Hani tetap berlari keluar, menuju pos Rohmat, “Paggil nenek
Sarah dan bang Jono. Jangan lupa telpon om Ucup,” pinta Hani pada Hans.
Hans tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain melakukan apa
yang dipinta Hani. Dia langsung memanggil nenek Sarah dan Jono. Ucup juga sudah
ditelponnya, tiga puluh menit lagi dia akan datang.
Semua sudah berkumpul di sekitar pos Rohmat. Muka Jono
tampak gusar ketika dia harus berdekatan dengan Rohmat.
“Eh? Ada apa ini? Kok pada kumpul semua?” tanya Rohmat
dengan nada bicaranya khasnya yang sopan.
“Kami sudah tau bang dari mana datangnya semua cerita hantu
ini!” seru Hani dengan penuh semangat.
“O ya, siapa orangnya, neng?” tanya Rohmat, dia
mengayun-ayunkan pentungannya sambil melirik Jono.
“Loe kenapa liatin gue gitu, mat!?” Jono menghardiknya.
“Sudah, sudah...” lerai Nenek Sarah.
“Bang Jono orangnya!” tunjuk Hani pada Jono.
“Eh, maksud loe apa?” Jono menghampirinya dengan langkah
cepat, dengan cepat pula Rohmat membekuknya, lalu memborgolnya. Sebelum dia
menyakiti Hani atau yang lainnya.
“Sudah! Diam kamu di sini! Lnjutkan, neng. Tolong jelaskan
semuanya pada kami,” pinta Rohmat.
“Sebenarnya target bang Jono adalah bang Rohmat. Bang Jono
dijelek-jelekkan bang Rohmat di hadapan om Ucup, sehingga bang Jono merasa terancam
kehilangan pekerjaan. Bang Jono yang tahu bahwa bang Rohmat takut hantu,
membuat ilusi-ilusi hantu. Berharap bang Rohmat minta diberhentikan bekerja di
sini. Makanya cerita hantu itu muncul tidak lama setelah bang Rohmat bekerja di
sini,” kali ini Hans yang menjelaskannya. Jono tertunduk, Nenek Sarah mulai
terisak.
“Apa benar semua itu, nak?” tanya Nenek Sarah yang sudah
menganggap Jono seperti anak sendiri.
“Kalian tidak punya bukti! Kalian hanya berspekulasi dari
masalah yang ada pada kami aja!” teriak Jono.
“Ilusi-ilusi hantu yang abang lakukan itu sangat mudah
dilakukan bagi orang-orang yang memegang kendali kelistrikan di rumah ini,
serta punya dua hape,” kata Hans lagi.
“Maksud aden?” Rohmat tidak mengerti.
“TV yang menyala sendiri itu, tombol powernya sudah stand by, tetapi tenaga listriknya belum
mengalir ke kamar karena MCB yang melayani kamar itu dalam keadaan off. MCB ini
dioprasikan dari gubuknya bang Jono. Dia tahu kedatangan kita dari lampu senter
yang terlihat di jendela. Saat bang Jono melihat sinar senter itu, saat itulah
dia menaikkan MCBnya, sehingga tenaga listriknya mengalir ke kamar dan
menyalakan TV dan lampu yang kebetulan saat itu bang Rohmat nyalakan saklarnya.
Lalu setelah terdengar bantingan pintu, bang Jono mematikan lagi MCBnya.”
“Hebat!” Rohmat berdecak kagum.
“Sedangkan suara tangisan yang sering bang Rohmat dengar,
itu adalah ringtone hapenya bang
Jono. Hani, coba cek hapenya. Cari ringtone
itu,” pinta Hans.
Tidak sampai satu menit, Hani sudah menemukan ringtone yang dimaksud. Dia langsung
memutarnya.
“Iya! Itu, itu. Persis seperti itu suara tawa yang saya
dengar!” Rohmat membenarkannya.
Di tengah pembicaraan mereka, datang satu unit mobil polisi.
Rohmat bergegas membukakan pagarnya.
“Apa benar ini kediaman bapak Ucup?” tanya salah satu dari
tiga polisi itu.
“Iya, benar pak. Terimakasih sudah datang,” jawab Hans
sambil tersenyum.
“Lalu, apakah Anda yang tadi menelpon kami?”
“Sekali lagi benar, pak.”
“Lalu penipuan seperti apa yang Anda maksud?”
“Ngg... tunggu pak, ini kami sedang membicarakannya. Lalu
bagaimana dengan suara air itu, den?” tanya Rohmat yang masih penasaran.
“Seperti yang abang bilang tadi malam, itu hanya masalah
kerusakan sistem air. Tapi hal itu menguatkan cerita hantu yang dibuatnya.”
“Okay, orang ini, pak...”
“Tunggu dulu, Mat. Sebaiknya kita selesaikan urusan ini
secara kekeluargaan saja. Biar pak Ucup yang menyelesaikannya. Untuk pak
polisi, makasih sudah datang, pak, dan kami mohon maaf telah merepotkan Anda,”
ucap Nenek Sarah penuh wibawa.
“Hmm... oke. Ini urusan kalian. Selesaikanlah dengan baik,
kalau nanti ada apa-apa, kami siap membantu kalian.”
Polisi-polisi itu pun akhirnya pergi. Kurang lebih lima
belas menit kemudian, Ucup datang. Jono langsung diberhentikannya.
“Hhh... ada-ada saja manusia sekarang. Mat, saya mohon maaf
ya atas ketidak-nyamanannya. Dan saya ucapkan terimakasih telah menjaga rumah
ini denga baik.”
“Dengan segala hormat, pak,” Rohmat membungkukkan badannya.
“Malam ini saya tidur di sini. Soalnya sudah tidak ada lagi
hantunya, hehe... kita satu kamar gak papa ya, Hans?”
“Eh, iya. Gak masalah, om.”
-o0o-
Malamnya, mereka pun beristirahat dengan tenang, tidak ada
lagi suara-suara dan perasaan khawatir tentang hantu. Dari jendela, Hans
memandangi bintang-bintang tampak semarak malam ini.
“Tidak tidur, Hans? Udah jam setengah dua belas nih...”
tegur Ucup yang terbangun dari tidurnya.
“Eh, nanti dulu, om,” jawab Hans.
“Tiba-tiba, dari jendela itu Hans melihat sesosok bayangan
melintas dengan cepat di bagian samping rumah. Sosok yang persis dengan
deskripsi Nenek Sarah beberapa hari yang lalu, badan besar yang melintas dengan
cepat.
Hans mengirim SMS pada Rohmat. Dia melaporkan bahwa ada
sosok misterius di sekitar Rumah Tua Gemo.
Tanpa memberi tahu Ucup, Hans keluar untuk mengecek sendiri.
Dia tidak mau mengganggu pamannya.
“Saya mau mencari Hani dulu, om.”
Dengan mengendap-endap, Hans berjalan menuju tangga ke
lantai satu, dia sekalian juga mau menemui Rohmat. Belum sampai Hans
menginjakkan kaki di tangga, sebuah benda keras membentur bagian belakang
kepalanya. Hans pingsan, suara jatuhnya membuat Ucup terbangun lagi.
“Hans!” panggil Ucup. Dia langsung keluar mencari
ponakannya. Beruntung, Hans hanya pingsan.
-o0o-
Hans terbaring di kamarnya, sinar matahari membuatnya
terbangun. Di sampingnya ada Hani, Ucup, Rohmat dan Nenek Sarah.
“Oh, sukurlah kamu sudah siuman,” kata Ucup, “Rohmat sudah
menceritakan semuanya. Sepertinya yang menyerang kamu malam tadi Jono. Dia
marah atas apa yang telah kamu lakukan. Tapi tenang, om sudah melapor ke
polisi.”
“Hm... makasih ya om. Saya sudah tidak apa-apa lagi nih. Apa
kalian sudah makan?” Hans duduk, dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“O iya. Nek, tolong siapkan ya,” pinta Ucup pada Nenek
Sarah.
“Oh, iya, pak. Segera saya siapkan,” Nenek Sarah kemudian
bergegas turun. Rohmat mengikutinya.
“Yuk, Han, kita ke bawah juga. Biarkan Hans beristirahat,”
ajak Ucup pada Hani.
“Tidak, om. Saya mau bicara dengan Hani dulu. Hanya berdua.
Silakan om duluan,” Hans tersenyum pada pamannya.
Ucup kemudian keluar. Kini tinggal Hans dan Hani di kamar.
“Menurut kamu ini apa, Han?” Hans meminta pendapat Hani.
“Kita salah tunjuk orang, dan pelaku sebenarnya masih ada di
sini, merasa terancam oleh penyelidikan kita, lalu berusaha menyingkirkan kita.
Dengan cara apapun...” ucap Hani serius, “Mungkin malam tadi dia bermaksud
membunuhmu, beruntung om Ucup cepat datang.”
“Tepat, kita melupakan bayangan yang diceritakan nenek Sarah
itu. Mungkin kalau kita bisa memecahkan tentang bayangan itu, kita bisa tahu
cerita yang sebenarnya, Han!”
“Dan memperjelas tentang suara air itu. Aku rasa itu juga
skenario, Bleh. Bukan semata-mata kerusakan.”
“Oke, berarti kita mulai dari awal lagi penyelidikan ini!”
ucap Hans penuh semangat.
“Tapi keselamatan kita terancam, Bleh. Kita bisa terbunuh di
sini...”
Well, well, well... kasihan teman-teman kita itu, kawan.
Sebaiknya kalian bantu mereka untuk memecahkan misteri Rumah Tua Gemo ini,
sebelum pelaku sebenarnya membunuh mereka.
Tulis jawaban kalian di kolom komentar. Tiap paragraf, gunakan double enter ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar