“Apa itu?”
“Aku juga belum tahu, tapi itu adalah sesuatu yang penting.
Lebih baik kita tunggu beberapa hari saja dulu, Han. Daripada entar
kenapa-kenapa,” bujuk Hans.
“Hmm... oke deh.”
“Aku nyari bang Jono dulu ya, Han. Minta benerin shower yang di kamar tamu itu.”
“Oh iya. Kalau tidak salah barusan tadi dia dari belakang.
Mungkin sekarang sudah di gubuk,” Hani memberi tahu.
Benar saja, ketika Hans sudah mencapai gubuk Jono, dia sedang
sibuk dengan kedua hapenya.
“Asheek... ngapain tuh, bang?” sapa Hans.
“Eh! Ah, elo bro? Ngagetin aja. Enggak... ini Cuma transfer
MP3 pake infra red. Maklum hape jaman
purba. Haha... ada apa nih?”
“Itu, shower di
kamar tamu bermasalah, bang. Kita perbaiki sama-sama yuk.”
“Oh, oke. Elo ambil dulu kunci kamarnya di Rohmat, gue nutup
valve-nya dulu,” Jono memberi
instruksi, dia berjalan ke salah satu sisi dinding gubuknya. Menuju box panel yang lebih kecil dari panel
bagi.
“Eh, itu panel apa lagi, bang?” Hans tertarik dengan apa
yang baru dilihatnya.
“Kita nutup valve-nya
dari sini, bro. Sistem aer bersih di
sini dibagi empat bagian, satu bagian untuk kamar mandi, WC, sama dua keran di
sebelah dapur. Satu bagian untuk wastafel di dapur. Satu bagian untuk WC dan
kamar mandi di kamar yang elo tempati. Satu bagian lagi untuk WC dan kamar
mandi di kamar kakek Gemo, kamar yang ada di seberang loe, sama kamar tamu,”
Jono membuka pintu box panel,
“Masing-masing bagian itu dilayani oleh satu valve. Nah, tiap valve itu
gue kasih solenoid, jadi kita bisa buka-tutup tuh valve dari sini.”
Terlihat jelas di dalam box itu terdapat empat tombol merah
yang tersusun vertikal, di bawahnya juga berderet empat tombol hijau yang juga
berjejer vertikal, sejajar dengan tombol merah. Di atas tombol merah, terdapat
tulisan yang mewakili tiap pasang tombol merah-hijau itu, valve 1, valve 2, valve 3, dan
valve 4. Jono menekan tombol merah valve
4 sekitar enam sampai tujuh detik.
“Ooo, solenoid ya!? Kami pernah belajar tentang itu.
Aktuator gerak linier kan?” seru Hans.
“Loe ngomong apa sih?” kata Jono yang tidak paham dengan
bahasa Hans.
“Itu... alat untuk menggerakkan valve-nya. Pas abang tekan tombol merah, maka solenoid itu akan
mendorong valve, sehingga dia
menutup. Lalu nanti pas sudah selesai perbaikan, kita akan menekan tombol hijau
untuk menarik valve itu agar air bisa
mengalir lagi. Gitu kan, bang?” Hans memeperjelas kalimatnya.
“Jack pot!!” dia
menunjuk Hans, membenarkan apa yang sudah dipaparkan Hans. Mereka kemudian
bergegas ke kamar tamu.
“Memangnya kerusakannya apa, bang?”
“Paling kesumbat lumut. Tadi loe bilang aernya kedengeran ngalir, lalu tiba-tiba berhenti kan? Padahal pas
dicek, kerannya masih dalam keadaan terbuka.”
“Iya.”
“Kemungkinan besar karena lumut. Makanya kita cek dulu.”
“Udah sering gini ya, bang?”
“Ho oh.”
*garis biru merupakan jalur pipa sistem air bersih
-o0o-
Seperti biasa, malamnya kedua sepupu itu saling berbagi
informasi lagi.
“Tadi siang kami sukses ngebenerin shower di kamar tamu, Han!” cerita Hans dengan bangga.
“O ya, apa masalahnya?”
“Lumut di pipa jalur shower
itu.”
“Lumutnya banyak?”
“Wah, aku gak liat..”
“Yaah... kamu gimana sih? Katanya ikut kerja...” gerutu
Hani.
“Soalnya bang Jono memintaku diam di pintu kamar mandinya
saja, ngoper peralatan yang dia perlukan,” Hans membela diri. “O iya, di rumah
ini sitem airnya dibagi empat bagian, Han. Masing-masing bagian itu dilayani
oleh satu valve untuk mengatur
mengalir atau tidaknya air ke bagian yang mereka layani. Canggihnya, valve-valve itu bisa dioprasikan dari
gubuknya bang Jono!”
“O ya? Ya sudah, mending kita tidur dulu, biar besok fit
lagi nerusin penyelidikan,” saran Hani yang mulai mengantuk.
“Sip!!”
Mereka pun menuju kamar masing-masing. Meskipun baru jam
setengah sebelas malam, di rumah sebesar ini yang sedikit penghuninya, sudah
terasa hawa angkernya. Apalagi ketika Hans melewati kamar Gemo, bulu kuduknya
terasa berdiri semua.
Sesampainya di kamar, Hans tidak langsung tidur. Dia selalu
asik memandangi langit ketika cerah begini. Hamparan bintang-bintang itu seolah
membuatnya dihibur oleh banyak peri.
Tiba-tiba, dari jendela kamar Hans melihat sosok bayangan di
melintas di halaman samping. Ciri-cirinya persis seperti yang pernah
diceritakan Nenek Sarah. Bayangan itu bergerak menuju halaman belakang. Hans
kemudian langsung menelpon Hani, menceritakan apa yang baru saja dilihatnya.
“Oke, oke. Tenang dulu, Bleh. Sekarang jam berapa?”
“23.30...” dari nafasnya, terlihat Hans sangat gugup. Atau
mungkin ketakutan.
“Oke, sekarang aku tahu apa yang terjadi di sini. Bayangan
itu, TV yang menyala sendiri, shower yang
memancarkan air, dan suara tangisan yang sering didengar oleh bang Rohmat.
Malam ini kita biarkan saja dulu. Tapi besok, dia tidak akan berkutik lagi. Aku
akan memanggil om Ucup dan menghubungi pihak kepolisian.”
Kalo sudah nulis jawabanmu, baca cerita selanjutnya di sini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar