Sabtu, 02 Agustus 2014

Rumah Tua Gemo (a.1. Rohmat Pelakunya)

Hani tetap berlari keluar, menuju pos Rohmat, “Paggil nenek Sarah dan bang Jono. Jangan lupa telpon om Ucup,” pinta Hani pada Hans.

Hans tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain melakukan apa yang dipinta Hani. Dia langsung memanggil nenek Sarah dan Jono. Ucup juga sudah ditelponnya, tiga puluh menit lagi dia akan datang.

Semua sudah berkumpul di sekitar pos Rohmat. Muka Jono tampak gusar ketika dia harus berdekatan dengan Rohmat.


“Eh? Ada apa ini? Kok pada kumpul semua?” tanya Rohmat dengan nada bicaranya khasnya yang sopan.
“Tolong bukakan kamarnya almarhum kakek Gemo, bang,” pinta Hani tanpa basa-basi.

“Eh, ada apa memangnya?” Rohmat mulai terlihat gugup.

“Wah, wah, ada apa ini!? Loe kenapa membantah gitu, Mat? Wah, gak beres loe!” Jono mulai mengintimidasi.

“Baik, baik. Tunggu sebentar.” Rohmat mulai mencari kunci yang diinginkan mereka. Beberapa laci dibukanya, tapi belum ada satu pun kunci yang diambilnya.

“Itu di pinggang loe!” seru Jono setengah membentak.

“Eh? Oo iya. Ayo kita ke atas,” kata Rohmat yang akhirnya menyadari, ternyata satu set kunci-kunci rumah itu asih menggantung di pinggangnya.

Mereka berlima berjalan menuju pintu utama, Nenek Sarah terlihat khawatir. Dia khawatir apa yang sudah diceritakan Hans tadi benar.

Belum sampai mereka ke pintu, satu unit mobil polisi datang. Mereka berhenti di depan pagar yang dalam keadaan tergembok. Membuat Rohmat terpaksa harus kembali untuk membukakan gerbang.

“Sudah lah, Mat. Kalau siang tuh gak usah digembok ngapa!” lagi-lagi Jono menekannya.

“Selamat siang, pak. Kami dipinta oleh bapak Ucup untuk memeriksa situasi di rumah ini. Katanya kami akan dibimbing oleh Hans dan Hani,” polisi itu berbicara dengan Rohmat di gerbang.

“Oh. Itu mereka, pak,” Rohmat menunjuk Hans dan Hani.

Rohmat dan tiga polisi itu kemudian menggabungkan diri dengan yang lainnya. Mereka pun bersama-sama menuju rumah, ke kamar Gemo.

“Apa yang terjadi di sini, mas?” tanya salah seorang polisi pada Hans.

“Isu rumah berhantu untuk menutupi sesuatu, pak.”

“Apa maksud Anda dengan sesuatu itu, mas?” polisi itu semakin bingung.

“Kita akan menemukan jawabannya setelah memeriksa kamar almarhum kakek Gemo,” kata Hans menyederhanakan jawabannya.

Tidak berselang lama, mereka sudah tiba di depan kamar Gemo. Rohmat memasukkan anak kunci ke lubang kunci pintu kamar.betapa terkejutnya mereka setelah kedua daun pintu itu terbuka lebar. Di atas tempat tidur yang teletak di tengah-tengah kamar itu banyak uang menumpuk, handphone, laptop, dan beberapa perhiasan yang dihambur begitu saja. Persis seperti sebuah tumpukan harta karun di cerita-cerita dongeng seribu satu malam.

“Apa semua barang ini milik keluarga sini?” tanya salah seorang polisi menunjuk tumpukan harta itu.

Hans mengangkat bahu, Hani menggeleng pelan. Polisi itu kemudian memandang pada Nenek Sarah, berharap mendapat jawaban yang lebih baik. Nenek Sarah menggeleng, dia terisak.

“Oke, mungkin inilah jawaban dari banyaknya kasus kehilangan di desa. Saudara Rohmat, jelaskan semuanya di kantor!” ucap polisi itu sambil memberi aba-aba pada polisi lain untuk memborgolnya.

Borgol pun kemudian melingkari kedua pergelangan Rohmat, dia digiring tanpa perlawanan.

“Mat... kenapa, Mat?” ucap Nenek Sarah, air matanya mulai mengalir. Rohmat tidak menjawab, bahkan untuk sekedar berpaling pun tidak.

“Whaw! Kalian memang hebat! Dari mana sih kalian bisa tahu semua itu?” kali ini Jono sangat antusias.
“Semua kamar terkunci, dan yang memegang kuncinya bang Rohmat. Saya mulai curiga ketika dia bilang kunci kamar kakek Gemo tertinggal di pos ketika saya minta bukakan pada saat kami patroli semalam,” Hans menjelaskan.

“terus, gimana dengan cerita-cerita hantu itu?” tanya Jono lagi.

“Itu sih trik lama, bang,” kali ini Hani yang bicara, “TV yang sering menyala otomatis itu dimainkannya dengan mode wake up. Memang sih pada awalnya dia bilang TV-nya tidak mempunyai mode itu. Tapi pas semalam dia patroli sama Hans, pintu itu langsung ditutup dan dikuncinya lagi setelah TV-nya menyala, itu dilakukannya agar Hans tidak sempat mengecek TV-nya.”

“Wah, wah. Emang licik tu orang!”

“O iya, satu lagi bang. Kayaknya shower di kamar tamu bermasalah, entar tolong benerin ya,” pinta Hans.

“Ooh, ok. Siap bro!” Jono mengacungkan jempolnya.

“Itu juga tuh yang dimanfaatkan bang Rohmat untuk menguatkan cerita hantu yang ada, dan dia dengan pintarnya seolah-olah tidak percaya dengan cerita hantu itu,” gerutu Hani.

“Entar saya ikut ngebenerin shower-nya ya, bang!” pinta Hans.

“Boleh. Yuk kita kerjain sekarang.”

“Hani, hari ini bantuin nenek bersih-bersih di lantai dua ya. Ketiga kamar yang ada di atas,” pinta Nenek Sarah pada Hani. Suaranya masih terdengar agak kalut. Hani mengangguk.

“Tolong untuk tidak menyentuh kamar almarhum Gemo dulu ya, nek. Kami masih perlu dokumentasi TKP,” ucap salah satu polisi yang tetap tinggal di situ.

“Oh. Baik, pak.”

Nenek Sarah dan Hani pergi ke bawah untuk mengambil peralatan kebersihan. Hans dan Jono juga turun, mereka menuju ke gubuk Jono.

“Kenapa kita ke gubuk, bang?” tanya Hans.

“Sebelum kita memperbaiki shower, jalur aer itu harus kita tutup dulu. Kalau tidak bisa basah kuyup kita. Hahaha!”

“Menutup jalur air kamar tamu kok malah ke gubuk?” Hans semakin penasaran.

“Ah, sudah lah. Entar loe juga ngerti kok kalo udah di dalam,” ucap Jono akhirnya, lelah dengan segala pertanyaan Hans.

Mereka akhirnya sampai di gubuk Jono. Di salah satu sisi dinding gubuk Jono, Jono menunjukkan satu lagi box panel yang lebih kecil dari panel bagi.

“Nah, ini dia, bro,” Jono membuka pintu box panel, “Sistem air bersih di sini dibagi empat bagian. Masing-masing bagian punya satu valve yang ngatur jalannya aer, aer boleh ngalir apa enggak ke bagian yang dilayaninya. Gunanya tuh ya untuk saat-saat seperti ini. Pas kita mau melakukan perbaikan.”

*garis biru menunjukkan jalur pipa sistem air bersih

Di dalam box panel itu ada empat pasang tombol. Masing-masing berwarna hijau dan merah. Dari tulisan di atas tombol yang berjejer dua baris itu, dapat dipastikan satu pasangnya mewakili valve 1, 2, 3, dan 4.

“Loe liat tombol-tombol ini kan? Semua valve di sini sudah gue kasih solenoid, jadi kita gak perlu lagi naik ke atap untuk nutup valve 2,” Jono menjelaskan panjang lebar, sambil menekan tombol merah di bawah tulisan ‘valve 2’.

“Ooo, solenoid ya!? Kami pernah belajar tentang itu. Aktuator gerak linier kan?” seru Hans.

“Loe ngomong apa sih?” kata Jono yang tidak paham dengan bahasa Hans.

“Itu... alat untuk menggerakkan valve-nya. Pas abang tekan tombol merah, maka solenoid itu akan mendorong valve, sehingga dia menutup. Lalu nanti pas sudah selesai perbaikan, kita akan menekan tombol hijau untuk menarik valve itu agar air bisa mengalir lagi. Gitu kan, bang?” Hans memeperjelas kalimatnya.

Jack pot!!” dia menunjuk Hans, membenarkan apa yang sudah dipaparkan Hans. Mereka kemudian bergegas ke kamar tamu.

“Memangnya kerusakannya apa, bang?”

“Paling kesumbat lumut. Tadi loe bilang aernya kedengeran ngalir, lalu tiba-tiba berhenti kan? Padahal pas dicek, kerannya masih dalam keadaan terbuka.”

“Iya.”

“Kemungkinan besar karena lumut. Makanya kita cek dulu.”

“Udah sering gini ya, bang?”

“Ho oh. Gue males banget sebenarnya minta bukain pintu sama si penakut Rohmat itu. Tapi gak enak aja sama Nenek Sarah, dia minta periksain terus. Ngeri katanya malam-malam denger suara aer gitu.”

-o0o-

Siangnya, Ucup datang. Nenek Sarah menceritakan semuanya, dia pun juga meminta maaf atas kelancangan anaknya. Sedangkan Hans dan Hani hanya menyimak dan mengiyakan. Setelah itu, Ucup langsung menuju ke kantor polisi untuk melengkapi pemeriksaan rohmat.

“Bleh, bisa bicara bentar, gak? Di kamar kamu,” pinta Hani.

“Eh, ada apa, Han?” Hans bingung, dia tidak bergeming dari tempatnya sekarang.

Hani kemudian menariknya tanpa menjawab Hans. Di kamar Hans, Hani kemudian menceritakannya.

“Sepertinya kita salah orang,” ucap Hani dengan suara yang pelan.

“Maksud kamu?” Hans mulai gugup. Sebenarnya dari awal dia sudah merasa ada yang tidak beres.

“Tadi kan kami bersih-bersih di lantai dua. Nah, pas di kamar yang TV-nya bermasalah itu, ternyata TV-nya benar-benar TV jadul yang gak punya mode  wake up!

“Sial!!” umpat Hans, “Ya Tuhan... aku baru sadar. Saat itu pun lampunya juga ikutan menyala dann mati otomatis. Lagi pula, kalaupun TV-nya punya mode wake up, bagaimana dengan lampu itu? Dan TV yang baru saja menyala tidak bisa mati lagi dalam waktu sesingkat itu. Sekalipun pakai timer off. Paling cepat tiga puluh menit.”

“Terus gimana nih, Bleh?” Hani mulai panik, “Berarti pembuat cerita hantu itu masih ada di sekitar sini.”

“Makanya kemarin sudah kubilang tahan dulu!” bentak Hans, dia pun kini ikutan panik.

“Kok kamu malah nyalahin aku sih, Bleh?” Hani tidak terima.

“Oke, oke. Maaf. Tapi tadi bang Rohmat tidak melakukan perlawanan atau pembelaan ketika ditangkap. Apa mungkin...”

“Nenek Sarah...” ucap mereka bersamaan.

Well, well, well... kasihan teman-teman kita itu, kawan. Sebaiknya kalian bantu mereka untuk memecahkan misteri Rumah Tua Gemo ini, sebelum orang lain yang tidak bersalah juga disalahkan mereka. Entar ujung-ujungnya malah semua orang lagi yang mereka bilang sebagai pembuat cerita hantu.
Sebagai petunjuk nih, ya... yang terlewatkan oleh mereka adalah bayangan yang dilihat Nenek Sarah di jendela.
Tulis jawaban kalian di kolom komentar. Tiap paragraf, gunakan double enter ya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar