tidak mencari
pekerjaan lain saja, bang?”
Deg!! Tiba-tiba Hans merasa ada sesuatu dari
kalimatnya barusan. Semacam petunjuk, atau informasi lain yang ingin
diberitahukan oleh naluri detektifnya.
“Itu kamar tempat aden tidur kan? Sudah lah,
sebaiknya patrolinya kita sudahi di sini. Saya rasa tidak ada yang aneh juga di
kamar aden itu.”
-o0o-
Besoknya, Hans menceritakan sisa patroli mereka pada
Hani. Hani mengerutkna dahinya, tidak berapa lama, senyum khasnya mengembang di
wajahnya.
“Oke! Sekarang aku tahu siapa di balik semua kisah
hantu ini! Modus dan motifnya jelas! Ayo kita katakan pada bang Rohmat!”
“Tunggu, Han! Sepertinya ada yang terlupa,” Hans
mencoba mengurungkan niat Hani.
Tentukan pilihanmu...
a. Tetap katakan
a.2. Bang Jono pelakunya
keterangan:
1) MCB, magnetic circuit
breaker/mini circuit breaker. Alat listrik yang berfungsi untuk mengamankan
rangkaian listrik dari kelebihan arus. Konstruksi seperti saklar, dapat off
atau mati otomatis ketika arus yang melewati rangkaian melebihi dari kapasitas
MCB. Dapat juga dioprasikan secara manual layaknya sebuah saklar.
2) Wake
Up, sebuah fitur
pada televisi yang memungkinkan penggunanya untuk mengatur waktu
hidup/menyalanya televisinya secara otomatis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar