Namaku Arie
Halilintar, aku terlahir pada tanggal 26 Januari di desa Bakarung, salah satu
desa kecil di Kalimantan Selatan di daerah kabupaten Hulu Sungai Selatan. Perlu
kalian catet, nama ayahku adalah Achmad Gafuri, dan mamaku Rusmilawati. Dua
orang yang sangat berharga bagiku.
Sekolah pertamaku
adalah TK Pertiwi XIII Bakarung Tengah, setelah itu aku melanjutkan ke SD Negri
Bakarung tengah. Tingkat SLTP, aku memilih ke MTs Negri Angkinang, lalu ke SMA
Negri 2 Kandangan. Kemudian kuliah selama kurang lebih tiga tahun di ATPN
(Akademi Teknik Pembangunan Nasional) Banjarbaru, dengan jurusan Teknik
Listrik.
Aku pernah aktif
di organisasi KAMMI Komisariat Kampus Banjarbaru sebagai sekretaris umum dan
staf departemen ekonomi. Selain itu aku juga aktif di FLP (Forum Lingkar Pena)
Cabang Banjarbaru sebagai wakil ketua.
Kalau kalian
bertanya tentang hobi, hobiku sangat banyak. Aku saaangat suka main game! Tapi
game sering kali membuatku lupa waktu.
“Arie! Sudah
adzan, ayo shalat dulu!” tiba-tiba ayahku muncul dari balik pintu kamar. Aku
melepaskan stick controller dengan sedikit rasa kesal.
Aku mulai
meninggalkan game. Aku juga suka catur, bermain catur serasa kita memimpin
sebuah pasukan untuk menghancurkan kerajaan musuh.
“Skak mat!” anak
kecil itu menciptakan kemenangannya yang keenam dalam waktu tiga puluh menit
terakhir. Frustasi karena kalah terus, aku lebih memilih menggambar sebagai
hobiku yang selanjutnya.
“Arie
Halilintar!” bu Erni, guru kesenian memanggilku. Mengembalikan buku gambar yang
sudah selesai dinilainya. Jleb!! Serasa ditikam deh kalo liat nilai begini.
Meskipun ini terjadi setiap minggu, tetap aja sakit rasanya. Nilai menggambarku
tidak pernah lebih dari enam!
Merasa stres dan
hampir gila dengan kegagalan itu, aku memutuskan menulis sebagai hobi terbaru.
Ternyata menulis itu membuatku harus membaca, sehingga aku memiliki lebih
banyak pengetahuan. Tidak kuduga sebelumnya, ternyata dengan menempatkan diri
sebagai penulis, aku jadi membuka lagi hobi-hobiku sebelumnya untuk memancing
imajinasiku keluar. Yang paling mengasyikkan, dengan menulis kita bisa
menyampaikan kebaikan kepada orang, sehingga itu bisa menjadi investasi amal
untuk kita. Salah satu amal yang tidak terputus setelah kematian adalah ilmu
yang bermanfaat. Baik itu ilmu untuk diri kita sendiri, maupun ilmu yang kita bagikan ke orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar