Sabtu, 02 Agustus 2014

Rumah Tua Gemo (Awal)

*Denah Rumah Tua Gemo

Jika kalian pernah mendengar cerita tentang rumah berhantu, mungkin seperti itu pula yang dialami oleh Hans dan Hani. Dua sepupu yang selalu haus petualangan. Ketika mereka mendengar rumah salah satu paman mereka berhantu, mereka meminta ijin untuk menginap di sana selama libur semester.

Mereka mahasiswa tingkat akhir di Universitas Elang Merah, keduanya fakultas teknik. Hans dari program studi teknik mesin, sedangkan Hani dari program studi teknik arsitek. Karena wawasan mereka sangat luas, orang selalu salah menebak dari program studi apa mereka.

“Tapi di sana berhantu, sayang. Apa kamu tidak takut?” Ucup mencoba mengingatkan Hani ketika Hani meminta ijin lewat telpon.


Ucup adalah pemilik rumah berhantu itu, lebih tepatnya pewaris Rumah Tua Gemo. Seperti itulah mereka menyebut rumah berhantu itu. Pemilik pertamanya –ayahnya Ucup– bernama Gemo.

“Justru di sana sensasinya om. Lagian belum ada yang dicederai juga kan oleh hantu itu?” tantang Hani.

“Hadhuuh... dasar ponakan om yang satu ini. Oke deh, tapi sepuluh hari saja,” Ucup tidak bisa menolaknya, tetapi dia membatasi waktunya demi keselamatan ponakan-ponakannya.

“Yess! Kita diijinkan, Bleh!” seru Hani pada Hans. Hani biasanya memanggil Hans dengan panggilan Bleh. Singkatan memble, karena muka Hans sering memble. Tapi Hans tidak pernah menyadari akan julukan itu.

“Mantap! Besok malam kita berangkat!!” seru Hans juga tidak kalah antusias.

“Apa!? Malam?” Hani sedikit protes.

“Iya, biar lebih dramatis.”

“Sepakat!!”

-o0o-

Besok malamnya, dengan awan mendung yang begitu pekat, membuat motor Hans dan Hani harus berjalan pelan karena lampu utama yang tidak begitu terang, ditambah medan jalan yang sempit, tanpa aspal, dan banyak ranting yang berserakan di jalan.

“Dramatis sih dramatis, Bleh. Tapi gak semalam ini juga kalee!” akhirnya Hani beneran protes. Sudah jam 23.20, mereka belum sampai juga.

“Sabar, sudah dekat juga kok. Nah, cahaya itu rumanya,” Hans menunjuk ke sebuah titik terang yang terlihat dari kejauhan.

“Yup, benar. Dan itu artinya kita harus merangkak satu kilo meter lagi!!”

Rumah Tua Gemo bisa dikatakan rumah yang terletak di tengah-tengah hutan jati. Sehingga dalam jarak satu kilometer sudah terlihat cahayanya.

Lima belas menit kemudian, mereka tiba di depan gerbang rumah besar itu. Gerbangnya tertutup dan dalam keadaan tergembok.

“Bang Rohmat! Ini kami, Hans dan Hani. Ponakannya om Ucup. Tolong bukain gerbangnya, bang!” teriak Hani ke arah pos jaga yang ada di sisi dalam pagar, tempat Rohmat –security rumah– biasanya bersemedi.

“Coba senter ke arah posnya, Han,” Hans memberi saran. Hani pun menyorotkan senternya ke pos. Kosong.

“Sudah kuduga. Kalau tidak salah tebak, dia pasti sedang patroli keliling ke dalam. Soalnya pagarnya digembok.”

“Coba kamu...”

“Tidak. Meskipun benar kunci gembok ini ada di dalam pos, kita tidak bisa memanjat pintu pagar ini. Liat palang jerujinya, jaraknya sekitar satu meter. Kaki siapapun tidak mungkin mencapai ke palang yang ada di atasnya untuk memanjatnya. Tembok yang mengelilingi rumah ini apalagi, tidak ada pijakannya dan sungguh licin,” Hans menjelaskan, dia meraba tembok pagar rumah yang dilapisi batu alam.

“Nah, itu Rohmat!” seru Hani. “Bang Rohmat buka...”

“Oh iya neng. Maap, maap. Tadi abang sedang keliling,” Rohmat merogoh kunci gembok dari saku bajunya.
Hans menunjukkan wajah congkak pada Hani, seolah berkata, ‘aku benar kan?’ Hani hanya manyun.

“Kalian menginap?”

“Iya, bang. Sepuluh hari.”

“Oh, libur panjang ya? Motornya langsung ke garasi saja ya. Garasinya terbuka kok,” tambah Rohmat.

“Sip.”

Kedua sepupu itu kemudian memacu pelan motornya ke garasi. Saat itu mereka melewati gubuk tempat Jono beristirahat. Jono adalah tukang kebun di Rumah Tua Gemo.

“Berisik!!”

Hans dan Hani terlonjak mendengar teriakan itu. Mereka pun berhenti dan memandang ke arah suara itu datang. Dari pintu gubuk, keluarlah Jono.

“Hey, Mat! Itu anak gak dikasih tau ya kalo ada yang tidur? Ganggu orang aja! Dimarahin hantu Gemo baru tau rasa loe!” Jono menyemprot, tetapi kepada Rohmat, bukan pada Hans dan Hani. Tidak ada tanggapan dari Rohmat.

Karena tidak ada tanggapan, Joko kembali ke gubuknya. Hans dan Hani pun meneruskan ke garasi. Dari pintu yang ada di dalam garasi, mereka masuk ke rumah.

“Nenek Sarah...” Hani memanggil Nenek Sarah untuk mint pilihkan kamar tidur.

“Iya, tunggu...” suara renta Nenek Sarah terdengar.

Semua penghuni Rumah Tua Gemo sebenarnya sudah menyiapkan diri dengan kedatangan kedua keponakan bos mereka itu. Hanya saja mereka tidak mengira datangnya selarut ini.

“Hans dan Hani ya?” nenek itu sudah terlihat, menunjuk kepada pemuda dan pemudi yang ada di hadapannya.

“Iya, nek. Nenek apa kabar?” jawab Hani, kemudian menyalami Nenek Sarah. Begitu pula dengan Hans.

“Kabar baik. Eh, kamu tidurnya di kamar tamu saja ya, biar kamar kita dekatan,” kata Nenek pada Hani, “Kalau kamu di lantai atas gak papa Hans ya. Ayo sini nenek antar.”

“Enggak, nek. Saya tidurnya sama nenek saja. Biar Hans yang tidur di kamar tamu. Dia kan takut sama hantu, hehe...” timpal Hani.

“Apaan sih? Ayo nek, mana kamar saya?” ucap Hans tiba-tiba, malu dikata-katain Hani.

Mereka bertiga kemudian naik, menuju kamar tempat Hans tidur.

“Rumah Tua Gemo ini mulai berhantu, nak. Sepertinya Pak Gemo mulai marah karena ada yang mengusik kamarnya,” tunjuk Nenek Sarah ke pintu kamar almarhum Gemo. Kamarnya tepat di depan tangga.

“Memangnya siapa yang mulai mengusiknya, nek?” tanya Hani.

“Anak saya, Rohmat. Kan biasanya dia selalu mengecek ke setiap ruangan setiap kali patroli di rumah ini. Tapi dia sudah saya kasih tahu sih supaya mengabaikan kamar yang itu.”

“Memangnya nenek pernah melihat hantunya?” tanya Hans blak-blakan.

“Ee!! Hati-hati kalau ngomong kamu, Hans! Di sebelah ini kamarnya. Bukan hanya saya, tapi Jono juga pernah lihat. Badannya tinggi besar, persis seperti pak Gemo.”

“Siapa tau itu bang Jono atau bang Rohmat, nek.”

“Badan mereka tidak sebesar itu...”

“Kalau mukanya gimana?” tambah Hans lagi. Membuat Nenek Sarah menggeretakkan giginya karena menahan marah terhadap anak itu.

“Bleh, sudah!” tegur Hani, sedikit membentk dalam bisikan. Hans tidak menghiraukannya.

“Hanya berbentuk bayangan yang melintas cepat. Nenek melihatnya di balik jendela ruang makan sekitar pukul setengah dua belas malam. Sudahlah. Ini kamar kamu,” nenek membukakan pintu kamar, lalu menyalakan lampu di kamar itu. “Ini kamar yang sering digunakan pak Ucup. Kalau kamar yang seberangnya itu... berhantu juga! TV di kamar itu suka menyala sendiri!”

“Masa, nek!?” Hani berpura-pura tertarik.

“Iya. Anak saya si Rohmat sering menemuinya.”

“Ya sudah, nek, kita tidur saja yuk, capek. Oahm...” ajak Hani yang sebenarnya sudah sejak tadi ingin merebahkan tubuhnya.

“Oh, iya. Besok kalian ke pasar ya. Belikan keperluan dapur untuk untuk rumah ini. Kalian kan pakai motor.”

“Siap!!” seru mereka.

-o0o-

Dilewati dengan tidur yang begitu pulas, karena kelelahan naik motor semalaman, kedua sepupu itu akhirnya bangun dengan tubuh yang begitu bugar. Tidak ada yang lebih nyaman selain kamar luas dengan spring bed  yang empuk.

Seperti yang dipinta Nenek Sarah tadi malam, Hans dan Hani pergi ke pasar.

“Ini daftar belanjanya,” Nenek Sarah menyerahkan sehelai kertas dengan penuh tulisan dan coretan kepada Hani.

“Oke, kami berangkat, nek.”

“Eh, kalau pagi pagarnya tidak ditutup ya, bang?” tanya Hans pada Jono. Kebetulan Jono sedang merumput di sekitar pos Rohmat.

“He eh, bro. Kalo pagi, pagar ini tanggung jawab gue. Kalo masih pagi gini nih si bikin ulah itu molor! Paling entar siang baru bangun.”

“Tidur di mana bang Rohmatnya, bang?” tanya Hani.

“Di kamar enyaknya. Bos mana mau ngasih si tukang bo-ong itu kamar!” jawab Jono lagi. Kesannya selalu terlihat marah-marah jika membicarakan tentang Rohmat.

“Eh, kok aku gak nyadar ya,” Hani menggumam, “Oke deh, bang. Kami ke pasar dulu!”

Jono tidak menanggapi, dia asik lagi dengan pekerjaannya.

“Bang Jono sama bang Rohmat ada masalah ya, Han?” tanya Hans pada Hani.

“Iya, Bleh. Tadi malam nenek Sarah  cerita banyak ke aku. Ternyata bang Rohmat baru kerja pas tiga bulan yang lalu kita ke sini. Paling sekitar dua minggu. Nah, semenjak bekerjanya bang Rohmat di sini, bang Jono sering dilaporkan bang Rohmat pada om Ucup.”

“Dilaporkan gimana maksudnya, Han?”

“Macam-macam. Ngambil barang rumah lah, ngajak orang luar main ke dalam lah, dan lain-lain. Nenek Sarah juga bilang, semua kelakuan Jono itu juga membuat almarhum kakek Gemo marah.”

“Kalau memang ngambil barang rumah, kenapa om Ucup tidak memberhentikannya saja?”

“Karena bang Rohmat menuduhnya tanpa bukti. Makanya kan tadi bang Jono bilang bang Rohmat pembohong.”

“Hmm... hubungan yang rumit. Padahal mereka bekerja dalam satu tempat. Yah, semoga semuanya baik-baik saja lah.”

Hans dan Hani sudah tiba di pasar. Dari ikan, ayam, segala macam bumbu, sampai sayuran mereka beli. Hingga ketika mereka tiba di toko pecah belah...

“Wah, bu, tadi malam rumah pak Sarmini lagi lho yang disatroni maling,” dua orang ibu-ibu sedang mengobrol sambil berbelanja.

“Masya Allah... yang benar, bu? Berarti ini sudah yang ketiga kalinya ya dalam minggu ini?”

“Iya. Coba rumah kita-kita kayak Rumah Tua Gemo itu, dijagain satpam dua puluh empat jam, wah... pasti aman ya. Hehe...”

“Hush, tapi rumah itu ada hantunya. Apa kamu juga mau rumah kamu berhantu?”

“Hehe... ya enggak lah.”

“Eh, tapi aku heran, kalau rumah itu sudah tidak ditempati pemiliknya, apa masih banyak barang berharga ya di sana, jadi harus ditungguin satpam begitu?”

“Wah, Bleh, sepertinya cerita tentang Rumah Tua Gemo itu sudah menyebar luas ya...” Hani berbisik pada Hans.

“Heh? Jadi hanya itu yang kamu tangkap dari pembicaraan mereka? Aku sih lebih terfokus pada frekuensi maling itu. Sepertinya tuh maling merasa aman banget jadi bisa sampai sesering itu beroprasi.”

“Huuu, sombong!” Hani memukul pelan kepala Hans, “Ayo kita pulang, sudah lengkap nih.”

-o0o-

Siang itu, Rohmat sudah bersemayam lagi di pos, Hans menghampirinya.

“Waah... Clash Of Clans nih, bang? Udah TH level berapa?” Hans mengomentari game yang sedang dimainkan Rohmat di smart phonenya.

“Eh, aden. Iya nih den. Baru level lima. Aden juga main COC?” jawabnya ramah.

“Dulu. Sekarang udah enggak lagi, sibuk kuliah. Hehe...”

“Oo, gitu,” jawab Rohmat seadanya. Dia kembali berkonsentrasi dengan war clan yang sedang berlangsung.

“Bang, boleh tanya-tanya dikit, gak?”

“Eh, iya. Tanya apa, den?” Rohmat menutup gamenya.

“Saya dengar di rumah ini ada hantunya. Nah, abang kan sering patroli malam, apa benar itu, bang?”

“Ah, saya sih tidak percaya sama yang gituan, den. Ibu saya selalu menguatkan saya, dia bilang segala bunyi-bunyian dan apa yang saya lihat itu selalu ada penyebabnya. Bukan semata-mata hantu.”

“Oo gitu. Tapi kok, ibu abang sendiri semalam meyakinkan ke saya bahwa rumah ini berhantu, abang sendiri pernah menemukan TV di kamar atas itu sering menyala sendiri. Apa ibu abang yang bohongin kami?” sifat blak-blakan Hans muncul lagi. Rohmat diam, dia tertunduk.

“Eh, maaf, bang. Saya tidak bermaksud...”

“Sebenarnya saya takut  hantu, den,” Rohmat menyela Hans, “Dan semua yang ibu saya bilang itu benar. Hanya kepada saya saja beliau mengatakan bahwa tidak ada hantu di sini. Beliau bermaksud agar saya tetap bekerja di sini. Soalnya istri dan ketiga anak saya perlu makan dan uang untuk sekolah. Selain di tempat  ini, say atidak diterima bekerja di tempat lain.”

“Oh, begitu. Ya sudah, tidak papa, bang. Kalau begitu, nanti malam pas abang keliling, saya boleh ikut gak?”
“Boleh, kok.”

-o0o-

“Bagaimana investigasi siang tadi, Bleh?” tanya Hani, mereka duduk di sofa ruang tamu.

“Lancar. Mlam ini aku akan ikut bang Rohmat patroli. Eh, ternyata bang Rohmat itu takut hantu lho, hihi...” Hans tersenyum geli, mengingat bahwa Rohmat adalah orang yang bertanggung jawab terhadap keamanan rumah.

“Eh, dia ngaku?” Hani yang ternyata sudah lebih banyak tahu, kaget mendengar bahwa Rohmat mengakuinya pada Hans.

“Iya. Emang kenapa?”

“Tadi siang nenek Sarah juga ngasih tau aku tentang itu. Malah, dulu pas awal-awal bekerja, bang Rohmat selalu ditemanin bang Jono kalau sedang patroli. Api karena ada masalah itu, sekarang bang Rohmat patroli sendirian,” Hani melengkapi cerita, “Tapi kata nenek Sarah bang Rohmat menyimpan rapat rahasia itu.”

“Berarti bang Jono juga sudah tahu ya kalau bang Rohmat takut hantu?”

“Sepertinya begitu.”

“Tapi kok security bisa takut hantu ya?” ucap Hans lagi, masih agak gei dengan kenyataan itu.

“Nah, itu dia. Bang Rohmat ini sebenarnya hanya lulusan SD dan tidak mempunyai sertifikat seorang security. Hanya karena kedekatan nenek Sarah sama keluarga kakek Gemo saja dia bisa bekerja di sini.”

Tiba-tiba, lampu di ruang tamu mati.

“Eh? Mati lampu ya?” tanya Hani memastikan.

“Ngg... sepertinya konsleting saja. Itu lampu taman di luar masih menyala,” tunjuk Hans ke halaman.

“Tunggu sebentar. Sepertinya Jono tertidur nih. Sampai-sampai tidak sadar ada MCB1 yang jeglek,” Nenek Sarah keluar dari kamarnya dengan senter.

“Ikut nek!” seru Hani.

“Ikut juga!” Hans ikut-ikutan.

“Jono...” panggil Nenenk Sarah sambil mengetuk pintu gubuknya.

Tidak berapa lama, pintu terbuka. Muka Jono terlihat mengantuk.

“Ada apa?” tanya Jono yang masih belum menyadari ada masalah kecil di rumah.

“Itu, lampu di lantai dasar mati. Coba kamu periksa MCBnya,” Nenek Sarah memberi saran.

Jono kemudian membuka box panel yang menempel di dinding  di samping pintu gubuknya.

“Ooh, iya. Ini ada satu MCB yang ngetrip!” Jono kemudian meng-on-kan lagi MCB itu. Lampu di rumah kemudian menyala lagi.

“Ini panel bagi ya, bang?” Hans menyelinap masuk ke gubuk Jono.

“He eh. Loe tau juga ya sama yang beginian?”

“Tau lah. Jadi abang ini gak hanya ngurusin kebun ya?”

“Kami duluan ya!” Hani pamit, dia berjalan menuju rumah bersama Nenek Sarah.

“Oke, sip!” jawab Jono, “Iya dong. Selain kebun, gue juga ngurusin listrik sama aer di sini. Yang masang instalasi listrik rumah segede ini gue. Begitu juga dengan jalur pipa air bersih di sini.”

“Oo, berarti abang hafal dong semua MCB ini  melayani ruangan yang mana saja?”

“tunggu-tunggu” sebuah nada dering menyela pembicaraan mereka, “Halo?”

Nada dering tersebut masih berbunyi.

“Kantung yang satunya, bang,” Hans memberi tahu.

“Oh, iya. Makasih,” dia merogoh saku yang satunya. Sebuah SMS, dia kemudian mengabaikannya, “Oh, cuma iklan. Jadi, sampai di mana tadi?”

“Semua jalur MCB.”

“Ooh, iya dong. Kalau enggak, bakal susah mau ngerjain perbaikan masalah listrik di rumah ini.”

“Hmm... oke deh, bang. Makasih ilmunya,” Hans tersenyum senang, kemudian dia keluar.

-o0o-

Malam semakin larut. 23.30, kini saatnya Hans menemani Rohmat untuk patroli. Dari pintu utama, Hans mengedip-kedipkan senter ke posnya Rohmat. Sesaat kemudian, terlihat lambaian tangan. Sosok kurus itu kemudian bergegas menghampiri Hans.

“Biasanya emang jam segini ya, bang, patrolinya?” Hans membuka obrolan. Mereka memulai patroli dari sisi luar rumah bagian utara, menuju ke belakang.

“Iya. Dari pertama saya bekerja di sini, saya tidak pernah merubah jam patroli saya, den.”

“Terus bagaimana dengan hantu-hantu itu, bang? Apa abang sendiri pernah melihatnya?”

“Tidak. Tapi sering menemukan suara-suara.”

Mereka kemudian masuk ke rumah melalui pintu belakang. Setelah masuk, di sisi kanan mereka ada pintu lagi, itu menuju dapur. Dan di sisi mereka satu, itu pintu ke garasi. Mereka mengambil jalan lurus, melewati koridor. Dari jendela, terlihat keadaan di luar, inilah alasan Rohmat membuat rute ini. Dia tetap bisa memantau sisi luar rumah bagian selatan meskipun sudah berada di dalam.

“Seperti tangisan, pancaran air dari shower kamar mandi, dan televisi yang menyala dengan sendirinya,” Rohmat merinci ceritanya.

“Hmm... bukannya TV itu ada mode wake up2-nya, bang?”

“Tapi pada televisi yang ini belum ada wake up-nya, den. Ini televisi jaman dulu.”

Dari koridor, mereka berbelok, melewati pintu utama rumah, lalu naik ke lantai dua. Di tengah-tengah tangga tiba-tiba terdengar shower yang memancarkan air.

“Nah, kamu dengar itu, den?” tanya Rohmat, mereka menghentikan langkahnya.

“Gila!! Saya kira ini hanya bohongan. Dari mana datangnya suara itu, bang?” wajah Hans tegang sekaligus pucat.

“Kamar mandi yang terdekat dengan kita sekarang adalah kamar mandi yang ada di kamar tamu.”

“Yuk kita cek ke sana, bang. Apa benar shower di sana yang aktif?” ajak Hans, dia lagsung melangkah dengan cepat menuruni tangga, Rohmat pun mengikutinya.

Ternyata Hani juga menuju kamar tamu, mereka bertemu di depan pintu kamar tamu.

“Kamu mendengarnya juga?” tanya Hans pada Hani.

“Iya, tapi sepertinya sudah berhenti. Suaranya tidak terdengar lagi.”

Hans mencoba membuka pintu, namun pintu itu terkunci.

“Permisi, den,” sesaat Rohmat memilah kunci di kumpulan kunci yang dipegangnya. Satu kunci terpilih, dia membuka pintu itu.

Hans dan Hani masuk, Rohmat berjaga di pintu kamar. Mereka temukan lantai kamar mandi itu basah, air pun masih ada sedikit menetes di mulut shower yang terpasang di kamar mandi.

Hani menutup mulut, matanya terbelalak oleh fenomena ini. Hans memeriksa keran shower.

“Han, kerannya,” Hans hendak menyampaikan sesuatu.

“Kenapa, Bleh?”

“Ini dalam posisi membuka.”

“Bagaimana di dalam sana?” tanya Rohmat dari luar.

“Sepertinya memeng benar shower di sini yang tadi aktif, bang. Lantainya basah,” Hans memberi tahu.

“Hmm... mungkin shower di sini rusak. Besok deh kamu minta Jono memeriksanya,” kata Rohmat berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Oke. Yuk kita lanjutkan ke atas, lama-lama saya merinding juga di sini,” ucap Hans, “Kamu mau ikut, Han?”

“Enggak, aku mau tidur lagi,” jawab Hani, dia kembali ke kamar Nenek Sarah.

“Nah, kamar yang itu. Biasanya biasanya ketika katika saya masuk, televisinya menyala.”

“Tunggu bang, apa kita tidak mengecek kamar almarhum kakek Gemo dulu?” Hans memberi saran.

“Eng... sebaiknya tidak, den,” wajah Rohmat menunjukkan sebuah ketakutan.

“Gak papa, bang, kan sekarang sama saya...”

“Wah, kuncinya tertinggal nih, den...” katanya lagi setelah melihat ke satu set kuncinya.

“Hhh... ya sudah,” kata Hans akhirnya pasrah.

Mereka kemudian masuk ke kamar yang disebut-sebut TV-nya sering menyala dengan sendirinya itu. Setelah mereka membuka pintunya, tidak ada terjadi apa-apa. Kamarnya gelap, hanya sorotan senter dari Rohmat yang menerangi ruangan itu.

“Wah, tumben kali ini normal?” ucap Rohmat agak keheranan. Dia mencoba menekan saklar lampu kamar, “Eh? Kok tidak menyala?”

“Masa sih, bang? Coba sini...”

Belum sempat Hans menyentuh saklar itu, tiba-tiba kamar itu terang. Lampunya menyala, begitu pula dengan TV-nya. Karena kejadian barusan, Rohmat refleks melompat keluar, lalu membanting pintu kamar. Beruntung Hans sempat mengikutinya keluar. Dari celah bawah pintu kamar, terlihat bahwa lampu di kamar mati lagi, begitu pula dengan TV-nya.

“Bang Rohmat takut?”

“Eng... enggak,” jawabnya. Namun wajahnya tidak bisa membohongi Hans.

“Kalau memang menyerang batin, kenapa tidak mencari pekerjaan lain saja, bang?”

Deg!! Tiba-tiba Hans merasa ada sesuatu dari kalimatnya barusan. Semacam petunjuk, atau informasi lain yang ingin diberitahukan oleh naluri detektifnya.

“Itu kamar tempat aden tidur kan? Sudah lah, sebaiknya patrolinya kita sudahi di sini. Saya rasa tidak ada yang aneh juga di kamar aden itu.”

-o0o-

Besoknya, Hans menceritakan sisa patroli mereka pada Hani. Hani mengerutkna dahinya, tidak berapa lama, senyum khasnya mengembang di wajahnya.

“Oke! Sekarang aku tahu siapa di balik semua kisah hantu ini! Modus dan motifnya jelas! Ayo kita katakan pada bang Rohmat!”

“Tunggu, Han! Sepertinya ada yang terlupa,” Hans mencoba mengurungkan niat Hani.

Tentukan pilihanmu...
a.      Tetap katakan
keterangan:
1)      MCB, magnetic circuit breaker/mini circuit breaker. Alat listrik yang berfungsi untuk mengamankan rangkaian listrik dari kelebihan arus. Konstruksi seperti saklar, dapat off atau mati otomatis ketika arus yang melewati rangkaian melebihi dari kapasitas MCB. Dapat juga dioprasikan secara manual layaknya sebuah saklar.

2)      Wake Up, sebuah fitur pada televisi yang memungkinkan penggunanya untuk mengatur waktu hidup/menyalanya televisinya secara otomatis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar