Hani tetap berlari keluar, menuju pos Rohmat,
“Paggil nenek Sarah dan bang Jono. Jangan lupa telpon om Ucup,” pinta Hani pada
Hans.
Hans tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain
melakukan apa yang dipinta Hani. Dia langsung memanggil nenek Sarah dan Jono.
Ucup juga sudah ditelponnya, tiga puluh menit lagi dia akan datang.
Semua sudah berkumpul di sekitar pos Rohmat. Muka
Jono tampak gusar ketika dia harus berdekatan dengan Rohmat.
“Eh? Ada apa ini? Kok pada kumpul semua?” tanya
Rohmat dengan nada bicaranya khasnya yang sopan.
“Tolong bukakan kamarnya almarhum kakek Gemo, bang,”
pinta Hani tanpa basa-basi.
“Eh, ada apa memangnya?” Rohmat mulai terlihat
gugup.
“Wah, wah, ada apa ini!? Loe kenapa membantah gitu,
Mat? Wah, gak beres loe!” Jono mulai mengintimidasi.
“Baik, baik. Tunggu sebentar.” Rohmat mulai mencari
kunci yang diinginkan mereka. Beberapa laci dibukanya, tapi belum ada satu pun
kunci yang diambilnya.
“Itu di pinggang loe!” seru Jono setengah membentak.
“Eh? Oo iya. Ayo kita ke atas,” kata Rohmat yang
akhirnya menyadari, ternyata satu set kunci-kunci rumah itu asih menggantung di
pinggangnya.
Mereka berlima berjalan menuju pintu utama, Nenek
Sarah terlihat khawatir. Dia khawatir apa yang sudah diceritakan Hans tadi
benar.
Belum sampai mereka ke pintu, satu unit mobil polisi
datang. Mereka berhenti di depan pagar yang dalam keadaan tergembok. Membuat
Rohmat terpaksa harus kembali untuk membukakan gerbang.
“Sudah lah, Mat. Kalau siang tuh gak usah digembok
ngapa!” lagi-lagi Jono menekannya.
“Selamat siang, pak. Kami dipinta oleh bapak Ucup
untuk memeriksa situasi di rumah ini. Katanya kami akan dibimbing oleh Hans dan
Hani,” polisi itu berbicara dengan Rohmat di gerbang.
“Oh. Itu mereka, pak,” Rohmat menunjuk Hans dan
Hani.
Rohmat dan tiga polisi itu kemudian menggabungkan
diri dengan yang lainnya. Mereka pun bersama-sama menuju rumah, ke kamar Gemo.
“Apa yang terjadi di sini, mas?” tanya salah seorang
polisi pada Hans.
“Isu rumah berhantu untuk menutupi sesuatu, pak.”
“Apa maksud Anda dengan sesuatu itu, mas?” polisi
itu semakin bingung.
“Kita akan menemukan jawabannya setelah memeriksa
kamar almarhum kakek Gemo,” kata Hans menyederhanakan jawabannya.
Tidak berselang lama, mereka sudah tiba di depan
kamar Gemo. Rohmat memasukkan anak kunci ke lubang kunci pintu kamar.betapa
terkejutnya mereka setelah kedua daun pintu itu terbuka lebar. Di atas tempat
tidur yang teletak di tengah-tengah kamar itu banyak uang menumpuk, handphone, laptop, dan beberapa
perhiasan yang dihambur begitu saja. Persis seperti sebuah tumpukan harta karun
di cerita-cerita dongeng seribu satu malam.
“Apa semua barang ini milik keluarga sini?” tanya
salah seorang polisi menunjuk tumpukan harta itu.
Hans mengangkat bahu, Hani menggeleng pelan. Polisi
itu kemudian memandang pada Nenek Sarah, berharap mendapat jawaban yang lebih
baik. Nenek Sarah menggeleng, dia terisak.
“Oke, mungkin inilah jawaban dari banyaknya kasus
kehilangan di desa. Saudara Rohmat, jelaskan semuanya di kantor!” ucap polisi
itu sambil memberi aba-aba pada polisi lain untuk memborgolnya.
Borgol pun kemudian melingkari kedua pergelangan
Rohmat, dia digiring tanpa perlawanan.
“Mat... kenapa, Mat?” ucap Nenek Sarah, air matanya
mulai mengalir. Rohmat tidak menjawab, bahkan untuk sekedar berpaling pun
tidak.
“Whaw! Kalian memang hebat! Dari mana sih kalian
bisa tahu semua itu?” kali ini Jono sangat antusias.
“Semua kamar terkunci, dan yang memegang kuncinya
bang Rohmat. Saya mulai curiga ketika dia bilang kunci kamar kakek Gemo
tertinggal di pos ketika saya minta bukakan pada saat kami patroli semalam,”
Hans menjelaskan.
“terus, gimana dengan cerita-cerita hantu itu?”
tanya Jono lagi.
“Itu sih trik lama, bang,” kali ini Hani yang
bicara, “TV yang sering menyala otomatis itu dimainkannya dengan mode wake up. Memang sih pada awalnya dia
bilang TV-nya tidak mempunyai mode itu. Tapi pas semalam dia patroli sama Hans,
pintu itu langsung ditutup dan dikuncinya lagi setelah TV-nya menyala, itu
dilakukannya agar Hans tidak sempat mengecek TV-nya.”
“Wah, wah. Emang licik tu orang!”
“O iya, satu lagi bang. Kayaknya shower di kamar tamu bermasalah, entar
tolong benerin ya,” pinta Hans.
“Ooh, ok. Siap bro!” Jono mengacungkan jempolnya.
“Itu juga tuh yang dimanfaatkan bang Rohmat untuk
menguatkan cerita hantu yang ada, dan dia dengan pintarnya seolah-olah tidak
percaya dengan cerita hantu itu,” gerutu Hani.
“Entar saya ikut ngebenerin shower-nya ya, bang!” pinta Hans.
“Boleh. Yuk kita kerjain sekarang.”
“Hani, hari ini bantuin nenek bersih-bersih di
lantai dua ya. Ketiga kamar yang ada di atas,” pinta Nenek Sarah pada Hani.
Suaranya masih terdengar agak kalut. Hani mengangguk.
“Tolong untuk tidak menyentuh kamar almarhum Gemo
dulu ya, nek. Kami masih perlu dokumentasi TKP,” ucap salah satu polisi yang
tetap tinggal di situ.
“Oh. Baik, pak.”
Nenek Sarah dan Hani pergi ke bawah untuk mengambil
peralatan kebersihan. Hans dan Jono juga turun, mereka menuju ke gubuk Jono.
“Kenapa kita ke gubuk, bang?” tanya Hans.
“Sebelum kita memperbaiki shower, jalur aer itu
harus kita tutup dulu. Kalau tidak bisa basah kuyup kita. Hahaha!”
“Menutup jalur air kamar tamu kok malah ke gubuk?”
Hans semakin penasaran.
“Ah, sudah lah. Entar loe juga ngerti kok kalo udah
di dalam,” ucap Jono akhirnya, lelah dengan segala pertanyaan Hans.
Mereka akhirnya sampai di gubuk Jono. Di salah satu sisi
dinding gubuk Jono, Jono menunjukkan satu lagi box panel yang lebih kecil dari panel bagi.
“Nah, ini dia, bro,” Jono membuka pintu box panel, “Sistem air bersih di sini
dibagi empat bagian. Masing-masing bagian punya satu valve yang ngatur jalannya aer,
aer boleh ngalir apa enggak ke bagian yang dilayaninya. Gunanya tuh ya
untuk saat-saat seperti ini. Pas kita mau melakukan perbaikan.”
Di dalam box
panel itu ada empat pasang tombol. Masing-masing berwarna hijau dan merah.
Dari tulisan di atas tombol yang berjejer dua baris itu, dapat dipastikan satu
pasangnya mewakili valve 1, 2, 3, dan
4.
“Loe liat tombol-tombol ini kan? Semua valve di sini sudah gue kasih solenoid,
jadi kita gak perlu lagi naik ke atap untuk nutup valve 2,” Jono menjelaskan panjang lebar, sambil menekan tombol
merah di bawah tulisan ‘valve 2’.
“Ooo, solenoid ya!? Kami pernah belajar tentang itu.
Aktuator gerak linier kan?” seru Hans.
“Loe ngomong apa sih?” kata Jono yang tidak paham
dengan bahasa Hans.
“Itu... alat untuk menggerakkan valve-nya. Pas abang tekan tombol merah, maka solenoid itu akan
mendorong valve, sehingga dia
menutup. Lalu nanti pas sudah selesai perbaikan, kita akan menekan tombol hijau
untuk menarik valve itu agar air bisa
mengalir lagi. Gitu kan, bang?” Hans memeperjelas kalimatnya.
“Jack pot!!”
dia menunjuk Hans, membenarkan apa yang sudah dipaparkan Hans. Mereka kemudian
bergegas ke kamar tamu.
“Memangnya kerusakannya apa, bang?”
“Paling kesumbat lumut. Tadi loe bilang aernya kedengeran ngalir, lalu tiba-tiba
berhenti kan? Padahal pas dicek, kerannya masih dalam keadaan terbuka.”
“Iya.”
“Kemungkinan besar karena lumut. Makanya kita cek
dulu.”
“Udah sering gini ya, bang?”
“Ho oh. Gue males banget sebenarnya minta bukain
pintu sama si penakut Rohmat itu. Tapi gak enak aja sama Nenek Sarah, dia minta
periksain terus. Ngeri katanya malam-malam denger suara aer gitu.”
-o0o-
Siangnya, Ucup datang. Nenek Sarah menceritakan
semuanya, dia pun juga meminta maaf atas kelancangan anaknya. Sedangkan Hans
dan Hani hanya menyimak dan mengiyakan. Setelah itu, Ucup langsung menuju ke
kantor polisi untuk melengkapi pemeriksaan rohmat.
“Bleh, bisa bicara bentar, gak? Di kamar kamu,”
pinta Hani.
“Eh, ada apa, Han?” Hans bingung, dia tidak
bergeming dari tempatnya sekarang.
Hani kemudian menariknya tanpa menjawab Hans. Di
kamar Hans, Hani kemudian menceritakannya.
“Sepertinya kita salah orang,” ucap Hani dengan
suara yang pelan.
“Maksud kamu?” Hans mulai gugup. Sebenarnya dari
awal dia sudah merasa ada yang tidak beres.
“Tadi kan kami bersih-bersih di lantai dua. Nah, pas
di kamar yang TV-nya bermasalah itu, ternyata TV-nya benar-benar TV jadul yang
gak punya mode wake up!”
“Sial!!” umpat Hans, “Ya Tuhan... aku baru sadar.
Saat itu pun lampunya juga ikutan menyala dann mati otomatis. Lagi pula,
kalaupun TV-nya punya mode wake up,
bagaimana dengan lampu itu? Dan TV yang baru saja menyala tidak bisa mati lagi
dalam waktu sesingkat itu. Sekalipun pakai timer
off. Paling cepat tiga puluh menit.”
“Terus gimana nih, Bleh?” Hani mulai panik, “Berarti
pembuat cerita hantu itu masih ada di sekitar sini.”
“Makanya kemarin sudah kubilang tahan dulu!” bentak
Hans, dia pun kini ikutan panik.
“Kok kamu malah nyalahin aku sih, Bleh?” Hani tidak
terima.
“Oke, oke. Maaf. Tapi tadi bang Rohmat tidak
melakukan perlawanan atau pembelaan ketika ditangkap. Apa mungkin...”
“Nenek Sarah...” ucap mereka bersamaan.
Well, well, well...
kasihan teman-teman kita itu, kawan. Sebaiknya kalian bantu mereka untuk
memecahkan misteri Rumah Tua Gemo ini, sebelum orang lain yang tidak bersalah
juga disalahkan mereka. Entar ujung-ujungnya malah semua orang lagi yang mereka
bilang sebagai pembuat cerita hantu.
Sebagai petunjuk nih,
ya... yang terlewatkan oleh mereka adalah bayangan yang dilihat Nenek Sarah di
jendela.
Tulis jawaban kalian di kolom komentar. Tiap paragraf, gunakan double enter ya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar