Sabtu, 02 Agustus 2014

Rumah Tua Gemo (Akhir)

Besoknya, semua sudah berkumpul di halaman Rumah Tua Gemo. Hanas, Hani, Nenek Sarah, Jono, Rohmat, Ucup, dan beberapa orang polisi.

“Silakan Hani,” Ucup mempersilakan Hani untuk presentasinya.

“Oke, pertama saya ucapkan terimakasih banyak karena kalian sudah bersedia berkumpul di sini. Saya sengaja tidak memberitahukan untuk apa kita berkumpul di sini. Hal ini saya lakukan agar orang yang bersangkutan tidak mengantisipasinya.”

Sementara Hani membuka presentasinya, Hans menyiapkan handycam beserta  tripodnya.

“Baiklah, ini tentang Rumah Tua Gemo. Tentang hantu yang kalian sebut-sebut, mulai hari ini tidak ada lagi hantu di sini!!” seru Hani, semuanya saling berbisik satu sama lain.

“Yang pertama kali akan saya ungkapkan adalah siapa pembuat hantu itu... dia adalah bang Jono!” Hani menunjuknya, semua orang memandang kaget pada Jono. Jono tersenyum kecil.


“Hey, sist, buat apa coba gue ngarang cerita gituan. Lagian gimana coba caranya gue bikin hantu-hantu itu?” Jono berkilah.

“Dia melakukannya dengan tujuan mengusir bang Rohmat...”

“Apa?” pekik Rohmat atas apa yang baru saja di tangkap oleh telinganya.

“Menakut-nakuti bang Rohmat agar keluar dari rumah ini, dari lingkungan sini. Sebab bang Rohmat sudah menjelek-jelekkan bang Jono di hadapan Om Ucup. Bang Jono yang tahu bahwa bang Rohmat penakut, membuat ilusi-ilusi hantu agar bang Rohmat minta berhenti bekerja di sini. Bang Jono yang pernah patroli malam bersama bang Rohmat, tahu rute dan jadwal patroli bang Rohmat. Hal ini mendukung ilusi yang akan dijalankannya. Makanya isu hantu ini munculnya tidak lama setelah bang Rohmat bekerja di sini.”

“Hey, hey, tunggu. Itu hanya spekulasi loe, sist! Spekulasi loe yang hanya berdasar hubungan buruk kami. Lalu bagaimana dengan hal-hal aneh itu?” Jono mulai panik. Ucup memberinya kode untuk diam.

“Itu mudah saja dilakukan oleh orang yang menguasai jalannya rumah ini, serta punya dua hape di tangan. Yang pertama TV dan lampu kamar yang menyala dan mati otomatis, padahal semua kamar dalam keadaan terkunci, kuncinya selalu dikantongin bang Rohmat pula. Bang Jono menguasai sistem kelistrikan di rumah ini. Dia memegang kendali bagian rumah mana yang mau dialiri listrik, mana yang tidak. TV di kamar itu sebenarnya sudah dalam posisi on, tetapi karena MCB di panel bagi dalam keadaan off, maka TV di kamar itu belum menyala. Ketika melihat sinar senter kami yang memancar keluar kamar, dari gubuknya bang Jono menaikkan MCB itu, sehingga Tvnya menyala, seolah-olah ada makhluk ghaib yang menyalakannya. Kebetulan saat itu bang Rohmat juga menekan saklar lampu kamar, makanya lampu kamar ikutan menyala. Lalu ketika bang Rohmat yang kaget membanting pintu, bang Jono tahu bahwa mereka sudah keluar. Dia pun menurunkan atau mematikan lagi MCB itu. Sehingga lampu dan TV-nya kembali mati.”

“Sialan kamu, Jon!!” Rohmat hendak memukul Jono, tapi beberapa polisi lebih dulu menahan Rohmat.

“Kurang lebih sama denga shower yang tiba-tiba mengalirkan air itu. Valve air di sini dioprasikan melalui panel kontrol valve  yang ada di gubuk bang Jono. Dengan membuka keran shower di sana terlebih dahulu, lalu membuka valve di saat bang Rohmat patroli, tepatnya ketika berada di tangga. Air di  shower kamar mandi kamar tamu itu punn mengalir. Bang Jono tahu kapan bang Rohmat naik ke tangga, sebab dia menghitung timingnya. Dan tentang valve yang lama ditutup itu tidak masalah, sebab valve yang ditutup itu adalah valve yang melayani kamar-kamar kosong. Yaitu kamar tamu, kamar kakek Gemo, dan kamar angker yang TV-nya sering menyala dengan sendirinya itu.”

“Lalu bagaimana dengan bunyi tangisan dan sosok bayangan itu?” kali ini Nenek Sarah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang lain.

“Bleh, tolong periksa hapenya bang Jono,” pinta Hani.

Hans menadahkan tangannya pada Jono. Jono hanya diam menatap marah pada Hans. Setelah Ucup memandangnya, barulah Jono menyerahkan kedua hapenya.

Hampir satu menit Hans memainkan hape itu, tidak lama kemudian muncul suara tawa yang membuat mereka bergidik.

“Itu, itu! Itu dia suara tawa yang sering saya dengar,” ucap Rohmat.

“Bang Jono meletakkan hapenya di sekitar koridor bagian selatan. Mungkin di pot bunga. Dia mengawasi dari gubuknya, ketika dia lihat bang Rohmat melintas, dia membuat panggilan ke nomor hapenya yang ringtone-nya sudah dia seting dengan bunyi tawa itu,” dengan sangat lugas, Hani membeberkan semuanya. Jono tampak kesal.

“Oke, oke. Gue akui semua itu emang gue yang ngerjain. Tapi gue sama sekali gak tau tentang sosok bayangan itu...” akhirnya Jono mengaku, saat semua sudah terbongkar.

“Oh itu tenang saja, bang. Mungkin bang Rohmat sendiri yang akan menjelaskannya,” Hans ikut bicara.
Lagi-lagi semua orang tercengang, kaget, memandang kepada Rohmat.

“Eh, apa maksudnya ini? Bukannya yang jadi korban sebenarnya di sini adalah saya?” keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

“Sebenarnya bang Rohmat sudah tahu dengan semua ilusi anda bang Jono, hehe... sabar ya. Nah, dari cerita hantu ini, dimanfaatkan oleh bang Rohmat untuk menyimpan barang curian temannya di kamar kakek Gemo,” Hans langsung membuat Nenek Sarah harus menutup mulutnya karena kaget, Ucup pun hampir mengeluarkan matanya.

“Apa!? Apa benar itu, Mat?” tanya Ucup. Rohmat hanya tertunduk.

“Dengan adanya cerita hantu itu, kamar kakek Gemo tidak akan diusik. Orang luar pun juga tidak berani mendekat. Terlebih semua kunci kamar dipegang oleh bang Rohmat, begitu pula dengan pagar depan yang selalu terkunci. Dipanjat tidak mungkin. Maka siapa lagi yang malam-malam bisa meloloskan seorang bertubuh besar menyelinap ke dalam? Jika tidak dibantu oleh security kita. Agar tidak terlihat oleh bang Jono, maka temannya bang Rohmat yang membawa barang curian itu dikondisikan bang Rohmat untuk mengambil rute halaman sebelah utara agar tidak melintas di depan gubuk Jono, masuk lewat pintu belakang, lalu naik dan masuk ke kamar kakek Gemo. Waktunya selalu ketika jam patroli bang Rohmat, karena pada saat itulah bang Rohmat membukakan pintu kamar kakek Gemo.”

“Huh, gak nyangka gue. Sesuatu yang gue harap bakal menyengsarakannya justru malah semakin memakmurkannya,” gerutu Jono.

“Untuk memastikan lagi, sebaiknya kita periksa saja, pak, barang yang ada di kamar itu. Kalian membawa kan daftar barang-barang hilang yang telah dicuri di desa?” tanya Hans pada beberapa polisi.

“Iya mas, semuanya sudah lengkap.”

Kini mereka sudah tiba di depan kamar Gemo.

“Tolong buka, Mat,” pinta Ucup.

Rohmat segera membuka pintu itu, setelah kedua daun pintu itu terbuka lebar, mereka langsung dikejutkan oleh tumpukan uang yang bergepok, beberapa laptop, hape, dan gadget lainnya. Bahkan si pemilik sosok bayangan besar itu pun masih meringkuk di tengah-tengah tumpukan harta yang banyak itu.

“Ya, benar. Semua barang ini sesuai dengan data barang hilang dari desa sebelah,” ucap salah seorang polisi yang memeriksa barang-barang itu. Sementara polisi yang lainnya mengamankan sosok yang sedang mendengkur itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar