Sabtu, 02 Agustus 2014

Rumah Tua Gemo (b. Mengikuti kata Hans)

“Apa itu?”

“Aku juga belum tahu, tapi itu adalah sesuatu yang penting. Lebih baik kita tunggu beberapa hari saja dulu, Han. Daripada entar kenapa-kenapa,” bujuk Hans.

“Hmm... oke deh.”

“Aku nyari bang Jono dulu ya, Han. Minta benerin shower yang di kamar tamu itu.”

“Oh iya. Kalau tidak salah barusan tadi dia dari belakang. Mungkin sekarang sudah di gubuk,” Hani memberi tahu.

Benar saja, ketika Hans sudah mencapai gubuk Jono, dia sedang sibuk dengan kedua hapenya.
“Asheek... ngapain tuh, bang?” sapa Hans.

“Eh! Ah, elo bro? Ngagetin aja. Enggak... ini Cuma transfer MP3 pake infra red. Maklum hape jaman purba. Haha... ada apa nih?”


“Itu, shower di kamar tamu bermasalah, bang. Kita perbaiki sama-sama yuk.”

“Oh, oke. Elo ambil dulu kunci kamarnya di Rohmat, gue nutup valve-nya dulu,” Jono memberi instruksi, dia berjalan ke salah satu sisi dinding gubuknya. Menuju box panel yang lebih kecil dari panel bagi.

“Eh, itu panel apa lagi, bang?” Hans tertarik dengan apa yang baru dilihatnya.

“Kita nutup valve-nya dari sini, bro. Sistem aer bersih di sini dibagi empat bagian, satu bagian untuk kamar mandi, WC, sama dua keran di sebelah dapur. Satu bagian untuk wastafel di dapur. Satu bagian untuk WC dan kamar mandi di kamar yang elo tempati. Satu bagian lagi untuk WC dan kamar mandi di kamar kakek Gemo, kamar yang ada di seberang loe, sama kamar tamu,” Jono membuka pintu box panel, “Masing-masing bagian itu dilayani oleh satu valve. Nah, tiap valve itu gue kasih solenoid, jadi kita bisa buka-tutup tuh valve dari sini.”

Terlihat jelas di dalam box itu terdapat empat tombol merah yang tersusun vertikal, di bawahnya juga berderet empat tombol hijau yang juga berjejer vertikal, sejajar dengan tombol merah. Di atas tombol merah, terdapat tulisan yang mewakili tiap pasang tombol merah-hijau itu, valve 1, valve 2, valve 3, dan valve 4. Jono menekan tombol merah valve 4 sekitar enam sampai tujuh detik.

“Ooo, solenoid ya!? Kami pernah belajar tentang itu. Aktuator gerak linier kan?” seru Hans.

“Loe ngomong apa sih?” kata Jono yang tidak paham dengan bahasa Hans.

“Itu... alat untuk menggerakkan valve-nya. Pas abang tekan tombol merah, maka solenoid itu akan mendorong valve, sehingga dia menutup. Lalu nanti pas sudah selesai perbaikan, kita akan menekan tombol hijau untuk menarik valve itu agar air bisa mengalir lagi. Gitu kan, bang?” Hans memeperjelas kalimatnya.

Jack pot!!” dia menunjuk Hans, membenarkan apa yang sudah dipaparkan Hans. Mereka kemudian bergegas ke kamar tamu.

“Memangnya kerusakannya apa, bang?”

“Paling kesumbat lumut. Tadi loe bilang aernya kedengeran ngalir, lalu tiba-tiba berhenti kan? Padahal pas dicek, kerannya masih dalam keadaan terbuka.”

“Iya.”

“Kemungkinan besar karena lumut. Makanya kita cek dulu.”

“Udah sering gini ya, bang?”

“Ho oh.”

*garis biru merupakan jalur pipa sistem air bersih

-o0o-


Seperti biasa, malamnya kedua sepupu itu saling berbagi informasi lagi.

“Tadi siang kami sukses ngebenerin shower di kamar tamu, Han!” cerita Hans dengan bangga.

“O ya, apa masalahnya?”

“Lumut di pipa jalur shower itu.”

“Lumutnya banyak?”

“Wah, aku gak liat..”

“Yaah... kamu gimana sih? Katanya ikut kerja...” gerutu Hani.

“Soalnya bang Jono memintaku diam di pintu kamar mandinya saja, ngoper peralatan yang dia perlukan,” Hans membela diri. “O iya, di rumah ini sitem airnya dibagi empat bagian, Han. Masing-masing bagian itu dilayani oleh satu valve untuk mengatur mengalir atau tidaknya air ke bagian yang mereka layani. Canggihnya, valve-valve itu bisa dioprasikan dari gubuknya bang Jono!”

“O ya? Ya sudah, mending kita tidur dulu, biar besok fit lagi nerusin penyelidikan,” saran Hani yang mulai mengantuk.

“Sip!!”

Mereka pun menuju kamar masing-masing. Meskipun baru jam setengah sebelas malam, di rumah sebesar ini yang sedikit penghuninya, sudah terasa hawa angkernya. Apalagi ketika Hans melewati kamar Gemo, bulu kuduknya terasa berdiri semua.

Sesampainya di kamar, Hans tidak langsung tidur. Dia selalu asik memandangi langit ketika cerah begini. Hamparan bintang-bintang itu seolah membuatnya dihibur oleh banyak peri.

Tiba-tiba, dari jendela kamar Hans melihat sosok bayangan di melintas di halaman samping. Ciri-cirinya persis seperti yang pernah diceritakan Nenek Sarah. Bayangan itu bergerak menuju halaman belakang. Hans kemudian langsung menelpon Hani, menceritakan apa yang baru saja dilihatnya.

“Oke, oke. Tenang dulu, Bleh. Sekarang jam berapa?”

“23.30...” dari nafasnya, terlihat Hans sangat gugup. Atau mungkin ketakutan.

“Oke, sekarang aku tahu apa yang terjadi di sini. Bayangan itu, TV yang menyala sendiri, shower yang memancarkan air, dan suara tangisan yang sering didengar oleh bang Rohmat. Malam ini kita biarkan saja dulu. Tapi besok, dia tidak akan berkutik lagi. Aku akan memanggil om Ucup dan menghubungi pihak kepolisian.”

Apa kamu juga sudah tahu apa sebenarnya yang terjadi di rumah itu? Tulis jawabanmu di kolom komentar. Tiap paragraf gunakan double enter ya

Kalo sudah nulis jawabanmu, baca cerita selanjutnya di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar