Mereka tidak menyadari, beberapa personil polisi sedang mengendap-endap menuju tempat mereka. Beberapa yang lain menuju bagian samping pub. Masing-masing mereka memegang sepucuk pistol dengan kedua tangannya. Kini mereka menempelkan tubuh pada tembok. Bersiaga untuk sebuah penggerebekan. Security tempat itu membolos entah kemana.
Seorang polisi muda yang sudah berkeringat dingin, memandang kepada inspektur yang tepat ada di hadapannya, mereka berada di pintu utama pub. Inspektur itu mengangguk.
Dengan cepat dan tidak terduga, mereka mendobrak pintu itu.
“Semuanya menghadap Tembok!” perintah polisi muda itu.
DORR! Sebuah tembakan ke langit-langit dilepaskannya.
“Hey, apa-apaan kamu?” tegur inspektur. Polisi muda itu diam saja.
“Hey, apa itu!?” teriak salah seorang pengunjung pub, tidak terima dengan adanya sebuah tembakan.
“DOR!” tiba-tiba polisi muda itu ambruk, darah keluar dari kepalanya.
Keadaan yang tadinya terkendali berubah menjadi mencekam. Semua yang ada di ruangan itu langsung mencari tempat berlindung masing-masing. Terjadi perlawanan dari pihak musuh.
Ada sekitar tiga orang bersenjata di sana. Kini terjadi baku tembak antara polisi dan tiga orang itu. Hanya berlindung di balik tiang dan meja, dua kelompok itu sesekali keluar dari persembunyian untuk melepas tembakan.
“Pusat, pusat. Oprasi Hutan butuh bantuan, terjadi baku tembak di titik oprasi!” melalui HT, inspektur meminta bantuan.
Peluru masih melayang di atas kepala mereka. Dengan naluri perangnya, inspektur itu berdiri, bersiap menembak. Tepat ketika dia berdiri, seseorang keluar dari persembunyiannya, berlari menuju pintu keluar.
“Dor!”
Pemuda itu tertembak.
Raungan sirene mulai terdengar di luar, semakin nyaring, dan komando seseorang dari mega phone menggema.
“Tempat ini sudah dikepung! Semuanya silakan keluar dengan tertib dan tangan di kepala!”
Ketiga pengedar barang haram itu akhirnya diringkus, beberapa pengunjung keluar dengan selamat. Kecuali seorang yang mencoba keluar tadi, dan polisi muda yang melepaskan tembakan pertama.
*
“Iya, aku sangat menyesal, Burhan,” katanya dingin. Mengetik sesuatu di laptopnya. Sedangkan orang bernama Burhan itu masih berdiri di hadapannya, berharap ada jawaban lebih atas kematian anaknya.
“Hanya itu? Hanya itu jawabanmu setelah menembak mati anakku?” Burhan mulai geram, dia menghentak meja inspektur.
Inspektur menghentikan pekerjaannya.
“Lalu, apa yang kamu inginkan? Salah anakmu sendiri, kenapa harus bergaul di tempat itu?” dia kembali ke pekerjaannya. “Kalau urusanmu sudah selesai, silakan keluar.”
“Kau tau? Dia baru saja lulus SMA, dia semangat sekali untuk meneruskan kuliah ke teknik informatika. Baru kemarin rasanya kami bercengkerama bersama, melukis cita-cita, dan menyusun langkah masa depannya yang lebih baik dariku. Dan hanya karena satu logam dari orang bodoh, semuanya itu hanya bagai debu pada batu yang terhujam hujan!” Burhan berjalan ke pintu keluar.
“Yah... bagaimana pun buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau kau tidak berhenti dari pekerjaanmu, mungkin kau juga akan bernasib sepertinya,” inspektur berucap sesaat sebelum Burhan mencapai pintu. Burhan terdiam sejenak, lalu membuka pintu, dan akhirnya keluar.
*
Di ujung ruangan itu duduk Burhan di tempat yang sedikit lebih tinggi, juga mengenakan jas hitam. Tiap-tiap orang di ruangan itu disuguhi sloki dan sebotol minuman yang menghangatkan.
Hampir semuanya juga meracuni diri dengan tembakau yang dibakar di bibirnya. Kini semuanya menanti Burhan membuka pembicaraan.
“Seminggu sudah berlalu, dan aku masih tidak bisa merelakan anakku,” ratap Burhan, cerutu dicomot dari mulutnya sendiri.
“Kami turut berduka, bos,” ucap mereka dengan sedikit membungkuk.
“Aku sudah menghubungi Raffi, bos. Katanya tergantung bayaran,” orang yang duduk terdekat dengan Burhan melapor. Dia berbicara dengan memandang Burhan.
Burhan terkejut senang, setidaknya itu yang tergambar di wajahnya. Soalnya Raffi merupakan pembunuh bayaran yang paling susah untuk direkrut.
“Benarkah? Kapan kami bisa mengobrol?”
“Dia sudah menunggu di lobi sejak tadi,” jawabnya lagi.
“Oke, kalau begitu kita bubar saja, suruh Raffi ke ruanganku.”
Di kursi kebesarannya, Burhan duduk menghadap jendela lebar di belakang meja kerjanya. Terdengar ketukan, Burhan memutar kursinya.
“Di sini Raffi, bos,” ucap orang di luar.
“Masuk,” jawab Burhan singkat.
Pintu terbuka, salah seorang berjas memegang gagang pintu, dan mempersilakan seseorang berpiyama motif ular piton untuk masuk. Burhan mengibaskan tangannya, isyarat untuk si pembuka pintu agar meninggalkan mereka berdua.
“Kurasa Jaja sudah menjelaskannya padamu,” ucap Burhan tanpa basa-basi, bahkan salam.
“Boleh saya duduk, tuan?” pinta Raffi.
“Oh, silakan,” tunjuk Burhan pada kursi di seberangnya. Raffi duduk.
“Sebelumnya, saya turut berduka atas peristiwa itu. Lalu berapa bayaran yang akan saya terima?” matanya memicing pada Burhan, menimbulkan kesan menakutkan pada dirinya.
“Hahaha... belum apa-apa sudah minta bayaran. Memangnya kau sudah tau siapa targetnya, heh?”
Dengan gerakan cepat, Raffi berdiri. Ujung peredam pistolnya sudah menempel di pelipis Burhan.
“Saya bisa saja menggasak semua uang di brangkas anda kali ini. Jangan sekali-kali meledek saya,” bisiknya.
“Oke, aku suka gayamu,” Burhan tetap tenang, dia tersenyum. “Jauhkan dulu besi tua itu dari kepalaku. Akan ku bayar lima puluh juta untuk satu tembakan di kepala anak inspektur itu.”
Raffi menjauhkan diri, dia mundur beberapa langkah.
“Minggu depan anaknya akan menerima rapor kenaikan kelas. Biasanya ayahnya sendiri yang menemaninya. Tembak kepala anak itu ketika mereka sudah bersama.”
“Tujuh puluh juta,” Raffi minta lebih.
“Lima puluh.”
“Tujuh puluh atau saya bocorkan rencana anda,” Raffi tersenyum sambil mengangkat recorder kecilnya. “Saya lemparkan kaset ini ke kantor polisi, maka semuanya selesai.”
“Dasar
ular!” bentak Burhan. “Oke, aku kasih tujuh lima, tapi lakukan sebersih
mungkin, dan berikan kaset itu padaku!”
“Deal,”
mereka berjabat tangan.
*
Seperti
hari-hari biasanya, sekolah itu dipenuhi mobil-mobil mewah. Terlebih pada acara
kenaikan kelas seperti ini. Banyak orang tua yang tersenyum puas dengan hasil
belajar anaknya. Namun juga tidak sedikit yang membentak anaknya, hingga anak
itu menangis, pasrah dengan keadaan kecerdasannya.
Seorang
anak perempuan berlari sumringah dengan buku merah di tangannya, berlari kepada
seseorang berjaket hitam di samping mobil sedannya.
“Ayaaah,
aku rangking satu lagi, yah!” teriak anak manis itu dari jauh, sambil terus
berlari dan melambaikan rapornya.
Di
salah satu bangunan, Raffi sudah mempersiapkan senapannya. Melalui tele yang terpasang
di senjata itu, dia terus mengikuti kepala anak perempuan yang terus tersenyum
dari tadi.
Tiba-tiba
terlintas wajah anaknya. Sebuah senyuman yang sama dengan anak itu. Terpikir
untuk membatalkan aksinya, tapi dia terlanjur menerima duit dari Burhan. Kode
etik yang dia buat sendiri tidak mau dilanggarnya. Bidikan kembali terfokus ke
kepala anak itu.
Inspektur
tersenyum, berlutut, siap menyambut anaknya. Dia merentangkan tangannya.
Brhuk! Anak
itu terjatuh di depan ayahnya, hanya beberapa sentimeter. Darah bersimbah di
jasad anak itu.
Sambil membereskan barang-barangnya, Raffi meneteskan air matanya. Hatinya sungguh gundah kali ini. Padahal dia sudah banyak menembuskan logam ke kepala orang, namun hanya kali ini pikirannya terganggu.
“Errghhh!”
Raffi menggeram, semua barang yang sudah dibereskannya dihamburkannya begitu
saja. Dia berlari dari gedung itu.
Di
tengah kesibukannya menenangkan diri di warung, tiba-tiba terdengar suara azan.
Raffi terdiam, lalu instingnya menyuruhnya untuk memandang ke asal suara itu.
Sebuah kubah masjid terlihat. Secara tidak sadar, dia berdiri dan berjalan ke
arah masjid.
Seorang
bersurban tersenyum kepadanya. Raffi mendadak merasa sejuk. Kemudian dia
membasahi wajah dan tangannya, melakukan seperti orang-orang yang dilihatnya,
hingga Raffi ikut shalat zuhur berjamaah.
“...yang mengampuni dosa dan menerima tobat dan keras hukuman-Nya. Yang memiliki karunia. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nyalah semua makhluk kembali2,” demikian sebuah surah yang dibacakan ustad pada kultum setelah shalat berjamaah.
Raffi
kemudian mendatangi ustad itu.
“Ngg,
maaf, ustad...”
“Iya, ada yang bisa saya bantu, mas?” jawabnya tersenyum.
Raffi
memandang ke sekelilingnya, takut kalau ada yang mencuri dengar. “Apakah Tuhan
masih bisa menerima saya?”
“Insya Allah, mas, kasih sayang-Nya lebih luas dari murka-Nya.”
“Tapi
saya sudah membunuh banyak orang, saya sebelumnya adalah pembunuh bayaran!”
Raffi menekankan. Wajahnya serius, sehingga ustad itu langsung percaya.
Mendadak wajah ustad itu berubah pucat, dia tahu kalau pembunuh itu balasannya qisas, nyawa dibayar nyawa, gigi dibayar gigi. Sebagaimana yang tertulis dalam surah Al-Maidah ayat lima. Tapi dia takut mengatakan itu kepada orang yang kini ada dihadapannya.
“Ngg...nganu,
gini saja. Masalahmu itu berat saudaraku, apa kau siap mati?” dengan hati-hati
ustad itu menjawab.
“Jika itu harga yang harus saya bayar...” Raffi tertunduk.
“Baiklah,
semoga Allah mengampunimu. Dialah sebaik-baik pengampun. Ini,” ustad itu menyerahkan
sebuah kartu nama. “Kiai Daun, beliau seorang pengajar spiritual di desa Kujul.
Sebaiknya kau datangi beliau. Insya Allah beliau tau bagaimana yang
seharusnya.”
Raffi menerima kartu nama itu, dia memandang heran pada ustad.
*
Angin sepoi-sepoi menembus jeruji kayu pada jendela rumah sederhana itu. Membuat beberapa orang di dalamnya merasa nyaman belajar. Ada sekitar empat orang anak kecil di sana. Duduk bersila, dengan sarung sebagai pakaian bagian bawah, dan kopiah putih di kepalanya. Seorang berjubah dan kepala yang berlilit surban, berdiri di depan mereka sebagai penyampai ilmu. Tadinya tangannya sibuk menggoreskan kapur di papan tulis, namun kini dia terhenti, dan memandang jauh ke jendela.
“Ada
apa, guru?” sapa salah seorang anak, yang selalu curiga dengan sikap tidak
biasa dari gurunya.
Seseorang yang dipanggil guru itu tersenyum pada yang bertanya. “Seorang anak yang sudah puas berkubang di lumpur, sudah saatnya naik untuk mandi,” beliau kemudian menulis lagi di papan tulis. Meninggalkan penasaran pada muridnya.
*
Pemuda
dengan jaket kulit panjang, dan topi sombrero itu sesekali singgah di warung,
memperlihatkan kertas kecil di tangannya. Menanyakan alamat seseorang.
Beruntung, kali ini orang yang ditanya menunjuk ke suatu titik.
“Tujuh kilo lagi, mas. Tapi jalannya susah lho, tidak bisa pakai mobil, apalagi motor.”
Raffi
hanya diam, terus berjalan, dia memang tidak menggunakan kendaraan dalam
perjalanannya ini.
“Itu
dia!”
Sebuah
teriakan terdengar ketika Raffi sedang menyeberangi jeram sungai yang surut.
Beberapa polisi sedang memburunya.
“Diam di tempat!” teriak salah seorang anggota. Menodongkan pistolnya, beberapa yang lain juga menodong.
Raffi
mengangkat tangan, dia menyerahkan diri. Dua orang menghampiri, kemudian
memborgolnya.
“Tidak ku sangka penangkapannya semudah ini,” ucap inspektur. “Ku kira akan ada perlawanan yang sangat sengit tadi.”
“Dia
bahkan tidak membawa sepucuk pun senjata, pak,” jawab salah satu anggota. Kini
Raffi siap dinaikkan ke mobil polisi.
“Ya, masukkan saja dia. Nanti kita interogasi...”
Bhruk!
Tiba-tiba Raffi terjatuh, kepalanya ditembus sebuah peluru.
Semua polisi langsung bersiaga dengan pistol masing-masing. Sementara sang penembak meninggalkan posnya dari tempat yang tidak diketahui.
*
Kapur
tulis itu terjatuh.
“Ada apa, guru!?” tanya seorang murid yang selalu memperhatikan hal ganjil dari sang kiai.
Kiai itu tersenyum sambil memungut kapur. “Anak yang telah puas
berkubang, akhirnya dimandikan oleh malaikat."
1 Alas duduk khas Kalimantan semacam karpet
yang terbuat dari anyaman rotan
2 Q.S. Ghafir: 3 (Al-Mu’min)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar