Besoknya, semua sudah berkumpul di halaman Rumah Tua Gemo.
Hanas, Hani, Nenek Sarah, Jono, Rohmat, Ucup, dan beberapa orang polisi.
“Silakan Hani,” Ucup mempersilakan Hani untuk presentasinya.
“Oke, pertama saya ucapkan terimakasih banyak karena kalian
sudah bersedia berkumpul di sini. Saya sengaja tidak memberitahukan untuk apa
kita berkumpul di sini. Hal ini saya lakukan agar orang yang bersangkutan tidak
mengantisipasinya.”
Sementara Hani membuka presentasinya, Hans menyiapkan handycam beserta tripodnya.
“Baiklah, ini tentang Rumah Tua Gemo. Tentang hantu yang
kalian sebut-sebut, mulai hari ini tidak ada lagi hantu di sini!!” seru Hani,
semuanya saling berbisik satu sama lain.
“Yang pertama kali akan saya ungkapkan adalah siapa pembuat
hantu itu... dia adalah bang Jono!” Hani menunjuknya, semua orang memandang
kaget pada Jono. Jono tersenyum kecil.
“Hey, sist, buat apa coba gue ngarang cerita gituan. Lagian
gimana coba caranya gue bikin hantu-hantu itu?” Jono berkilah.
“Dia melakukannya dengan tujuan mengusir bang Rohmat...”
“Apa?” pekik Rohmat atas apa yang baru saja di tangkap oleh
telinganya.
“Menakut-nakuti bang Rohmat agar keluar dari rumah ini, dari
lingkungan sini. Sebab bang Rohmat sudah menjelek-jelekkan bang Jono di hadapan
Om Ucup. Bang Jono yang tahu bahwa bang Rohmat penakut, membuat ilusi-ilusi
hantu agar bang Rohmat minta berhenti bekerja di sini. Bang Jono yang pernah
patroli malam bersama bang Rohmat, tahu rute dan jadwal patroli bang Rohmat.
Hal ini mendukung ilusi yang akan dijalankannya. Makanya isu hantu ini
munculnya tidak lama setelah bang Rohmat bekerja di sini.”
“Hey, hey, tunggu. Itu hanya spekulasi loe, sist! Spekulasi
loe yang hanya berdasar hubungan buruk kami. Lalu bagaimana dengan hal-hal aneh
itu?” Jono mulai panik. Ucup memberinya kode untuk diam.
“Itu mudah saja dilakukan oleh orang yang menguasai jalannya
rumah ini, serta punya dua hape di tangan. Yang pertama TV dan lampu kamar yang
menyala dan mati otomatis, padahal semua kamar dalam keadaan terkunci, kuncinya
selalu dikantongin bang Rohmat pula. Bang Jono menguasai sistem kelistrikan di
rumah ini. Dia memegang kendali bagian rumah mana yang mau dialiri listrik,
mana yang tidak. TV di kamar itu sebenarnya sudah dalam posisi on, tetapi
karena MCB di panel bagi dalam keadaan off, maka TV di kamar itu belum menyala.
Ketika melihat sinar senter kami yang memancar keluar kamar, dari gubuknya bang
Jono menaikkan MCB itu, sehingga Tvnya menyala, seolah-olah ada makhluk ghaib
yang menyalakannya. Kebetulan saat itu bang Rohmat juga menekan saklar lampu
kamar, makanya lampu kamar ikutan menyala. Lalu ketika bang Rohmat yang kaget
membanting pintu, bang Jono tahu bahwa mereka sudah keluar. Dia pun menurunkan
atau mematikan lagi MCB itu. Sehingga lampu dan TV-nya kembali mati.”
“Sialan kamu, Jon!!” Rohmat hendak memukul Jono, tapi
beberapa polisi lebih dulu menahan Rohmat.
“Kurang lebih sama denga shower
yang tiba-tiba mengalirkan air itu. Valve
air di sini dioprasikan melalui panel kontrol valve yang ada di gubuk bang
Jono. Dengan membuka keran shower di
sana terlebih dahulu, lalu membuka valve
di saat bang Rohmat patroli, tepatnya ketika berada di tangga. Air di shower kamar mandi kamar tamu itu punn
mengalir. Bang Jono tahu kapan bang Rohmat naik ke tangga, sebab dia menghitung
timingnya. Dan tentang valve yang
lama ditutup itu tidak masalah, sebab valve
yang ditutup itu adalah valve yang
melayani kamar-kamar kosong. Yaitu kamar tamu, kamar kakek Gemo, dan kamar
angker yang TV-nya sering menyala dengan sendirinya itu.”
“Lalu bagaimana dengan bunyi tangisan dan sosok bayangan
itu?” kali ini Nenek Sarah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang lain.
“Bleh, tolong periksa hapenya bang Jono,” pinta Hani.
Hans menadahkan tangannya pada Jono. Jono hanya diam menatap
marah pada Hans. Setelah Ucup memandangnya, barulah Jono menyerahkan kedua
hapenya.
Hampir satu menit Hans memainkan hape itu, tidak lama
kemudian muncul suara tawa yang membuat mereka bergidik.
“Itu, itu! Itu dia suara tawa yang sering saya dengar,” ucap
Rohmat.
“Bang Jono meletakkan hapenya di sekitar koridor bagian
selatan. Mungkin di pot bunga. Dia mengawasi dari gubuknya, ketika dia lihat
bang Rohmat melintas, dia membuat panggilan ke nomor hapenya yang ringtone-nya sudah dia seting dengan
bunyi tawa itu,” dengan sangat lugas, Hani membeberkan semuanya. Jono tampak
kesal.
“Oke, oke. Gue akui semua itu emang gue yang ngerjain. Tapi
gue sama sekali gak tau tentang sosok bayangan itu...” akhirnya Jono mengaku,
saat semua sudah terbongkar.
“Oh itu tenang saja, bang. Mungkin bang Rohmat sendiri yang
akan menjelaskannya,” Hans ikut bicara.
Lagi-lagi semua orang tercengang, kaget, memandang kepada
Rohmat.
“Eh, apa maksudnya ini? Bukannya yang jadi korban sebenarnya
di sini adalah saya?” keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.
“Sebenarnya bang Rohmat sudah tahu dengan semua ilusi anda
bang Jono, hehe... sabar ya. Nah, dari cerita hantu ini, dimanfaatkan oleh bang
Rohmat untuk menyimpan barang curian temannya di kamar kakek Gemo,” Hans
langsung membuat Nenek Sarah harus menutup mulutnya karena kaget, Ucup pun
hampir mengeluarkan matanya.
“Apa!? Apa benar itu, Mat?” tanya Ucup. Rohmat hanya
tertunduk.
“Dengan adanya cerita hantu itu, kamar kakek Gemo tidak akan
diusik. Orang luar pun juga tidak berani mendekat. Terlebih semua kunci kamar
dipegang oleh bang Rohmat, begitu pula dengan pagar depan yang selalu terkunci.
Dipanjat tidak mungkin. Maka siapa lagi yang malam-malam bisa meloloskan
seorang bertubuh besar menyelinap ke dalam? Jika tidak dibantu oleh security kita. Agar tidak terlihat oleh
bang Jono, maka temannya bang Rohmat yang membawa barang curian itu
dikondisikan bang Rohmat untuk mengambil rute halaman sebelah utara agar tidak
melintas di depan gubuk Jono, masuk lewat pintu belakang, lalu naik dan masuk
ke kamar kakek Gemo. Waktunya selalu ketika jam patroli bang Rohmat, karena
pada saat itulah bang Rohmat membukakan pintu kamar kakek Gemo.”
“Huh, gak nyangka gue. Sesuatu yang gue harap bakal
menyengsarakannya justru malah semakin memakmurkannya,” gerutu Jono.
“Untuk memastikan lagi, sebaiknya kita periksa saja, pak,
barang yang ada di kamar itu. Kalian membawa kan daftar barang-barang hilang
yang telah dicuri di desa?” tanya Hans pada beberapa polisi.
“Iya mas, semuanya sudah lengkap.”
Kini mereka sudah tiba di depan kamar Gemo.
“Tolong buka, Mat,” pinta Ucup.
Rohmat segera membuka pintu itu, setelah kedua daun pintu
itu terbuka lebar, mereka langsung dikejutkan oleh tumpukan uang yang bergepok,
beberapa laptop, hape, dan gadget lainnya. Bahkan si pemilik sosok bayangan
besar itu pun masih meringkuk di tengah-tengah tumpukan harta yang banyak itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar