Rabu, 02 Juli 2014

Antara Mereka



Aroma capuccino menggantung begitu harum di ruangan itu. Obrolan ringan mereka yang duduk melingkar di meja, terdengar mendengung oleh gaung yang ditimbulkan oleh ruangan yang tidak terlalu luas dan lumayan tertutup. Cafe ini tidak begitu membosankan dengan adanya seorang biduan yang menyanyi di salah satu sudut ruangan. Tempat ini juga terlihat aktif dengan waiters-waiters ramah yang mengambil dan mengantar pesanan pelanggannya. Seperti Mawar salah satunya.

“Oke, jadi machiato, coffe latte, dan beef sandwich satu ya? Tunggu sebentar ya mba,” Mawar kemudian bergegas ke belakang.

“Nih, mba!” Mawar langsung duduk setelah menyerahkan daftar pesanan itu kepada Richiya, barista yang bertugas di belakang mesin espresso. “Malam ini banyak sekali ya pelanggannya.”

“Nih, machiato satu,” Putri juga menyerahkan pesanan kepada Richiya, tapi dia langsung keluar lagi melayani pelanggan. “Ayo Maw, jangan duduk-duduk saja! Pelanggan masih banyak tuh!”

“Iya bentar!” sahut Mawar, kemudian dia menghela nafas panjang.

“Haha... kenapa kamu, Maw? Habis mencangkul berapa sawah?” ledek Richiya yang melihat Mawar kelelahan. Tangannya tetap sibuk menuang kopi dari mesin.


“Hu..” Mawar melempar serbet yang kebetulan ada di dekatnya, namun serbet itu jatuh sebelum mencapai sasaran. “Kamu sih enak diam di sini saja, tidak jalan ke sana ke mari seperti kami!”

“Eh, siapa bilang enak? Pegal tau berdiri lama di sini. Sama saja kok, kalian banyak menerima pesanan, aku juga banyak bikinin pesanan mereka. Bukan begitu?”

“Eh? Benar juga ya,” sahut Mawar dengan muka polos.

“Udah, nih antar,” Richiya menyerahkan pesanan yang sudah dipinta Mawar.

Mawar bergegas membawanya ke meja pelanggan yang tadi memesan. Tidak lupa dia tersenyum kepada pelanggannya. “Silakan, mba...”

“Eh Maw, habis kerja kita jalan ke Balat yuk,” Budi, waiters yang lain mensejajarkan langkah dengan Mawar. “Kebetulan malam ini ada pasar malam di sana.”

“Hmmm...” Mawar melirik Putri.

“Ikut!” Putri mengacungkan tangannya sambil tersenyum lebar.

“Boleh,” jawab Mawar kemudian pada Budi.

*

Ruang Terbuka Hijau Banta Lebat. Mereka biasa menyebutnya RTH Balat, atau Balat saja. Kini penuh oleh tenda-tenda yang menjual berbagai benda, dari perabot rumah, pakaian, mainan, sampai obat-obatan tradisional tersedia di sana. Di salah satu sisi Balat, banyak wahana permainan, seperti komedi putar, kincir sangkar burung, bahkan rumah hantu. Namun ketiga sahabat itu lebih tertarik kepada kuliner yang tersedia di pasar malam tahunan ini. Mereka memilih warung Soto Banjar untuk menghangatkan perut yang kosong, perasan jeruk Limau Kuit membuat cita rasa Soto Banjar semakin meningkat.

“Hmm.. sluurrp.. malam ini Mawar yang bayar kan?” goda Budi pada Mawar sambil menghirup sotonya.

“Yee... kamu yang ngajakin masa aku yang bayar?” sebuah pukulan berhasil diberikan Mawar ke pundak Budi. Budi hanya tertawa.

“Kalau Budi gak mau bayarin, kita kempesin saja ban motornya, Maw!” celoteh Putri juga.

“Hu um,” Mawar menjawab sambil menyuap soto.

“Dasar preman! Iya, iya, aku bayar kok.”

“Mantap! Kebetulan aku sudah habis nih,” Putri melapor.

“Kalau begitu baca doa setelah makan dong. Ayo barengan sama aku, aku juga habis nih,” ajak Mawar.

“Aku juga, aku juga,” dengan cepat, Budi menghabiskan sotonya.

Mereka kemudian membaca doa bersama. Karena Budi laki-laki, dia yang memimpin doa, meskipun sebelumnya bergulat terlebih dahulu dengan Mawar agar dia mau memimpin doa. Setelah membaca doa sehabis makan, Budi membayar ke kasir. Mereka ke motor masing-masing, bersiap untuk pulang.

“Emm, Maw...” ucap Budi agak malu-malu, dia mengambil sesuatu dari ranselnya.

“Iya?” jawab Mawar seadanya, Putri menyenggolnya.

“Ini buat kamu,” Budi menyerahkan sebuah bingkisan kecil yang dibungkus rapi dengan kertas kado. Kemudian dia langsung pulang. “Aku duluan ya, assalamu alaikum.”

“Wa alaikum salam wa rahmatullah...” jawab Mawar dan Putri bersamaan.

Putri tersenyum nakal pada Mawar, Mawar hanya diam dengan muka yang memerah.

*

“Kamu tuh kalau masak yang benar!” sebuah pecahan kaca terdengar mengiringi bentakan laki-laki itu.

Mawar yang sudah hendak membuka pintu, tertahan geraknya oleh suara dari dalam rumah. Terlebih setelah isakan seorang perempuan terdengar dari dalam. Mawar hanya menghela nafas, ini bukan yang pertama kali. Semacam sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Dia kemudian menguatkan hatinya, lalu masuk.

“Assalamu alaikum,” dia mengucapkan salam sekadarnya. Berlalu begitu saja tanpa memperdulikan kebrutalan ayahnya.

“Ini lagi! Kamu sudah dilamar orang, seharusnya kamu jangan keluyuran lagi!” dari ibu, ayah beralih ke Mawar.

“Saya kerja ayah...” suara Mawar berhasil keluar, meski sempat tercekat di kerongkongan.

“Berani menjawab kamu heh!?” ayah menghampiri Mawar. Mawar hanya diam, tertunduk dalam isaknya.

“Ayah...” panggil ibu.

Sebuah tamparan keras melayang ke wajah Mawar, sampai-sampai Mawar terduduk oleh tamparan itu. Goresan merah membekas di tulang pipinya.

“Ayah!!” seru ibu lagi.

Mawar memandang dengan sedih pada ayahnya. Matanya berbinar.

“Itu untuk anak yang tidak tahu diri!” ucap ayah, sangat dekat dengan muka Mawar, sampai-sampai aroma alkohol tercium olehnya.

Mawar kemudian berlari ke kamarnya. Meninggalkan kebisingan yang hampir setiap minggu mengusiknya. Di kamarnya, dia membenamkan tubuh beserta kesedihannya ke tempat tidur. Dalam keadaan seperti ini, HP selalu menjadi media pelarian. Dia mengambilnya dari tas, berniat melaporkan keadaan pada calon suami.

Mawar sudah dilamar seseorang sebenarnya, tapi karena dia masih mencintai pekerjaannya sebagai waiters, dia belum meninggalkan pekerjaannya. Kalau tidak ada aral melintang, pernikahan mereka akan dilaksanakan satu minggu lagi. Beruntung, calon suaminya mengijinkan Mawar untuk tetap bekerja sebelum pernikahan mereka.

“Say, ayah sama ibu bertengkar lagi nih...” tulis Mawar melalui SMS.

Agak lama juga Mawar menunggu SMS balasan, sampai-sampai dia mulai mengantuk. Kalau bukan karena nada dering HP-nya berbunyi, mungkin saja dia sudah tertidur.

“Rozan!” seru Mawar menyebut nama calon suaminya. Namun dia segera dikecewakan setelah melihat nama pengirim SMS itu: WaitersBudi. “Oh, Budi ternyata? Kamu kemana sih, Zan...? Yah, mungkin di tempatnya sekarang sedang tidak ada sinyal.”

“Gak bisa tidur nih... kamu bagaimana?” begitu SMS Budi.

“Belum ngantuk. Ibu sama ayah bertengkar lagi.”

“Hmmm... tabah ya, Maw. Semoga suatu saat ayah kamu akan membaik. Untuk sementara, sebaiknya amankan ibu kamu, atau setidaknya kamu yang cari aman. Hehe... eh, ngomong-ngomong, yang tadi sudah dibuka belum?”

Mawar kemudian teringat dengan bingkisan pemberian Budi ketika di Balat tadi, dia merogoh lagi tasnya.

“Eh iya, ini mau aku buka.”

“Sip. Kebetulan aku juga sudah ngantuk nih. Sampai jumpa besok, Maw.”

Sesaat, kotak dengan bungkus kado bermotif bunga biru itu hanya dipandangi Mawar. Dia mengingat-ingat, kapan terakhir kali Rozan memberinya kado? Ah, sepertinya lamarannya itu pun sudah lebih baik dari seribu kado, pikirnya.

Dengan hati-hati bungkus biru itu dibukanya. Ada kotak polos di sana, lagi-lagi Mawar mengamatinya, membolak-baliknya, hingga akhirnya dia buka juga kotak itu. Sebuah mug keramik putih. Ada gambar-gambar aneh di sekeliling mug itu yang tidak dimegerti oleh Mawar, namun benda itu begitu lucu baginya. Sambil tersenyum, mug itu dipajangnya di meja kamarnya.

*

Sebuah nada sumbang membangunkan Mawar dari tidurnya. Masih setengah terjaga, Mawar mencari sumber suara itu dengan tangannya di sekitar kepalanya. Sebuah SMS ternyata membuat HP-nya berbunyi.

“Kamu sembunyi saja di kamar. Tetap awasi keadaan, kalau ayah main tangan, lapor tetangga saja. Jangan lupa zikir,” SMS dari Rozan.

“Uh, kok SMS-nya baru masuk sih?” gumam Mawar. Namun dia tidak membalasnya.

Mawar bangun, duduk di tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul 4.58, tidak lama lagi azan subuh. Hari ini Mawar mendapat shift pagi.

*

Ruangan cafe bersih, harum, meja pun sudah rapi. Mawar duduk di salah satu kursi pelanggan. Tatapannya kosong, masih memikirkan kelakuan ayahnya tadi malam.

“Eh, jangan injak itu! Itu masih basah tau!” Putri membentak seseorang di luar.

“Pel saja lagi, neng. Haha...” Budi masuk. Lalu melambai pada Roy, salah satu barista lain yang kini sedang sibuk mengelap mesin kasir. “Halo guys! Tuh benda akan terisi penuh hari ini!”

“Halah kamu ini. Jangan ngomong saja, tuh sampah di belakang kenapa tidak dibuang? Seharusnya kan malam tadi kamu buang,” protes Roy.

“Ups, lupa. Oke, oke, segera kubuang,” Budi bersiap berlari ke belakang, namun sesuatu di wajah Mawar menahannya. “Eh, Maw. Itu..? Oke, aku kebelakang dulu ya.”

Lamunan Mawar buyar, dia baru sadar ada Budi di hadapannya setelah Budi berlari ke belakang.

“Itu bekas malam tadi ya?” kurang lebih lima menit, Budi kemudian menghampiri Mawar, kali ini di balik meja kasir.

“Hu um,” Mawar mengangguk.

“Ini, coffe moccachino buatanku pasti bisa bikin kamu baik lagi,” Budi yang sedikit memiliki kemahiran seorang barista, membuatkan segelas moccachino untuk Mawar, ada simbol hati di permukaan moccachino itu. Mawar menerimanya.

“Ehm, jangan lupa bayar ya!” goda Putri tiba-tiba.

“Huh kamu! Eh, sore ini, sehabis kerja, kita ke mall yuk!” kata Budi.

“Dasar bocah boros! Uang gajihan kamu biasanya bertahan berapa hari sih, Bud? Awas nanti kalau ngutang ke aku ya,” timpal Putri.

“Mau ikut gak nih?” Budi mengancam, dia kemudian memandang Mawar. Menagih jawaban dari perempuan yang satu itu.

“Ya sudah, aku ikut,” jawab Putri. Mawar mengikuti dengan anggukan.

*

“Hhh... capek juga ya keliling mall,” desah Budi, terduduk di kursi di salah satu sisi mall.

“Huh, aku kira ke mall mau ngapain, ternyata hanya foto-foto! Foto-fotonya pakai kamera hape lagi, kalau ke photo box sih mending. Tau begini aku mending ngeblog di rumah!” Putri mengomel bagai burung beo tidak makan seminggu, dia sungguh kesal pada Budi.

“Haha... santai bu, yang penting teman kita yang di sana bisa tersenyum,” tunjuk Budi pada Mawar.

Benar saja, wajah Mawar kini tampak lebih cerah daripada pagi tadi. Senyumnya terjaga, hingga nada dering HP-nya menyita perhatiannya lagi, sebuah SMS. Sementara Budi dan Putri adu mulut, Mawar membuka SMS itu.

“Tinggal tiga hari lagi nih, say. Gak sabar ngucap ijab kabul untukmu ^_^” dari Rozan. Sebuah pesan singkat yang tiba-tiba memaksa Mawar berfikir, untuk apa dirinya sekarang berada di mall ini.

“Maw?” panggil Budi.

“Eh? Iya Bud?” setengah terkejut, Mawar menyahut.

“Ini. Tolong bacanya di rumah saja ya.”

“Ciye, surat cinta nih ye...” lagi-lagi Putri menggoda mereka.

“Put!” Mawar menyenggolnya, Putri langsung diam. Kertas itu diterima Mawar. “Apa nih, Bud?”

“Ah, entar juga tau kok,” dia tersenyum.

*

Di kamarnya, Mawar membuka lipatan kertas itu, kali ini Putri menyertainya.

Assalamu alaikum,
Dear bungaku yang selalu terjaga, untuk dia yang selalu kurindu senyumnya.
Sejak saat aku bergabung di cafe itu, aku langsung merasa aku berada di surga, bukan karena gajihnya yang tinggi, atau interiornya yang menarik. Tapi karena aku lihat ada bidadari di dalamnya.

Setiap malam, tidak ada yang selalu kukhawatirkan keadaannya selain bidadari itu. Aku tau ada yang menjelaga di kehidupannya, ada sarang laba-laba di pikirannya. Aku ingin membuang jelaga dan sarang laba-laba itu. Aku ingin mempersembahkan hidupku untuknya.

“Maw?” ucap Putri yang merasa mulai ada indikasi bahaya. Mawar hanya diam, meneruskan membaca surat itu.

Aku tidak peduli ombak sebesar apa yang akan kuarungi. Aku tidak peduli seganas apa monster yang akan kuhadapi. Menjaganya selalu agar tetap aman.

Ah, mungkin intermezo ini terlalu aneh. Ini karena bayanganmu yang mengganggu di kertasku, BUNGA. Jika kamu mau penjelasan, aku tunggu besok malam di atap cafe. Empat mata. Akan kutunggu setiap malam, hingga kamu hadir di sana.

Jelas, ini adalah panggilan untuk sebuah penembakan. Undangan untuk sebuah tunangan. Namun ini bukanlah cara yang baik, seharusnya Budi langsung datang kepada orang tuanya kalau memang mau melamar Mawar. Mawar dan Putri tahu itu.

“Bagaimana nih Maw?” Putri minta tanggapan Mawar sekarang, dia tidak mau sahabatnya salah memilih.

*

22.40. Atap atap cafe.

Siluet seseorang sedang duduk berdengkul terbentuk oleh purnama. Cafe yang bertempat di ruko tiga lantai itu membuat benda apapun yang ada di atasnya terlihat dengan jelas tertimpa purnama. Seseorang kemudian menghampiri orang yang duduk itu, masih ada jarak yang jauh, dia berhenti.

“Bud, sudah lah. Ini sudah hari keenam kamu menantinya...”

“Enggak! Enggak, Put!! Aku akan tetap menunggunya seperti apa yang kutulis di surat itu!”

“Tapi Budi, dia sudah meninggalkan ini untukmu. Sebaiknya kamu membacanya,” Putri tetap berusaha membujuknya. Surat yang ditinggalkan Mawar sudah beberapa kali dia coba sampaikan.

“Aku mau dia yang datang langsung! Aku tidak mau melalui surat!” teriakan itu dikeluarkan Budi tanpa ragu. Tanpa takut didengar orang-orang.

“Ah, sudah lah! Aku capek dengan pecundang sepertimu! Sekarang terserah kamu Bud, kamu mau baca silakan buka. Kalau tidak mau, kamu tidak akan tahu selamanya jawaban dari Mawar!” Putri meletakkan surat itu di tempatnya berdiri sekarang, kemudian meninggalkan Budi sendirian.

Budi kembali membenamkan wajah ke dalam dekapan tangan dan lututnya. Gerimis kini menemani kesendiriannya, hingga penantian panjang pada malam-malam berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar